BeritaKaltim.Co

Korban ke-11, Yusuf Tak Bernyawa di Kolam Tambang PT Lana Harita Indonesia

samarinda kolam mautSAMARINDA, BERITAKALTIM.com- Muhammad Yusuf Subhan (11 tahun), santri yang belum sebulan belajar di Pesantren Yayasan Tursina, Pampang, Samarinda, ditemukan tak bernyawa pada 24 Agustus 2015 lalu. Jasadnya ditemukan di kawasan yang menjadi bagian dari konsesi Tambang PT Lana Harita Indonesia.

Kematian Yusuf menambah daftar korban anak-anak tewas akibat kerusakan lingkungan dan kegiatan pertambangan batubara Samarinda sepanjang 2011-2015. Tercatat, ini korban ke-11.

Dari hasil pemantauan dan analisa lapangan oleh Tim JATAM Kaltim ditemukan beberapa fakta. Pertama, Yusuf Subhan bocah korban ke 11 akibat lubang dan kegiatan tambang, diduga tewas di salah satu kolam pencucian kualitas air (treatment water quality) milik PT Lana Harita Indonesia. Di plang perusahaan pasang terdapat larangan mengambil ikan, diduga karena kolam itu adalah kolam treatment terhadap kualitas air yang dilakukan.

Hal Kedua, menurut Seny Sebastian dari JATAM Kaltim, jarak antara Mesjid Pesantren Yayasan Tursina dengan Kolam ini hanya berjarak 210 Meter. Keduanya berada dalam konsesi pertambangan PT Lana Harita Indonesia.

“Membiarkan masyarakat menggunakan air kolam tanpa kepastian uji kualitas air, sangat membahayakan kesehatan dan mengorbankan keselamatan warga,” ujar Seny.

Temuan ketiga JATAM, menurut kesaksian warga dan temuan di lapangan, tak ditemukan Pos Pengamanan guna mencegah akses warga ke kolam Treatment tersebut. Hal ini diduga menyalahi Peraturan Menteri ESDM Nomor 38 tahun 2014 tentang penerapan sistem manajemen keselamatan pertambangan minerba, yaitu Pasal 2 huruf b mencegah kecelakaan tambang, penyakit akibat kerja dan kejadian berbahaya dan Bab II, Lampiran Butir (j) Tentang Pengamanan instalasi.

Di lokasi kejadian, ditemukan pagar ulin dengan kawat berduri. Namun menurut kesaksian warga yang ditemukan JATAM Kaltim, pagar itu baru dipasang Pagi, tanggal 25 Agustus 2015 setelah kejadian pada Tgl 24 Agustus 2015 atau diperkirakan 12 jam setelah kejadian.

“Hal ini diduga menyalahi Keputusan Menteri ESDM nomor 55/k/26/mpe/1995 yang berbunyi tidak memasang plang atau peringatan dan tidak ada pengawasan yang menyebabkan orang lain masuk ke kawasan tambang,” kata Seny. Kelalaian tersebut secara tidak langsung diakui oleh Perusahaan dengan mendadak membuat Pagar Ulin berkawat duri 12 jam setelah kejadian.

Berdasarkan temuan tersebut, maka JATAM Kaltim menganggap perusahaan tambang batubara PT. Lana Harita Indonesia, bertanggung jawab secara hukum atas kematian M. Yusuf Subhan. Karena kelalaian perusahaan melakukan pengawasan dalam kegiatannya sesuai Pasal 359 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Pasal 112 UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Perusahaan patut dituduh melakukan perbuatan melawan hukum oleh penanggung jawab usaha dan juga pejabat pemerintah, karena telah lalai yang mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan dan menyebabkan kematian.

JATAM Kaltim mendesak PPNS Badan Lingkungan Hidup, BLH Provinsi dan PPNS Distamben Provinsi Kaltim untuk Melakukan penyelidikan dan penyidikan dugaan Tindak Pidana Pertambangan dan Tindak Pidana Lingkungan Hidup pada kasus tewasnya M. Yusuf Subhan.

Juga mendesak penghentian Izin Operasi dan Izin Lingkungan hidup sementara PT. Lana harita Indonesia.

JATAM Kaltim menyesalkan Wali Kota Samarinda yang tak pernah belajar dari kesalahan dan pura-pura tutup mata atas terus terjadinya kejahatan tambang di samarinda.

Bentang Luas Konsesi PT. Lana harita Indonesia adalah 30. 018 hektar yang berada di 2 kawasan yaitu Samarinda dan Kabupaten Kutai Kartanegara, pengerukan LHI baru akan berakhir pada tahun 2031, perusahaan ini terafiliasi dalam grup perusahaan Lanna Resources milik Thailand. #le

Comments are closed.