BeritaKaltim.Co

Heboh Berita Aksi Oknum Guru Buang Puluhan Handphone Siswanya ke Sungai Mahakam

hp dibuang di kukarSAMARINDA, BERITAKALTIM.com- Media sosial dihebohkan adanya posting foto dan berita aksi buang handphone ke Sungai Mahakam. Dalam berita disebutkan puluhan telepon genggam milik pelajar di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Farmasi, Tenggarong, dibuang oleh oknum guru yang melakukan razia di sekolah itu.

Dalam satu foto terposting bagaimana suasana menyedihkan anak-anak SMK itu ketika puluhan HP mereka dibuang ke Sungai Mahakam. Ada yang menangis dan histeris. Aksi buang HP ke sungai itu sendiri menurut kabar dipelopori pihak sekolah sebagai sanksi atas pelanggaran yang dilakukan para siswa karena ketahuan membawa HP ke sekolah.

Postingan itu menyebar di media sosial sejak Sabtu (5/9/2015). Spontan saja psotingan tersebut mendapatkan tanggapan luas dari netizen di jejaring sosial seperti facebook dan twitter.

Menurut informasi yang diperoleh dari salah seorang guru SMK Farmasi yang identitasnya tak mau disebutkan, HP yang dibuang adalah sitaan saat razia yang dilakukan pihak sekolah. Sebelum dibuang, para orang tua murid dipanggil pihak sekolah.

Aksi buang HP itu sendiri dilakukan tepat di tepi Sungai Mahakam, tepat di seberang komplek bangunan SMK Farmasi, di Jalan Wolter Monginsidi, Tenggarong. Sejumlah pemilik HP keberatan karena ada di antaranya berharga mahal. Menurut keterangan pihak sekolah, kebijakan buang HP itu merupakan hasil kesepakatan bersama antara sekolah dan siswa saat pendaftaran siswa baru. Sebelum siswa masuk SMK Farmasi, siswa sudah diingatkan jangan membawa HP, karena kalau ketahuan akan dibuang ke Sungai Mahakam.

“Saat pendaftaran siswa dan orangtuanya telah mendandatangani surat pernyataan, apabila kedapatan membawa HP maka akan dibuang ke Sungai Mahakam,” tutur guru SMK Farmasi yang menjadi sumber media.

Rudiansyah, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Dearah (DPRD) Kukar justru mempertanyakan, mengapa puluhan HP tersebut dibuang ke sungai, bukannya ke tempat sampah.

“Itu Sungai Mahakam bukan bak sampah, karena sungai adalah sumber kehidupan bagi masyarakat,” kata Rudiansyah.

kukar siswa-SMK-Farmasi histerisSementara Hasyim Saad, M.Pd, pengamat sekaligus praktisi pendidikan di Kukar, menilai kebijakan buang HP tersebut adalah kebijakan nyeleneh dan tidak patut dilakukan pihak sekolah, apalagi para guru.

“Itu tindakan geblek namanya. Memangnya seberbahaya apa dengan HP? HP itu teknologi, kalau dipergunakan untuk belajar mengajar, justru semakin menunjang. Jangan-jangan para gurunya gagap teknologi, primitif,” kata Hasyim.

Jangankan membuang HP, apalagi dibuang ke sungai, melarang pelajar menggunakan HP di sekolah saja merupakan kebijakan yang tidak tepat. Teknologi HP itu dapat membantu siswa untuk mencari informasi, dengan perangkat aplikasi yang disediakan, mempermudah memecahkan masalah-masalah terapan.

“Tinggal bagaimana pengaturannya. Kalau digunakan untuk mencari informasi, masa tidak boleh. Kalau ada guru yang hanya berpatokan hanya pada satu atau beberapa referensi, itu tidak tepat. Mestinya diperluas, ya dengan teknologi yang dimilki HP. Dengan internet misalnya, informasi apapun bisa diperoleh,” papar Hasyim.

Ia heran, bagaimana pola berpikir para guru di SMK Farmasi sehingga bisa mengeluarkan kebijakan kontroversial seperti itu. “Jangan-jangan mereka ini (para oknum guru di SMK Farmasi, red) tidak paham dengan pendidikan. Maklum saja, gelar sarjana dan master kan mudah didapat, skripsi, tesis dan disertasi bisa dibeli. Jadi tidak jadi patokan,” kata Hasyim.

Soal membuang HP, Hasyim memahami bahwa tujuannya untuk membuat efek jera, tetapi sebenarnya hal itu dapat memberikan efek lebih luas. Misalnya dampak psikologis siswa, bisa mengalami trauma.

“Masih untung kalau trauma tidak menggunakan HP, kalau sampai stress berat bagaimana? Bisa saja, karena HP yang dibuangkan ada yang mahal, nilainya sampai belasan juta. Sementara yang cari uang buat membeli orang tuanya. Apa reaksi orang tua terhadap anaknya yang HPnya dibuang?” tandas Hasyim.

Aksi buang HP ini, menurut Hasyim harus dijadikan pelajaran bagi sekolah lain, jangan sampai ada kejadian serupa. “Mestinya pihak sekolah bisa berpikir jernih, jika memang harus dilarang menggunakan HP, ya dikembalikan ke orang tuanya. Dibuang ini kan sangat tidak mendidik, apalagi dibuang di sungai,” tambahnya. #beritaborneo/le

Comments are closed.