Pola Asuh Penting Jauhkan Remaja dari Depresi

oleh -73 Dilihat

SAMARINDA,BERITAKALTIM.com – Remaja merupakan masa transisi perkembangan fisik dan mental yang terjadi antara masa anak-anak dan masa dewasa. Problema yang terjadi pada hal ini ialah search for identity (dorongan untuk unjuk diri, pencarian identitas) dan role confusion (menghadapi kebingungan peran). Umumnya terjadi pada usia 12 sampai 18 tahun.
Pada masa inilah, kata Yahya Anja, selaku Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, orangtua punya posisi kuat untuk menegaskan arahan. Namun tetap memberikan ruang kreativitas untuk si anak agar mengeksplorasi potensinya.
“Pada masa inilah, orangtua dituntut untuk berperan penting dalam mengeksplore mereka ke jalur yang benar,” kata Yahya –sapaan akrabnya.
Banyak bertebaran di media lokal maupun nasional yang menayangkan praktik dan percobaan bunuh diri yang dilakukan remaja. Masalahnya terkadang sepele menurut kita. Namun jika melihat problematikanya, banyak orangtua yang  mengakumulasi dan tidak mempertimbangkan masalah mereka sehingga hal-hal yang sepele itu menjadi besar yang akibatnya teramat sangat merugikan.
“Jika ini masih ditambah dengan respon orangtua yang negatif, misalnya ngomel, mengancam, atau memboikot uang saku, bukan tidak mungkin anak terkena depresi. Menurut teori parenting-nya, pola asuh ini biasa disebut otoritarian yang berakibat sangat merugikan,” sambung Yahya.
Padahal, di masa remaja inilah orang tua dituntut punya peran aktif untuk mengarahkan anak menjadi lebih baik ke depan. Banyak cara bisa dilakukan, misalnya lebih menghargai anak dan mempelajari kontribusi diri dalam masalah yang terjadi. Selain itu berpikirlah bahwa mereka itu adalah amanat (barang berharga yang dititipkan Tuhan) kepada kita, bukan berpikir sebagai pemilik sehingga memudahkan kita menjadi otoriter atau menekan dari atas.
Terpenting ialah, libatkan mereka dalam tanggungjawab atau peranan tertentu yang membuat mereka merasa berharga dan dihargai orangtua. Mulailah melibatkan mereka ke dalam beberapa keputusan keluarga.
“Jangan lupa juga menempuh cara-cara yang non-empiris, misalnya mendoakan mereka, menjauhkan mereka dari dana yang tidak halal, memperbanyak sedekah (menolong orang lain) atau menjalin silaturahmi dengan keluarga,” imbau Legislator Partai Demokrat ini. (adv/tos/oke)

Teks foto: slamet ari wibowo yahya anja

No More Posts Available.

No more pages to load.