Warga Pedalaman Demo Dengan Upacara Adat

oleh -162 Dilihat

demo adat dayak webSAMARINDA, BERITAKALTIM.com – Puluhan warga adat dari Desa Long Isun, Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur (Kaltim) berunjuk rasa di depan kantor PT Kemakmuran Berkah Timber yang terletak di Jalan Antasari, Samarinda, Kaltim. Mereka menuntut pembebasan salah seorang warga desa yang ditahan polisi atas laporan perusahaan itu saat meminta pembicaraan ulang soal tapal batas desa.
Aksi demonstrasi sedikit unik. Sebab, unjuka rasa yang dilakukan tidak hanya melalui orasi dan pengerahan massa, namun juga upacara adat.
Sebelum menuju ke depan kantor perusahaan, warga memulai dengan upacara adat Suku Dayak. Aksi kemudian dilanjutkan dengan long march menuju kantor perwakilan perusahaan. Setibanya di depan kantor perusahaan pemegang HPH itu, massa kemudian berorasi.
“Aksi unjuk rasa ini dilakukan sebagai bentuk penyikapan atas kriminalisasi masyarakat adat. Bahwa keberadaan dan eksistensi masyarakat adat harus diakui. Aksi unjuk rasa dengan mengerahkan massa ke kantor perusahaan adalah puncak dari pihak perusahaan yang tidak mengindahkan permintaan masyarakat adat Long Isun,” kata juru bicara Koalisi Kemanusiaan Untuk Pemulihan Adat, Sukma Niar Kosasih, Kamis (9/10/214).
Seorang warga Desa Long Isun bernama Tekwan Ajat ditahan polisi atas laporan PT Kemakmuran Berkah Timber. Tekwan dan beberapa warga desa lainnya sekira Bulan Mei 2014 lalu mendatangi wilayah kerja perusahaan ini. Mereka meminta kejelasan soal tapal batas karena salah wilayah yang ditebang merupakan hutan adat Desa Long Isun.
“Dari hasil aksi unjuk rasa tadi, pihak perusahaan sepakat untuk membebaskan Tekwan Ajat tanpa syarat. Keinginan kita terpenuhi. Soal sengketa hutan adat, akan dibahas lagi nanti,” kata Sukma.
Usai tercapainya kesepakatan, masyarakat adat kembali menggelar upacara adat Dayak Bahau Busang. Upacara ini merupakan upacara sumpah dan janji. Perwakilan perusahaan diminta mengikuti upacara ini sebagai bentuk pengambilan sumpah dan janji.
Petinggi adat memimpin upacara ini, di dampingi Direktur Produksi PT Kemakmuran Berkah Timber, R Dwi Partanto. Usai dibacakan mantra, perwakilan perusahaan bersama perwakilan warga memegang piring yang sebelumnya dipegang petinggi adat. Kemudian ditutup dengan meminum air di gelas yang sama.
Soal sengketa tapal batas di hutan adat, pihak PT Kemakmuran Berkah Timber membantah jika mereka telah mencaplok hutan adat milik Desa Long Isun. Menuru R Dwi Partanto, hutan adat yang disengketakan masih berada di kawasan Desa Naha Aruq.
“Kami berpegangan pada SK Bupati Kutai Barat terkait tapal batas itu dan hutan adat itu masuk ke dalam Desa Naha Aruq. Kami sudah melakukan sosialiasi dengan warga desa itu dan tidak ada hambatan,” kata Dwi.
Dia pun heran ada protes dari warga Desa Long Isun. Payung hukum yang dipegang PT Kemakmuran Berkah Timber cukup kuat dan memiliki legalitas.
“Kami bekerja sesuai peraturan pemerintah. Kami bekerja di Desa Naha Aruq, bukan di Desa Long Isun. Kami ini perusahaan yang sudah diakui keberadaannya berdasarkan sertifikasi, berdasarkan penilaian. Penialain yang kami dapat adalah baik, sehingga rencana kerja bisa disetujui,” paparnya.
Soal warga Desa Long Isun yang ditahan polisi, Dwi mengaku itu merupakan kinerja kepolisian. Pihaknya hanya melaporkan ada peristiwa kedatangan 17 warga ke areal kerja PT Kemakmuran Berkah Timber ke Polres Kuta Barat. Akibatnya, aktivitas perusahaan terhenti di areal yang diakui sebagai hutan adat.
“Tentu kepolisian punya pertimbangan mengapa ada penahanan. Sudah pasti ada pidana yang dilanggar,” katanya.#aw

No More Posts Available.

No more pages to load.