BeritaKaltim.Co

Diserang Mosi tidak Percaya, Ini Kata Kepsek SMKN 1 Bontang

BONTANG, BERITAKALTIM.co- Menanggapi adanya mosi tidak percaya yang dialamatkan padanya, Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Bontang Kasman Purba, yang telah menjabat sejak tahun 2014 lalu berdalih tentang tudingan yang dilayangkan para guru tersebut.

Menurut Kasman Purba saat dijumpai di kantornya, Rabu (29/03/17), apa yang ia lakukan sudah sesuai dengan prosedur pengelolaan sekolah berdasarkan aturan. Terkait absensi jadwal masuk yang disoal, ia mengatakan hal tersebut berawal dari rencana pencairan tunjangan profesi yang akan dilakukan pada akhir Maret 2017 oleh Pemerintah Provinsi, berdasarkan nilai absensi guru.

Dari semula sistem absensi menggunakan fingerprint, kemudian diminta berubah menjadi tanda tangan basah untuk tiga bulan terakhir. Dan ditindaklanjuti pihak sekolah yang didasarkan pada fingerprint. Namun dalam kenyataanya, ada guru yang memiliki jumlah ketidakhadiran (alfa) serta hanya satu kali absen (A1) dari keharusan dua kali absensi dalam sehari.

Permasalahan inilah yang kemudian melebar, dan berujung protes terhadapnya. Sebab, jika ada absensi yang tidak lengkap, akan turut berpengaruh pada jumlah tunjangan yang diterima oleh guru bersangkutan.

“Saya sudah jelaskan kepada yang bersangkutan, tapi sepertinya tidak terima. Dan sepertinya berupaya mengajak guru lain yang tidak terkait hal tersebut untuk memprotes saya. Padahal saya hanya menjalankan aturan,” ujar Kasman.

Dikatakan Kasman, bahkan ia sempat diusir oleh para guru yang kala itu tengah menggelar rapat bersama, saat ia ingin memberikan penjelasan terkait absensi yang disoal tersebut. Sementara terkait absensinya sendiri, Kasman menjamin ia tidak akan mengalami keterlambatan, jika tidak ada urusan di luar sekolah yang harus terlebih dulu diselesaikannya.

“Saya terlambat absen pun bisa dihitung dengan jari, itupun karena ada urusan lain di luar sekolah terlebih dulu sebelum saya ke sekolah,” tambahnya.

Dilanjutkan Kasman, terkait kewajiban mengajar selama enam jam setiap minggu yang turut disoal, tak dipungkiri Kasman terjadi. Ia mengaku kadang terpaksa meninggalkan kewajiban mengajar tersebut, dikarenakan ada urusan lain yang mendesak untuk kepentingan sekolah yang tidak bisa ditunda. Sehingga mau tidak mau, ia meminta guru lain untuk menggantikan sementara.

“Saya tidak murni meninggalkan, tapi terkadang saat ada rapat di Bontang Lestari, atau saya dipanggil atasan di Dinas, dan lain sebagainya. Makanya kewajiban enam jam seminggu terkadang saya minta gantikan guru lain. Sebab waktunya berbenturan, satu sisi saya harus menjalankan sebagai guru, satu sisi saya sebagai kepala sekolah yang harus bertanggungjawab di sekolah ini”, tutupnya.#Aw

Comments are closed.