BeritaKaltim.Co

Laka Lantas di Berau Masih Rendah

Kapolres Berau Anggie Yulianto.
Kapolres Berau Anggie Yulianto.

TANJUNG REDEB, BERITAKALTIM.com- Gelaran giat operasi Zebra berakhir, Jumat (6/11/2015), dengan ratusan pelanggar yang terjaring dalam razia selama 16 hari tersebut.

Usai upacara Sertijab Kepala Satuan (Kasat) Lantas Polres Berau, AKP Ferli Hidayat yang diganti oleh AKP Nur Kholis di halaman Mapolres Berau pada Kamis (05/11/2015) lalu, Kapolres Berau AKBP Anggie Yulianto Putro menjelaskan angka kecelakaan lalu lintas (laka lantas) di wilayah hukum Polres Berau di tahun 2015 hingga saat ini yaitu ada 45 kejadian laka lantas dan 805 pelanggaran lalu lintas.

“Memang kalau dibandingkan dengan tempat lain, dalam kurun 1 (satu) tahun laka lantas di Berau termasuk rendah. Tapi yang namanya kecelakaan lalu lintas, kita harus menganggap ini merupakan persoalan kita bersama,” pintanya.

Lanjutnya, mantan Kapolres Penajam Selatan ini mengatakan definisi kecelakaan lalu lintas yakni kejadian akhir dari suatu rangkai peristiwa yang terjadi di jalan raya dan diawali dengan adanya pelanggaran.

“Jadi seminimal mungkin kita harus mengurangi adanya pelanggaran. Anggota saya yang di lantas, saya sampaikan dan perintahkan melaksanakan kegiatan preventif seperti dalam bentuk penyuluhan dan lainnya serta penegakan hukum.” katanya.

Anggie menambahkan dalam berlalu lintas di jalan raya, setiap pengguna jalan baik itu pengemudi maupun penumpangnya wajib menaati setiap aturan dan bersifat bijaksana serta teliti dalam pemahaman peraturan berlalu lintas.

“Seorang penyidik kecelakaan lalu lintas harus memiliki kearifan, ketelitian dan pemahaman hukum yang tinggi juga dalam menyelidiki suatu laka lantas karena sangat tipis perbedaan antara tersangka dan korban. Disitu harus kepiawaian dan kejelian seorang penyidik, makanya itu saya sampaikan kepada penyidik agar jangan sampai salah karena itu menyangkut nasib seseorang,” ujarnya.

Lebih lanjut, Anggie memberikan sebuah contoh kejadian laka lantas bahwa belum tentu yang luka atau meninggal dunia dalam sebuah laka lantas ialah korban karena bisa jadi tersangkalah mengalami luka atau meninggal dunia.

“Contohnya, saya selalu bilang pihak 1 dengan pihak 2. Setelah nanti ada hasil penyelidikan dan persidangan baru bisa kita putuskan yang mana korban dan yang mana tersangka. Bisa jadi yang menjadi tersangka itu yang meninggal dan yang mungkin dalam keadaan baik-baik saja itu korban. Batasannya apa, ketentuan yang ada di jalan seperti didalam kota maksimal kecepatan berkendara 40 km/jam dan marka-marka lalu lintas yang ada,” tutupnya. #humas

Comments are closed.