BeritaKaltim.Co

Lokasi Baru RSUD Berau, DPRD Protes

TANJUNG REDEB, BERITAKALTIM.com- Kabupaten Berau yang memiliki penduduk hampir 270.000 jiwa ternyata hanya memiliki 1 (satu) rumah sakit yakni Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Abdul Rivai, Jalan Pulau Panjang. Kondisi ini kerap membuat rumah sakit type C milik daerah tersebut mengalami lonjakkan pasien menjadi kekurangan ruangan rawat inap.

Guna mengatasi permasalahan kekurangan ruang rawat inap tersebut. Pemkab Berau dimasa kepemimpinan Makmur HAPK – Ahmad Rifai (Bupati dan Wakil Bupati Berau periode 2005-2015) pun telah melakukan perencanaan pembangunan RSUD type B di lahan Eks PT. Inhutani, Tanjung Redeb. Dan telah menghabiskan anggaran sekitar Rp5 milyar lebih untuk tahapan perencanaan seperti uji kelayakan, pembuatan DED (Detail Engineering Design) dan sebagainya.

Namun, dalam kepemimpinan Muharram – Agus Tantomo yang merupakan Bupati dan wakil Bupati Berau periode 2016-2021, rencana pembangunan RSUD type B diubah lokasinya. Wabup Agus Tantomo mengungkapkan Pemkab Berau memastikan pembangunan RSUD type B bakal dilakukan di Kampung Bangun, Kecamatan Sambaliung.

“Bertahun-tahun tidak ada progres di areal eks Inhutani. Ketika kami baru dilantik, memang itu yang menjadi perhatian kami,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Dilanjutnya, pantas pembangunan RSUD tersebut selama ini tidak terealisasi karena permasalahan izin lahan yang diserahkan PT Inhutani pada kenyataannya telah berakhir sejak lama, sehingga lahan kembali ke negara. Sehingga, lokasi tersebut kembali digunakan oleh masyarakat.

“Mana boleh mengusir mereka, makanya saya bilang ini pepesan kosong disuruh ngusir orang-orang yang punya sertifikat dan menguasai lahan itu selama ini,” jelasnya.

Kemudian, lokasi pembangunan rumah sakit yang baru, Agus menilai lebih tepat di wilayah Kecamatan Sambaliung. Sebab, beberapa lokasi alternatif yang selama ini muncul dan ramai menjadi pembahasan masyarakat banyak merupakan wilayah yang padat aktifitas baik dari kegiatan ekonomi maupun mobilisasi kendaraan.

“Penetapan lokasi selama ini salah, kalau dibangun rumah sakit di sana (lahan eks PT. Inhutani red), arus lalu lintas bakal bertambah padat,” ujarnya.

Maka, perencanaan pengembangan kota perlu diurai. Jika ada yang menganggap RSUD yang baru terlalu jauh di Sambaliung, Agus mengaku punya perhitungan sendiri dengan perbandingan jarak tempuh dan waktu tempuh menuju rumah sakit tersebut nantinya.

“Sekarang, jarak misalnya 10 kilometer, jangan hitung jaraknya tapi waktu tempuhnya. Kalau ke arah Sambaliung pasti bisa lebih cepat karena arus lalu lintas kendaraan tidak padat,” jelasnya.

Menanggapi hal ini, banyak anggota DPRD Berau yang menolak pengalihan lahan tersebut, namun ada pula yang mendukung. Beberapa anggota dewan yang menolak keras rencana itu antara lain, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Berau, M. Ichsan Rapi bersama Eli Esar Kombong dan Fery Kombong serta beberapa fraksi lainnya.

Daeng Iccang –sapaan akrab M. Ichsan Rapi, mengatakan sesuai rencana awal, pembangunan rumah sakit baru sebaiknya tetap dilakukan di kawasan Tanjung Redeb. Sebab, Tanjung Redeb merupakan kawasan sentral dari beberapa wilayah, yakni Kecamatan Teluk Bayur, Gunung Tabur, dan Sambaliung. Dimana, letak Tanjung Redeb yang berada di tengah dari tiga kecamatan sekitarnya akan lebih memudahkan masyarakat menjangkau rumah sakit.

“Apa lagi pembangunan rumah sakit sudah direncanakan sejak lama dan lahannya pun telah ditentukan di Tanjung Redeb. Jadi sebaiknya tetap di ibu kota kabupaten,” tegas anggota Komisi III DPRD Berau ini. Iccang menjelaskan pertimbangan lain menolak rencana itu yakni infrastruktur yang ada di Tanjung Redeb sudah memadai. Utamanya infrastruktur dasar, seperti listrik, PDAM, dan akses jalan.

Lebih lanjut, Iccang mengatakan kajian pembangunan rumah sakit baru ini sudah ada sejak lama. Proses tahapannya pun sudah selesai semua, mulai dari Feasibility Study (FS) atau studi kelayakan, masterplan sampai proses DED.

“Itu prosesnya mulai zaman bupati (Muharram –red) masih duduk di DPRD, dan beliau ikut menyetujui. Masa sekarang jadi bupati, harus dimulai dari nol lagi,” kata pria yang juga anggota Badan Anggaran DPRD ini.

Menurut Iccang, atas pertimbangan beberapa hal tadi, sehingga ia menganggap pembangunan rumah sakit baru harus tetap di Tanjung Redeb.

“Kalau Pemkab tetap ngotot pindah ke Kampung Bangun, saya bersama Fraksi Gerindra akan melawan dan menolak dengan tegas,” tantang Iccang.

Hal senada pun disampaikan Sekretaris Fraksi PKS DPRD Berau, M. Yunus pun menilai pengalihan lokasi pembangunan RSUD type B di Kampung Bangun perlu dikaji ulang.

“Pembangunan rumah sakit baru memang sangat mendesak untuk dibangun, namun untuk pengalihan lokasinya masih perlu dikaji ulang. Pemkab Berau sudah mengeluarkan dana yang besar loh untuk perencanaan pembangunan di lahan lama,” ujarnya pria yang juga anggota Komisi II DPRD Berau ini.

Ditambahkan pula, Ketua Komisi II DPRD Berau, Elita Herlina. Ketua Fraksi Golkar DPRD Berau ini mengatakan lokasi baru yang direncanakan akan dibangun rumah sakit tersebut sangat jauh dari kepadatan penduduk, yang notabene kebanyakkan pasien yang akan menggunakan rumah sakit itu adalah masyakarat Tanjung Redeb dan sekitarnya.

“Sama dengan beberapa anggota dewan, pengalihan lahan rumah sakit baru harus dikaji ulang. Sebelum mengalihkan ke lokasi baru, Pemkab Berau pun harus melakukan uji kelayakan di lokasi tersebut dan juga membuat kembali masterplan sampai DED juga ada,” ucap politisi partai Golkar ini.

Tapi, anggota DPRD Berau lainnya dari Fraksi NasDem, Haryono justru menilai bahwa rumah sakit baru layak di Sambaliung. Dirinya menilai rumah sakit harus dibangun di kawasan permukiman penduduk. Meski di Kampung Bangun saat ini bukan kawasan permukiman, namun sesuai Perda RTRW Provinsi Kaltim yang telah ditetapkan, ke depan Sambaliung akan jadi kawasan permukiman penduduk.

“Jadi menurut saya, rumah sakit mutlak harus dibangun karena kebutuhan masyarakat. Terkait lokasinya di Kampung Bangun, saya rasa tidak masalah, karena ini terkait pengembangan atau pemerataan pembangunan,” ucap anggota Komisi III DPRD Berau ini.

Seperti diketahui, lahan pengalihan yang diatasnya akan dibangun RSUD type B ialah tanah milik Oetomo Lianto, yang juga diketahui adalah kakak kandung Wabup, Agus Tantomo. Dimana, tanah seluas 10 hektar tersebut akan dihibahkan kepada Pemkab Berau untuk pembangunan rumah sakit pelat merah tersebut.#MAR

Comments are closed.