Masalah Pertanian di Kukar Soal ‘Mencetak’ Jumlah Petani

oleh -84 Dilihat

salah satu lahan sawah di kukar (1)TENGGARONG, BERITAKALTIM.COM– Keinginan menjadikan Kutai Kartanegara sebagai lumbung padi didukung dengan hamparan lahan dan sumberdaya manusianya. Program perluasan area tanam melalui percetakan sawah baru yang dilakukan setiap tahun oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan (Distan) dan Hortikultura mesti dibarengi dengan pertambahan jumlah petani atau tenaga penggarap.

Sebagaimana pernah disampaikan Kepala Distan dan Hortikultura Kutai Kartanegara, Sumarlan J SP MP beberapa waktu lalu, perluasan area tanam dengan mencetak sawah-sawah baru memang salahsatu program yang dilakukan, dalam rangka meningkatkan angka produksi padi. Dalam beberapa tahun terakhir, program percetakan sawah baru dilakukan melalui pembiayaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) maupun APBD.

Namun khusus untuk APBD dari anggaran kabupaten, program percetakan sawah tidak serta merta dilakukan tanpa melihat efektifitas dari lahan baru yang dicetak, misalnya ketersediaan petani atau tenaga penggarapnya. Sekalipun kegiatan percetakan sawah baru merupakan aspirasi masyarakat petani, namun menurut Sumarlan pihaknya perlu untuk melihat lebih jelas di lapangan. Karena terkadang kelompok yang mengusulkan percetakan sawah baru juga merupakan kelompok petani yang juga pernah mengusulkan percetakan sawah tahun sebelumnya. Artinya, pertambahan luasan area tanam belum disertai dengan penambahan jumlah tenaga penggarap.

Mengenai program percetakan sawah yang diturunkan dari pembiayaan APBN, Sumarlan mengatakan harus dilaksanakan karena sudah diprogramkan dari pusat, namun hendaknya program tersebut disertai dengan penambahan jumlah petani penggarap. Hal itu dilakukan agar sawah-sawah baru yang dicetak nantinya benar-benar memberikan manfaat dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Untuk percetakan sawah baru sendiri, sebenarnya ada beberapa kendala di lapangan, misalnya ketersediaan lahan yang layak. Menurut Sumarlan, terkadang lahan yang disediakan petani letaknya terpisah-pisah satu sama lainnya, atau tidak satu hamparan. Hal itu tentunya menjadi pertimbangan saat perencanaan pelaksanaan detailed engineering design (DED).

Namun yang pasti, untuk perluasan area tanam memang perlu terus dilakukan sejauh lahan tersedia, demi meningkatkan produksi padi dalam rangka mempertahankan peningkatan produksi padi 5 persen pertahun guna mendukung program ketahanan pangan nasional.Namun hal itu mesti disertai dengan penambahan jumlah petani, karena petani yang ada khususnya di Kutai Kartanegara sudah semakin berkurang akibat tidak adanya regenerasi.

Menurut Sumarlan, salahsatu solusi agar terjadi penambahan jumlah petani penggarap adalah dengan program transmigrasi. Apalagi jika mengingat beberapa lokasi sentra pertanian tanaman pangan di Kukar saat ini khususnya padi merupakan kawasan transmigrasi, baik sentra tanaman pangan di Kecamatan Tenggarong maupun Tenggarong Seberang, termasuk Kecamatan Kota Bangun dan Muara Kaman. #Wn

No More Posts Available.

No more pages to load.