PLTN Perlu Banyak Kajian

oleh

21gamalisKPSAMARINDA. BERITAKALTIM.COM – Rencana pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Talisayan Kabupaten Berau sudah cukup serius. Kendati banyak mengundang kontroversi proyek ini rencananya dimulai 2017.

Menanggapi hal itu Anggota Komisi III DPRD Kaltim Gamalis mengatakan pembangunan PLTN harus melalui banyak kajian sebelum dimulai. Pasalnya apabila tidak dilakukan dengan benar berbagai risiko besar pasti mengancam Berau.

Seperti diketahui rencana pembangunan proyek besar tersebut merupakan keinginan Gubernur Kaltim dalam rangka memenuhi kebutuhan listrik di berbagai daerah. Hal itu ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) oleh Pemprov Kaltim dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) 2015, dan kemudian direncanakan mulai dilaksanakan 2016.

Pemkab Berau sendiri sudah menyediakan lahan, namun dinilai masih kurang. Untuk memenuhi sejumlah persyaratan awal direncanakan akan dianggarkan dalam APBD 2017. Hal ini disebabkan defisit anggaran yang dialami oleh berbagai daerah di Kaltim.

Gamalis mencontohkan, kajian dari segi geografis, ekologi dan lainnya sangatlah penting. Sebab ini bertujuan untuk meminimalkan berbagai kemungkinan terburuk. “ Semua tentu tidak ingin kasus yang terjadi di Fukusima Jepang terjadi di Kaltim. Walaupun sejauh ini Berau dinilai daerah aman dari gempa, perlu kajian semua aspek untuk memastikan,” sebut Gamalis.

Selain itu sebelum melangkah lebih jauh yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana penerimaan masyarakat khususnya warga Berau terkait pembangunan tersebut. Sebab penting bagi pemerintah untuk mempertimbangkan berbagai aspek dimaksud.

Di antaranya, apakah akan mengganggu lingkungan dan alam karena lokasi yang dipilih dekat dengan laut. “Kondisi alam di Berau salah satu yang terbaik di dunia dan terus digalakkan dalam rangka memaksimalkan pariwisata. Kalau ini jadi dibangun bagaimana dengan itu semua, dan bagiamana juga dengan jumlah wisatawan,” jelasnya.

Politikus asal PPP itu mengatakan kendati secara ekonomi bahan baku nuklir yakni thorium mudah di dapat di sejumlah daerah di Indonesia dan dinilai lebih murah dibandingkan dengan batu bara seperti yang selama ini digunakan, pembangunannya membutuhkan waktu yang cukup panjang dan biaya besar.

Ia khawatir dengan melihat kondisi keuangan daerah yang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir program pembangunannya akan memakan waktu yang lebih lama lagi dan bisa saja bakal mangkrak. #adv/bar/oke