BeritaKaltim.Co

Eks Gafatar Ingin Tetap Bertani di Berau

berau web eks gafatarTANJUNG REDEB, BERITAKALTIM.COM- Kelompok Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) di Kabupaten Berau memilih untuk tetap bertahan karena sudah merasa nyaman dan tentram di daerah itu. Eks kelompok Gafatar yang terdiri dari 3 kepala keluarga dengan 10 jiwa itu memilih untuk bertahan dan berkebun di Berau daripada dipulangkan kembali ke Jawa.

Ditemui di rumahnya yang berada jauh dari jalan kampung dan tanpa ada fasilitas yang menjangkaunya seperti listrik. Salah seorang kepala keluarga eks Gafatar, Ali menjelaskan selama di Berau mereka telah menjalin hubungan baik dengan masyarakat sekitar, dimana dari hasil bercocok tanam, mereka jual dengan masyarakat sekitarnya dan juga selalu ikut serta dalam kegiatan kemasyarakatan di kampung.

“Kita sudah setahun tinggal di Berau ini kalau masuk Februari nanti,” ujarnya saat ditemui wartawan, Sabtu (23/01/2016).

Lanjutnya, sebelumnya mereka juga telah mengurus dokumen kependudukan dan memiliki kartu identitas diri dari Kelurahan Bedungun.
“Untuk pendapatan sehari-hari, kita disini bercocok tanam seperti sayur-sayuran, lombok dan lainnya. Kemudian hasilnya kita bawa ke pasar atau keliling kampung untuk di jual,” ujarnya.

Terkait maksud dan tujuan kedatangan mereka di Berau. Ali mengatakan bahwa tidak ada tujuan khusus seperti misi untuk menyebarkan luaskan ajaran Gafatar melainkan hanya mengikuti arahan dari pimpinan kelompok Gafatar untuk menjaga pertahanan negara melalui ketahanan pangan dengan bercocok tanam.

“Sampai sekarang kita kehilangan komunikasi dengan yang lainnya. Tidak tahu dimana sisanya. Kita juga akan merundingkan dengan keluarga secepatnya, apakah bertahan atau pulang ke Jawa. Tapi sejauh ini kita sudah terbiasa tinggal di sini dan ingin meneruskan hidup di sini,” ucapnya.

Kemudian keponakan Ali yang juga eks Kelompok Gafatar, Firdaus mengakui bahwa pada saat masuk di tahun 2014 dan telah bermukim beberapa bulan di Berau, mereka telah keluar dari kelompok Gafatar karena terjadi kevakuman di kelompoknya, dimana biasanya banyak kegiatan sosial yang dilakukan seperti donor darah dan kerja bakti tapi selama beberapa bulan sudah tidak ada kegiatan sama sekali.

“Karena tidak aktif lagi kelompok makanya kita keluar, biasanya ada kegiatan donor darah setiap 3 bulan sekali,” ujarnya.

Ditambahnya, dirinya bersama keluarga memilih kelompok Gafatar karena visi dan misi yang ada, dimana secara garis besar Gafatar mengutamakan kasih sayang dalam membentuk ketahanan negara kepada seluruh anggotanya. Dan untuk kepercayaan, setiap anggota dibebaskan memiliki keyakinan masing-masing.

“Jadi tidak ada paksaan harus mengikuti kepercayaan khusus, kalau memang awalnya agama Islam, Kristen, Budha dan Hindu tetap dibebaskan untuk beribadah sesuai agamanya itu,” ujarnya.

Kepala Kampung Pegat Bukur yang ditemui awak media, Suharyadi Kusuma mengatakan, memberikan pilihan kepada eks kelompok Gafatar tersebut untuk memilih tinggal di Berau atau kembali ke Jawa.

“Yang pasti kalau tinggal di sini harus mengikuti aturan pemerintah, seperti mengurus dokumen penduduk serta tidak menyebarkan ajaran lain yang dapat meresahkan masyarakat. Jika memilih pulang ke Jawa, akan saya koordinasikan lebih lanjut kepada pemerintah daerah agar difasiltiasi,” tutupnya.

Sebelumnya, sesuai yang disampaikan Pj Bupati Berau, Drs. H. Syarifuddin, M.Si dalam rakor antisipasi gangguan kamtibmas di Berau bahwa dirinya sebagai pemerintah daerah memberikan kebebasan memilih kepada eks kelompok Gafatar untuk memilih tetap tinggal di Berau dengan pengertian bahwa mereka telah tobat atau kembali ke kampungnya dengan bantuan oleh Pemkab Berau.

Seperti diketahui, eks kelompok Gafatar yang masuk ke Berau berjumlah 30 jiwa dari Surabaya, Jawa dengan dipimpin Wahyu namun pada April 2014 telah dibubarkan. #hel

Comments are closed.