BeritaKaltim.Co

Vernakular Dayak yang Terabaikan

nartoOleh : Dr Sunarto Sastrowardojo

Saya sebenarnya, ingin mencari pembandingan antara Lamin Dayak Benuaq dengan Machiya (townhouse) dan Noka ( rumah petani pedesaan ) yang merupakan dua kategori arsitektur vernakular Jepang. Situ bangunan ini disebut Minka atau rumah tinggal rakyat. Konsepnya sebagai rumah tinggal nyaris mirip dengan Lamin. Tapi ada tiga permasalahan mendasar mengapa penyandingan pembanding antara keduanya tidak serta merta dapat saya lakukan.

Pertama Machiya, yang merupakan townhouse, rumah rakyat di tengah kota dan memiliki konsep asli sebagai tempat tinggal dan tempat usaha masyarakat itu punya ensiklopedia, bahkan lengkap. Sementara Lamin Benuaq dan lamin lamin lainnya yang ada di pedalaman Kalimantan Timur nyaris tidak memiliki catatan tertulis apa pun. Bahkan hanya untuk membandingkan, mana yang lebih dulu ada, Machiya-Noka atau Lamin. Sulitnya amit amit.

Machiya di Kyoto, kadang-kadang disebut kyomachiya yang mendefinisikan suasana pusat kota Kyoto selama berabad abad dan merupakan bentuk yang menentukan standar Machiya di seluruh negeri. Machiya memiliki bentuk denah yang memanjang ke belakang, sementara Lamin dibuat memanjang ke samping. Ini mungkin salah satu pembeda dari aspek filosofi Lamin dan Machiya.

Titik pembeda lain adalah, konsep dasar berfikir filosofis Machiya dan Noka bisa ditemukan dalam literatur ilmiah dan diajarkan di program studi arsitektur. Bahkan di perpustakaan umum Kota Samarinda ditemukan buku tentang vernakular Jepang itu.

Sementara bukti tertulis Lamin sangat miskin, kecuali jika tulisan di situs web dan blog itu dianggap sebagai karya ilmiah.

Sejak terbitnya Encyclopedia of Vernacular Architecture of the World (EVAW) pada tahun 1997, studi-studi tentang arsitektur vernakular mulai mendapat perhatian dan dapat diterima sebagai bagian dari kajian atau disiplin ilmu arsitektur (Rapoport, 2006:179).

Walaupun dalam eksiklopedia tersebut di ulas banyak ragam jenis arsitektur vernakular dari seluruh belahan dunia, namun faktanya lebih banyak lagi arsitektur vernakular yang belum dikaji dan di publikasikan, termasuk vernakular Dayak di Kalimantan Timur.

Kedua, Lamin sebagai khasanah kebudayaan arsitektur vernakular nusantara belum disentuh secara proporsional. Publikasi tentangnya hanya diperoleh di laman laman internet dan media sosial sebagai obyek wisata alam.

Lalu, kajian vernakular setidaknya dapat dilihat dari dua alasan. Pertama, diperkirakan saat ini hanya sekitar 12% bangunan di seluruh dunia yang ditangani oleh tenaga arsitek profesional , sedangkan 88% bangunan lainnya yang pada umumnya hunian dibangun dengan tanpa bantuan tenaga arsitek profesional atau dikenal sebagai bangunan vernakular (Rapoport, 2006:179).

Kondisi ini menunjukkan besarnya potensi yang dapat digali dari bangunan – bangunan vernakular yang tersebar di seluruh nusantara sebagai sumber pengetahuan. Minimnya konsep atau teori yang dimiliki oleh disiplin ilmu arsitektur vernakular menyebabkan para arsitek meminjam atau menggunakan berbagai konsep dan teori yang bersumber dari luar bidang ilmu arsitektur dalam kegiatan desain mereka (Rapoport, 2006:180; Lang, 1987). Akibatnya konsep dasar berfikir filosofis vernakular tidak dipahami secara utuh oleh arsitek. Contohnya ukiran Dayak sering salah penerapannya pada arsitektur modern. Ukiran yang seharusnya ditempatkan pada pintu gerbang pemakaman, malah ditempatkan di gerbang depan perkantoran. Niatnya ingin mengapresiasi ukiran khas Kalimantan Timur, jatuhnya malah salah kaprah.

Kalimat berikut saya kutip dari Altman dalam buku Environtment and culture : Arsitektur vernakular adalah arsitektur yang tumbuh dan berkembang dari arsitektur rakyat yang lahir dari masyarakat etnik dan berjangkar pada tradisi etnik, serta dibangun oleh tukang berdasarkan pengalaman (trial and error), menggunakan teknik dan material lokal serta merupakan jawaban atas setting lingkungan tempat bangunan tersebut berada dan selalu membuka untuk terjadinya transformasi.

Sebagai produk budaya, arsitektur vernakular dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti geografis, geologis, iklim, suhu; faktor teknologi : pengelolaan sumber daya, ketrampilan teknis bangunan; faktor budaya : falsafah, persepsi, religi, struktur social dan keluarga, serta ekonomi.

Sampaikah Vernakular Dayak pada tataran ilmiah dan menjadi kajian arsitektur di perguruan tinggi?. Jawabnya beragam. Di antaranya adalah bagaimana keseriusan pemerintah dalam bidang pendidikan untuk menjadikan kajian vernakular sebagai materi kuliah wajib di Kalimantan Timur.

Berikut sebuah paparan riwayat yang sekiranya dapat membantu memahami filosofi yang terkandung dalam salah satu symbol rumah lamin:

Riwayat Raja Kilip, yang tinggal di daerah Renayas, daerah tanah tandus tidak ada tumbuh-tumbuhan. Suatu hari timbullah pemikirannya untuk pergi mencari bibit kayu ke wilayah dunia atas langit. Raja Kilip berjalan membawa satu tabung pasak.

Setelah berjalan sehari penuh, pada saat matahari terbenam sampailah dia di bawah sebatang pohon besar bernama putakng kayutn tangiiq. Setelah subuh terdengar suara kokok burung raksasa di dahan besar paling bawah.

Kokok tersebut berbunyi: “Koko leaq leo, kalau hari sudah pagi, saya akan terbang bertamu ke Dusun Tana Tamui.” Kemudian terdengar kokok burung raksasa pada dahan yang lebih tinggi sebagai berikut:”Koko leaq leo, kalau hari sudah pagi, saya akan terbang bertamu ke negeri Cina pembuat garam.” Selanjutnya pada dahan berikutnya terdengar kokok sebagai berikut:” Koko leaq leo, kalau hari sudah pagi, saya akan terbang menuju Sanikng Bentian, Rabukng Rasaau Koakng Ketapm, Jonyokng Ariq Koakng Jangaang.”

Kemudian berkokoklah burung raksasa yang terbesar di puncak pohon sebagai berikut:”Koko leaq leo, kalau hari sudah pagi, saya akan terbang ke Lopiq Liputn Jalaq Tunaq, pergi menerkam kerbau lading emas (Kerewau ladikng bulau), peliharaan Tuan Taruntaaq.” Kilip lalu berseru:” Saya ikut kakek.” Jawab burung raksasa tersebut: “Ya boleh. Engkau memasang pasak di pohon ini untuk naik ke atas, dan buat palang tempat duduk di taji saya.”

Raja Kilip lalu menanam pasak di batang pohon putakng kayun tangiq lalu memanjat. Sesampai di atas, Raja Kilip membuat palang untuk duduk lalu setelah selesai, maka dia mengikat badannya dengan tali dari pohon terap di kaki raksasa tersebut. Ini riwayat yang mengartikan mengapa sambungan kayu ekor burung untuk menyatukan bilah bilah papan tak ditemui pada konsep sambungan Lamin. * (Penulis adalah, Staf Pengajar Program Studi Desain Interior Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur)

Leave A Reply

Your email address will not be published.