BeritaKaltim.Co

Chandra Boer Tersudut

-Edisi 380 Majalah Bongkar

 

cover-380-webSebuah buku berjudul Orangutan Tersayang adalah salah satu karya dari Dr Chandra Dewana Boer. Dia penulisnya. Terasa sekali Chandra menguasai rimba Kalimantan tempat satwa itu berasal. Ayah 3 anak itu ingin menyampaikan pesan penyelematan, agar primate dilidungi itu tak musnah.

Awal merantau dan mengajar di Universitas Mulawarman, sosok Chandra Dewana Boer dikenal akrab dengan sepeda motor Vesva abu-abu yang tak bisa disebut mulus. Dengan tampangnya yang selalu berambut gondrong, membuat dosen ini mudah dikenali. Perihal rambut gondrong itu menjadi kebanggaannya bahkan ketika ia dipercaya menjadi Dekan Fahutan.

Disebuah blog tulisan seorang anaknya, terkisahkan bagaimana Chandra sebagai seorang ayah yang berjuang keras membangun keluarganya. Meninggalkan istri dan anak-anak demi kuliah lebih tinggi di Jerman selama 8 tahun, sampai ia mendapat kepercayaan menjadi Dekan.

Itulah sekelumit likaliku hidup. Saat ini Chandra Dewana Boer ditetapkan sebagai tersangka. Kasus dugaan korupsi pula, yang membuatnya berada di depan pintu penjara.

Bermula dari perseteruan Chandra Dewana Boer dengan Abu Bakar Lahjie. Dua-duanya mantan Dekan Fahutan Unmul. Sumber masalahnya adalah keuangan di Fahutan.

Saat pergantian posisi jabatan Dekan Fahutan, Chandra mengaku sudah menyerahkan laporan keuangan fakultas kepada Abu Bakar Lahjie. Tapi, rupanya soal laporan keuangan itu yang memicu Abu Bakar Lahjie untuk memperkarakan Chandra ke jalur hukum.

Ada keraguan Abu Bakar atas laporan keuangan itu. Proyek-proyek kerjasama Fahutan dengan pihak ketiga yang membutuhkan bantuan akademisi tidak terlihat transparan dalam anggarannya. Terakhir ada temuan-temuan yang konon nilainya mencapai Rp2,7 miliar.

Perseteruan dua dosen senior itu memang meruncing. Bahkan sempat melibatkan mahasiswa yang berusaha menjatuhkan Abu Bakar Lahjie dari kursi Dekan.

Senin (3/03/14) mahasiswa, dosen dan pembantu Dekan kompak menghentikan kegiatan perkuliahan. Mereka sengaja mogok menuntut Dekan Fahutan Unmul Abu Bakar Lahjie mundur dari jabatannya.

Alasannya, Dekan tidak becus mengurus kampus sehingga membuat hubungan antara mereka menjadi tidak harmonis. Aroma bernuansa KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) terkait dana kemahasiswaan pun dituding para mahasiswa tidak transparan dalam pengelolaannya.

Buntut kisruh itu akhirnya dibawa sampai Kementerian Pendidikan Nasional di Jakarta dan membuahkan diberhentikannya Abu Bakar Lahjie dari kursi Dekan.

Rupanya ‘api’ sudah menyala. Abu Bakar Lahjie tegas dengan sikapnya untuk memperkarakan Chandra Dewana Boer yang ia tenggarai berada di balik demonstrasi mahasiswa atas dirinya. Setelah mengadukan dan menyerahkan setumpuk berkas ke Kejaksaan Tinggi Kaltim tapi kurang mendapat perhatian, ia melaporkan juga ke Kejaksaan Negeri Samarinda.

Kasus itu akhirnya bermuara di Kejari Samarinda. Setelah mempelajari kronologi di dalamnya, Chandra Dewana Boer menjadi tersangka.

Kini, Chandra berusaha keras membela diri. Tentang mobil Everest yang dibeli menggunakan dana abadi Fakultas Kehutanan, tentang proyek-proyek akademisi dengan pihak ketiga dan tentang temuan jaksa ada Rp2,7 Miliar yang tak bisa dipertanggungjawabkan. #

==========================================================================
Chandra Habis karena “Everest”

Karier Chandra Dewana Boer, peneliti senior yang juga mantan dekan Fakultas Kehutanan (Fahutan) Unmul akan habis. Kini dia harus menghadapi jalan panjang sebagai tersangka dugaan korupsi dana abadi Fahutan Unmul. Sebab musababnya mobil Ford Everest.

chandra-dewana-broer-saat-pIHWAL kasus ini mulai terungkap ketika Kejaksaan Tinggi Kaltim menerima laporan dugaan korupsi di Fahutan Unmul pada Maret 2014 lalu. Laporan disampaikan dekan Fahutan kala itu, Abu Bakar Lahjie. Namun, karena kasus itu tak kunjung diselidiki oleh Kejati Kaltim, Abu Bakar tak patah arang. Dia kemudian melapor juga ke Kejari Samarinda.

Akhirnya oleh Kajari Samarinda Costantein Ansanay, kasus ini diperintahkan untuk diselidiki sampai kini penyidikan.
Abu Bakar berkeyakinan ada dugaan penyimpangan penggunaan dana di fakultas tersebut pada era kepemimpinan dekan sebelumnya, Chandra Dewana Boer. Terutama penggunaan dana abadi fakultas tahun 2009-2012 sebesar Rp300 juta untuk membeli mobil Ford Everest. Dana itu tidak cukup untuk membeli mobil tersebut, karena harga mobil Rp400 juta. Perihal sumber dana Rp100 juta tambahan inilah mengundang tanya Abu Bakar.
Belakangan Chandra beralasan, tambahan pembelian mobil tersebut dicarikan dari dana proyek. Dia juga pernah menyebut tambahan dana itu adalah dana bersama fakultas.
Sumber dana tambahan dari proyek ini juga mengundang tanya Abu Bakar. Abu Bakar kemudian meminta kepada Chandra agar memberikan laporan lengkap terkait proyek yang pernah berjalan, salah satunya penelitian kerjasama PT Trubaindo Coal Mining (TCM) di Kutai Barat yang belum dilaporkan Chandra. Laporan yang diinginkan Abu Bakar atas proyek itu harus sesuai standar laporan. Seperti adanya memorandum of understanding (MoU), rencana anggaran biaya, dan pajak lengkap dengan kwitansinya. Namun itu tak kunjung diberikan Chandra. Hal ini juga belakangan memicu konflik dosen dan dekan di Fahutan hingga berujung pelengseran Abu Bakar dari jabatan dekan.
***
Bermula dugaan penyalahgunaan pembelian mobil Ford Everest itu, penyidik Kejari Samarinda terus mengembangkan. Kajari Samarinda Costantein Ansanay mengungkapkan, penyidik juga menemukan penggunaan rekening pribadi Chandra menampung dana kerjasama penelitian dengan PT TCM sebesar Rp852 juta. Selain itu, juga ditemukan enam perjanjian kerjasama dengan PT Berau Coal yang juga menggunakan rekening pribadi di Bank Mandiri. Padahal rekening resmi Fahutan di BNI. Bisa saja menggunakan lebih dari satu rekening asalkan mendapat persetujuan Kementerian Keuangan RI.
“Seharusnya dana dari pihak ketiga hasil kerjasama penelitian itu disetorkan ke rekening universitas karena Unmul saat itu sudah berstatus BLU. Tapi ini masuk ke rekening pribadi,” kata Ansanay.
Total dana temuan penyidik yang diduga disalahgunakan itu kemudian berkembang menjadi Rp2,7 miliar. Dikatakan, adanya penggunaan rekening pribadi oleh Chandra diduga untuk memangkas birokrasi Unmul sebagai BLU. Dalam peraturan, seharusnya pihak fakultas baru bisa menggunakan dana itu terlebih dulu mengajukan ke universitas. Setelah rektor menyetujui baru bisa digunakan fakultas sesuai usulan proposalnya. Itu juga harus disahkan Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara (KPKN) setelah dipotong pajak.
“Temuan penyidik yang lain, saat membuat perjanjian dengan Turbaindo, Chandra menggunakan kop dan stempel Fahutan Unmul, namun dananya juga ditransfer ke rekening pribadi Chandra,” beber Ansanay didampingi Kasi Intel Hamsah Ponong. #Saaludin AS, Samarinda
Temuan Penyidik:

1. Dua rekening di Bank Mandiri Atas Nama Chandra Dewana Boer.
2. Mobil Ford Everest dibeli gunakan dana abadi dan dana proyek.
3. Dana proyek di PT Trubaindo belum bisa dipertanggungjawabkan.
4. Tak ada pengesahan KPKN dalam penggunana dana fakultas.
5. Tak jelas pemotongan pajak dalam penggunaan dana proyek.
6. Kop dan stempel Surat Perjanjian Fahutan Unmul, tapi transfer ke rekening atas nama Chandra Dewana Boer.

Sumber: Kejari Samarinda
=======================================

 

////

Mobil Bukti pun Disita Penyidik

MOBIL BUKTI: Mobil Ford Everest sesaat hendak dibawa tim penyidik Kejari Samarinda dari Rektorat Unmul, Senin (11/5/2015).
MOBIL BUKTI: Mobil Ford Everest sesaat hendak dibawa tim penyidik Kejari Samarinda dari Rektorat Unmul, Senin (11/5/2015).

TIM penyidik Kejari Samarinda akhirnya menyita sebuah mobil dari Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Mulawarman (Unmul) sebagai barang bukti dugaan korupsi dana abadi dengan tersangka mantan dekan Fahutan Unmul, Chandra Dewana Boer, Senin 11 Mei 2015.
Tim penyidik yang dipimpin Kasi Pidsus Kejari Samarinda Abdul Muis SH, mendatangi Rektorat Unmul sekira pukul 10.00 Wita. Bersama Kasi Intel Hamsah Ponong serta dua anggota tim penyidik Edy dan Deniardi, mereka diterima langsung oleh Rektor Unmul Prof Masjaya di ruang kerjanya.
“Hari ini kami ingin melakukan penyitaan barang bukti berupa sebuah mobil Ford Everest. Mobil ini dibeli tersangka saat menjadi Dekan Fahutan dan diatasnamakan pribadinya dari dana abadi,” ujar Abdul Muis.
Setelah menunggu sekitar satu jam di ruang Rektor itu, tim penyidik pun menerima surat menyurat mobil nomor polisi KT 1433 MJ itu. Chandra menandatangani sebuah berita acara penyitaan mobil. Sayangnya, Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) belum berhasil dibawa penyidik karena belum ditemukan tempat penyimpanannya oleh pihak dekanat Fahutan. Tampak nomor polisi atau pelat mobil tersebut berwarna hitam. Tidak seperti mobil dinas atau mobil operasional yang lazimnya berpelat merah.
“Buku BPKB-nya belum ada, sehingga nanti mereka janji akan serahkan menyusul,” kata Muis. Setelah resmi menandatangani surat serah terima barang bukti tersebut, tim penyidik pun langsung membawa mobil itu ke Kantor Kejari Jl M Yamin Samarinda.
Rektor Unmul Prof Masjaya kepada wartawan usai menerima rombongan penyidik mengatakan, dirinya mengaku kaget atas kedatangan tim penyidik tersebut. Tapi karena penyidik melaksanakan tugasnya dia harus memberikan pelayanan terbaik. Terhadap tersangka Chandra Dewana Boer, Masjaya berjanji akan memberikan bantuan hukum.
“Karena beliau masih aktif sebagai dosen dan menjadi bagian dari keluarga besar Unmul tentu kami sebagai pimpinan universitas akan membantu memberikan bantuan hukum. Kami juga mendukung upaya penegakan hukum ini,” kata Masjaya.
Disinggung soal kemungkinan akan memberikan sanksi kepada Chandra, Masjaya menyebut pihaknya belum memikirkan hal itu. Soal sanksi sudah ada mekanismenya sesuai peraturan yang berlaku bagi PNS.
“Soal itu tentu menunggu perkaranya sudah berkekuatan hukum tetap. Semoga saja semuanya baik-baik saja,” kata Masjaya.
Dikatakan, sangkaan korupsi di Fahutan ini diduga terjadi saat Unmul transisi menjadi Badan Layanan Umum (BLU). Saat itu memang sudah disosialisasikan bagaimana cara menyetorkan penerimaan yang satu pintu di rektorat baru kemudian fakultas mengusulkan penggunaannya.
“Namun mungkin penerapan di lapangan kurang bagus sehingga ada penerimaan yang langsung dibelanjakan. Secara administrasi ini memang sudah tidak benar,” jelas Masjaya.
Terpisah, Kajari Samarinda Costantein Ansanay menegaskan, penyitaan mobil ini memang bagian dari tugas penyelesaian penyidikan dugaan korupsi di Fahutan Unmul tersebut. Saat ini proses penyidikan sudah 95 persen.
“Ini bagian melengkapi berkas dan menuntaskan penyidikan. Bukti formil maupun materil sudah hampir lengkap dan segera disidangkan ke pengadilan,” kata Ansanay kepada wartawan di ruang kerjanya.
Dijelaskan, dana di Fahutan semula hanya diduga disalahgunakan sekitar Rp400 juta namun setelah tim melakukan pengumpulan data, penyelidikan dan penyidikan, dana yang ada berkembang menjadi Rp2,7 miliar. Rp400 juta tersebut digunakan untuk membeli mobil atas nama tersangka. Ada STNK dan BPKB atas nama yang bersangkutan. “Jadi jelas perbuatan formil dan materilnya ada,” jelas Ansanay. (Saaludin AS, Samarinda)

===============================================================================

 

Setelah Chandra, Siapa Lagi?

Kajari Costantein Ansanay
Kajari Costantein Ansanay

KAJARI Samarinda Costantein Ansanay SH CN mengatakan, jika dikembangkan kasus dugaan korupsi di Fahutan Unmul bisa saja menjerat tersangka lain. Karena biasanya korupsi memang tidak berdiri sendiri dan diduga pasti melibatkan pihak lain.
“Itu bisa saja kalau kita kembangkan. Tapi saat ini masih kita tetapkan satu tersangka yaitu CDB,” kata Ansanay kepada wartawan dalam jumpa pers di ruang kerjanya, Senin 11 Mei 2015.
Siapa kemungkinan berpotensi terlibat, menurut Ansanay pada saatnya bisa saja itu ditetapkan. Ini tergantung dari perkembangan penyidikan. Ini juga terkait dengan strategi penyidikan.
Pria asli Papua itu menegaskan, semula dana di Fahutan hanya diduga disalahgunakan sekitar Rp400 juta namun setelah tim melakukan pengumpulan data, penyelidikan dan penyidikan, dana yang ada berkembang menjadi Rp2,7 miliar. Rp400 juta tersebut digunakan untuk membeli mobil atas nama tersangka bersumber dana abadi dan dan hasil penelitian. Ada STNK dan BPKB atas nama yang bersangkutan. “Jadi jelas perbuatan formil dan materilnya ada,” jelas Ansanay.
Jika melihat kronologi kasus ini khususnya yang berhubungan dengan dana penelitian kerjasama Fahutan dan PT Turbaindo, ketua timnya saat itu adalah Triyono Sudarmadji (TS). Diketahui, gara-gara tak membuat laporan standar atas proyek penelitian itu, Triyono juga merupakan salah seorang jadi ‘korban’ Surat Peringatan (SP) I oleh dekan Abu Bakar Lahjie. Jika memang dana Rp100 juta tambahan pembelian mobil Ford Everest itu berasal dari hasil penelitian PT Turbaindo, maka Triyono bisa jadi salah seorang yang turut bertanggung jawab.
Diketahui, Senin (11/5/2015) siang sudah dilakukan penyitaan mobil Ford Everest KT 1433 MJ tersebut oleh tim penyidik. Penyitaan mobil ini memang bagian dari tugas penyelesaian penyidikan dugaan korupsi di Fahutan Unmul itu. Saat ini proses penyidikan sudah 95 persen.
“Ini bagian melengkapi berkas dan menuntaskan penyidikan. Bukti formil maupun materil sudah hampir lengkap dan segera disidangkan ke pengadilan,” kata Ansanay.
Dijelaskan, sejak Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 tahun 2005 diterbitkan, Unmul berubah menjadi Badan Layanan Umum (BLU). Dana tidak bisa lagi dikelola langsung oleh pihak fakultas tapi harus dikelola di rektorat. Sehingga jika ada penerimaan maka harus dimasukan ke rektorat. Jika fakultas hendak membuat program maka harus mengusulkan ke rektorat terlebih dulu baru bisa digunakan setelah disetujui.
“Dari keterangan saksi, hal ini sudah tersosialisasi kepada fakultas-fakultas. Kalau sudah tahu, kenapa dana seperti PNBP ini dugunakan langsung di fakultas,” kata Ansanay. Sampai kini tim penyidik Kejari, tegas Ansanay, sudah memeriksa sekitar 10 saksi lebih. “Sehingga bukti-bukti perkara ini sudah cukup,” tandasnya. (Saaludin AS, Samarinda)

=============================================================================
Chandra Tak Mau Disalahkan Sendiri

chandra-di-rektorat-webDITETAPKAN sebagai tersangka dugaan korupsi dana abadi dan penelitian Rp2,7 miliar di Fahutan Unmul, Chandra Dewana Boer tak mau disalahkan sendiri. Terutama terkait dengan dana penelitian, Chandra tampaknya tak mau hanya dia yang bertanggung jawab. Dia pun akhirnya membuat pernyataan tertulis mengklarifikasi dan menjelaskan kronologi serta pihak-pihak yang turut bertanggung jawab.
Lewat pernyataan tertulis yang diterima sejumlah media, Selasa 13 Mei 2015, Chandra menjelaskan kronologi pelaporan dana abadi dan proyek kerja sama Fahutan.
Chandra menyatakan, sewaktu menjabat dekan Fahutan Unmul (2011–2012), dirinya menandatangani perpanjangan proyek kerja sama penelitian antara Fahutan dengan PT Trubaindo Coal Mingin (TCM) yang sudah berlangsung kurang lebih 4–5 tahun. Perpanjangan kerja sama dibuat untuk tiga tahun, yaitu 2011, 2012, dan 2013.
Dugaan kesalahan yang dilaporkan adalah perpanjangan proyek tersebut, saat Unmul berubah status menjadi Badan Layanan Umum (BLU). Semua proyek penelitian mestinya lewat universitas. Sebelumnya dengan status bukan BLU, proyek penelitian bisa dilakukan dengan fakultas secara langsung.
Surat Keputusan (SK) Menteri Keuangan tentang BLU terbit 2009 dengan masa toleransi dua tahun agar semua orang dianggap sudah tahu. Artinya, ketentuan itu efektif berlaku mulai 2011. Padahal, sosialisasi di Unmul tentang BLU ke fakultas-fakultas baru dilakukan pada April 2012. Sementara itu, semua kontrak kerja sama itu dibuat sebelum 2012.
Kesalahan lain yang dilaporkan adalah dipakainya rekening pribadi dekan waktu itu untuk kepentingan kelancaran pendanaan. Hal ini Chandra beralasan itu dilakukan untuk kemudahan atas permintaan ketua tim peneliti dan disetujui pihak perusahaan.
“Masa kerja sama proyek tahun ketiga (2013) bukan lagi menjadi tanggung jawab saya. Tetapi, tanggung jawab dekan Fahutan baru, yang juga mengganti sebagian peneliti dengan peneliti baru,” kata Chandra.
Dia menegaskan, tidak benar jika dirinya dikatakan terlibat pada penelitian di TCM. Sebab, para penelitinya hanyalah Triyono Sudarmaji, Sutedjo, Sukartiningsih, dan Wahyuni Hartati dengan dua profesor sebagai narasumber yaitu, Maman Sutisna dan Daddy Ruhiyat.
“Saat itu, saya adalah dekan Fahutan dan hanya meneruskan kerja sama tersebut seperti halnya yang dirintis oleh dekan-dekan sebelumnya,” ujar Chandra, lantas menyebut Afif Ruchaemi, Sukartiningsih, Sipon Muladi, dan Wawan Kustiawan.
Mengenai proyek kerja sama penelitian dengan PT Berau Coal, menurut dia, kerja sama itu tadinya dengan Pusat Penelitian Hutan Tropis (PPHT). Kemudian, dibawa ke Fahutan, sebab proyek tersebut terjadi karena person (Chandra) yang membidangi masalah itu. Yakni, masalah reklamasi bekas tambang, satwa liar, dan keanekaragaman hayati. Proyek tersebut juga dilaporkan dengan kesalahan yang dihubungkan dengan status BLU. “Padahal, semua sudah jelas, seperti dijelaskan pada kerja sama dengan TCM sebelumnya,” katanya.
Bahkan, satu tahun terakhir, lanjutnya, proyek itu juga sudah mengikuti aturan BLU. Tapi, tidak dilakukan atas kerja sama Fahutan lagi karena kesulitan komunikasi dengan dekan terpilih waktu itu. Melainkan kerja sama dengan lembaga lain di Unmul, yaitu Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH).
Chandra menyebut, penelitian tersebut tidak dilakukan sendiri. Penelitian di PT Berau Coal ada penanggung jawabnya masing-masing. Yaitu Triyono Sudarmaji, Sutedjo, Sukartiningsih, Wahyuni Hartati, dan Chandra.
“Saya adalah pencetus kerja sama penelitian tersebut sejak berada di PPHT. Kemudian, kerja sama berkembang dengan melibatkan beberapa dosen lainnya,” ujarnya.
Menurut dia, seluruh kerja sama penelitian tersebut sudah diinformasikan kepada dekan terpilih waktu itu melalui serah-terima jabatan. Termasuk penggunaan dana fakultas untuk membeli kendaraan lapangan untuk digunakan bersama.
Kendaraan tersebut juga digunakan dekan terpilih waktu itu sekitar dua tahun. Hanya karena dekan pada waktu itu diturunkan melalui proses demonstrasi dosen dan mahasiswa, maka masalah tersebut dilaporkan ke Kejati Kaltim. Chandra tidak menyebut nama, namun bisa ditebak bahwa dekan yang dimaksud adalah Abubakar Lahjie.
Chandra mengaku sudah diperiksa di Kejati Kaltim. Sebelumnya, Inspektorat Jendral Pendidikan Tinggi (Irjen Dikti) menyampaikan bahwa itu adalah masalah internal Fahutan dan mestinya diselesaikan bersama. Juga, masalah itu sebenarnya sudah diselesaikan era Rektor Unmul Zamruddin Hasid.
“Dengan kata lain sudah didamaikan dan rektor berpesan agar masalah ini tidak sampai keluar kampus,” jelasnya. Namun, lanjut dia, karena dekan terpilih waktu itu diturunkan melalui demonstrasi, akhirnya masalah rumah tangga Fahutan kembali dilaporkan ke kejaksaan.
Menurut dia, demonstrasi terjadi karena terlalu banyak masalah kepemimpinan yang tidak diterima sebagian besar civitas akademika Fahutan. Seperti masalah absensi, intervensi proses belajar-mengajar, dan masalah kerja sama. Selain itu, strukturalisasi di laboratorium dan daftar penilaian pelaksanaan pekerjaan (DP3).
Chandra juga dilaporkan dekan terpilih waktu itu soal pencemaran nama baik. Pasalnya, Chandra menyurati pimpinan universitas (rektor) dan dilampirkan kepada dekan tentang persoalan yang dihadapi setelah tidak lagi menjabat di PPHT.
Yaitu soal pengusiran dua ipar Chandra dari PPHT di Samarinda dan Bukit Soeharto oleh kepala PPHT Sukartiningsih dan beberapa teman lain di PPHT. Dia memohon kepada rektor untuk membantu menghentikan pengusiran tersebut.
“Sebaliknya, malah saya dilaporkan ke polisi. Pengusiran yang dilakukan oleh Sukartiningsih juga berawal dari diturunkannya beliau sebagai dekan melalui demonstrasi oleh civitas akademika Fahutan dan mengangkat saya sebagai dekan pengganti pada waktu itu,” ujarnya.
Satu kejanggalan lain adalah tidak diprosesnya persoalan penyerangan ke kampus Fahutan pada 18 Maret 2014 yang notabene mengancam pribadi Chandra. “Kronologi kejadian ini saya tuliskan untuk bisa dipahami dengan tujuan meluruskan persoalan di Fahutan Unmul,” jelasnya. (kpnn/saaluas)

Comments are closed.