BeritaKaltim.Co

Masyarakat Sehat, Hutan Lestari

Hotlin Ompusunggu-1Salam Perspektif Baru,

Tamu kita, Hotlin Ompusunggu yang mempunyai latar belakang pendidikan sebagai seorang dokter gigi lebih memilih memfokuskan hidupnya untuk memberikan pendampingan terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar Taman Nasional Gunung Palung di Kalimantan Barat. Ia bersama Yayasan yang didirikan bernama Alam Sehat Lestari (ASRI) ingin meningkatkan taraf kesehatan masyarakat agar berhenti menjadi illegal loggers.

Hotlin dan Yayasan ASRI berkeyakinan bahwa manusia bisa sehat karena lingkungan yang sehat. Jadi kita membutuhkan lingkungan yang sehat. Konteks lingkungan yang sehat adalah hutan yang sehat. Dengan hutan yang sehat, kita akan mempunyai udara dan air yang bersih. Dua komponen itu sangat penting untuk menunjang kesehatan yang lebih baik. Jadi dia mengintegrasikan antara program kesehatan dan lingkungan. Jadi filosofinya adalah kita tidak bisa sehat tanpa ada lingkungan yang sehat. Kalau hutan rusak maka kualitas hidup akan makin buruk.

Yayasan ASRI memberikan insentif bagi mereka yang bisa menjaga hutan kami. Salah satu insentifnya yaitu mereka mendapat diskon biaya berobat yang lebih. Selain itu kita juga memberikan pembayaran non tunai yang juga menunjang peningkatan perlindungan alam. Jadi di samping insentif kesehatan kalau mereka dari desa yang menjaga hutan mereka, mereka juga mendapat diskon 70%. Kita juga menerima pembayaran non tunai, yaitu mereka bisa membayar dengan bibit pohon, lalu bibit pohonnya nanti kita tanam di hutan area reboisasi penanaman hutan.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Tea Marlini Candra sebagai pewawancara dengan nara sumber Hotlin Ompusunggu Wawancara lengkap dan foto narasumber dapat pula dilihat pada situs http://www.perspektifbaru.com. Lewat situs tersebut Anda dapat memberikan komentar dan usulan.

Kita menyadari bahwa kini perempuan mempunyai peran yang makin berkembang. Saat ini banyak perempuan inspiratif yang menerapkan ilmunya untuk kemaslahatan masyarakat seperti yang Anda lakukan. Selain sebagai dokter gigi, Anda juga mempunyai sebuah lembaga sosial.

Saya percaya kepada pembangunan yang menyeluruh dari manusia. Jadi manusia sehat itu secara keseluruhan. Saya tertarik melihat aspek sehat yang mempengaruhi tubuh, tetapi berasal dari luar badan kita. Karena itu saya tertarik dengan perkembangan masyarakat. Sejak 2007 saya dengan rekan saya dr. Kinari memulai program ini dengan mendirikan Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI).

Bagaimana awalnya sehingga Anda mulai melakukan pendampingan terhadap masyarakat seperti yang Anda lakukan saat ini?

Kembali ke masa kecil, saya melihat terjadi ketidaksamaan. Ada orang yang tinggal di tempat sangat kekurangan, sedangkan yang lain tinggal di tempat serba berlebih. Masyarakat yang hidup tertinggal itu mengerakan saya untuk berpatisipasi membuat masyarakat lebih baik. Jadi itu yang menginspirasi saya.

Saya membaca kisah Bunda Teresa di India, dimana saat masih kecil, ia melihat kelaparan di Somalia. Tetapi kemudian saya berfikir, mengapa harus jauh-jauh ke luar negeri. Di Indonesia ternyata masih banyak tempat-tempat yang membutuhkan pertolongan. Masih banyak daerah yang jauh tertinggal dari pengembangan kehidupan layak, dan perlu pertolongan orang dari luar.

Apakah bisa Anda ceritakan mengenai ASRI?

Dari katanya Alam Sehat Lestari, jadi ada unsur alam dan lingkungan. Kami berkeyakinan bahwa manusia bisa sehat karena lingkungan yang sehat. Jadi kita membutuhkan lingkungan yang sehat. Konteks lingkungan yang sehat adalah hutan yang sehat. Dengan hutan yang sehat, kita akan mempunyai udara dan air yang bersih. Dua komponen itu sangat penting untuk menunjang kesehatan yang lebih baik.

Apa saja program ASRI?

Kami mempunyai program di Kalimantan Barat. Tepatnya di Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Ketapang. Kami juga memiliki lokasi pendampingan di Taman Nasional Gunung Palung.

Bagaimana kaitannya antara konservasi dan program kesehatan sehingga bisa berjalan bersama?

Kami mengintegrasikan antara program kesehatan dan lingkungan. Jadi filosofinya adalah memberikan pemahaman bahwa kita tidak bisa sehat tanpa ada lingkungan yang sehat. Kami memberikan apresiasi kepada masyarakat yang bisa menjaga hutan. Kami memberikan insentif bagi mereka yang bisa menjaga hutan. Jadi kita menanamkan pesan, kalau hutan rusak maka kualitas hidup akan makin buruk.

Apa bentuk insentif yang mereka dapatkan?

Insentif yang kita berikan berupa partisipasi terhadap perlindungan hutan. Intinya, bagaimana kita bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat agar lebih sehat, dan hutan tetap terjaga.

Bagi mereka yang bisa menjaga hutan kami berikan opsi yang lebih baik kepada mereka. Salah satu opsinya yaitu ketika mereka menjaga hutan, mereka mendapat diskon biaya berobat yang lebih. Selain itu kita juga memberikan pembayaran non tunai yang juga menunjang peningkatan perlindungan alam. Jadi di samping insentif kesehatan kalau mereka dari desa yang menjaga hutan mereka, mereka juga mendapat diskon 70%. Kita juga menerima pembayaran non tunai, yaitu mereka bisa membayar dengan bibit pohon, lalu bibit pohonnya nanti kita tanam di hutan area reboisasi penanaman hutan.

Tadi disebutkan salah satu alat pembayaran non tunai adalah dengan menggunakan bibit pohon. Apa lagi alat pembayaran lainnya yang bisa digunakan?

Kotoran sapi. Biasanya orang menjual sapi untuk bayar biaya pengrobatan. Nah sekarang sapinya silakan dipelihara, dan kotoranya saja yang digunakan. Nanti kotorannya bisa dikelola untuk pupuk kompos.

Lalu, bagaiman proses monitoringnya? Apakah mereka benar-benar serius dalam menjaga hutan?

Kami monitor per dusun. Kami menerapkan dua sistem, dari masyarakat dan dari staf ASRI. Jadi kami cross check informasi agar datanya reliable. Yang kami ukur adalah akses logging, sehingga akan kelihatan akses logging aktif yang masuk ke hutan.

Kami mendata berapa bunyi sirine yang aktif, berapa pengolahan kayu yang berasal dari Taman Nasional, dan daerah mana yang masih ada pemekaran hutan untuk berkebun. Jadi setiap periode waktu tertentu kami mendata komponen-komponen itu.

Apa tantangan-tantangan di lapangan yang muncul dari masyarakat setempat?

Waktu kami melakukan survey, hampir 99% percaya bahwa mereka perlu melindungi hutan. Dari pribadinya, mereka mau hutan itu terlindungi. Tapi memang benar banyak tantangannya. Yang menarik, saat saya baru pertama kali dengan para logger, dimana biasanya kalau kita meeting berkenalan dulu, mereka marah karena takut kita menuliskan nama mereka. Jadi saat pertemuan pertama tidak ada perkenalkan diri.

Mereka marah karena mereka pikir kita mengintimidasi. Tetapi dengan mereka datang saja sudah merupakan langkah yang bagus sekali. Dalam pertemuan itu, kami mengambil posisi lebih mendengar. Hingga seorang bapak, salah seorang logger, berkata “Kita harus bepikir sebenarnya mereka mau membantu kita. Kita tahu berapa tahun waktu yang dibutuhkan untuk pohon itu tumbuh, lalu kalau kita tebang juga lama-lama habis. Lalu apa kerja kita setelah itu? Mereka mau menolong kita karena tidak bisa terus-terusan menebang hutan. Sekali kita potong berapa menit saja sudah habis dan harus menungu tumbuh lagi, maka lama–lama habis.”

Kadang-kadang kita harus mempunyai cara khusus bagaimana mendekati orang-orang seperti itu melalui pendekatan persuasif. Di desa-desa yang langsung berbatasan dengan Taman Nasional, kita ada perwakilan dusun seperti kader yang namanya Sahabat Hutan (SAHUT). Mereka menjadi jembatan kita dengan masyarakat. Mereka yang mengajak tetangganya dan mendata. Mereka tidak hanya mencari siapa yang masih trauma, tetapi bagaimana mendapatkan aspirasi masyarakat. Jadi dari Sahabat Hutan ini kita banyak membentuk kelompok tani juga untuk program-program lain yang cocok dengan masyarakat di tempat itu.

Sebelum sampai titik dimana masyarakat akhirnya mendukung program kerja ASRI, apa masalah paling krusial yang ada di Taman Nasional tersebut?

Mulai dari banyaknya illegal logging dan ladang berpindah.

Pada masa awal ASRI mengenalkan dan mengajak masyarakat untuk tidak lagi melakukan illegal logging, apakah penduduk langsung ikut mendukung?

Kami membuat rating dusun dan membedakannya berdasarkan warna. Ada tiga warna, yaitu merah, biru, dan hijau. Merah yang masih banyak terjadi illegal logging. Biru berarti sudah tidak ada lagi kerusakan hutan. Sedangkan hijau berarti ada di tengah-tengah, yaitu illegal logging sudah berkurang, tetapi belum sampai berhenti seratus persen. Jadi mereka menuntut, “Kami sudah berusaha. Memang kasus pencurian kayu belum sampai nol, tetapi berikan kami penghargaan.”

Kami selalu berkomunikasi secara berkelanjutan dengan masyarakat. Kami mendengarkan mereka, lalu kami mulai membuat sistem penghargaan untuk mereka. Walaupun masih ada illegal logging, tetapi mereka sudah berusaha mengurangi.

Mengenai semangat masyarakat dalam mendukung program-program seperti ini. Apakah semangat mereka tetap stabil atau mulai mengendur?

Secara umum stabil, tetap saja ada yang tidak yakin. Misalnya, saat bertemu dengan 5.000 orang pasti ada lima orang yang tidak ikut bergabung. Selalu sulit bila bertemu yang nakal. Pendekatan untuk yang nakal akan berbeda. Sedangkan bagi yang ingin benar-benar memperbaiki diri, kami akan mendampingi secara intensif.

Comments are closed.