BeritaKaltim.Co

Menyusuri Keindahan Hutan Lindung Sungai Lesan

TANJUNG REDEB, beritakaltim.co- Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL) begitu masyarakat menyebutnya, HLSL yang berada di Kecamatan Kelay ini di apit oleh 4 Kampung, yakni Kampung Muara Lesan, Lesan Dayak, Sidobangen dan Kampung Merapun. Meski keberadaan HLSL sudah cukup lama, namun hingga sampai saat ini masih sedikit dari wisatawan lokal yang mengetahui keberadan objek wisata alam yang ada di Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau ini.

Tak di pungkiri untuk menuju objek wisata alam Hutan Lindung Sungai Lesan ini memang membutuhkan waktu yang cukup lama, para wisatawan harus menempuh perjalanan selama 4 jam dari Kota Tanjung Redeb menuju Kampung Lesan Dayak di Kecamatan Kelay. Sesampainya di Lesan Dayak wisatawan harus kembali menempuh perjalanan mengunakan perahu menyusuri Sungai Kelay dan Sungai Lesan selama 45 menit.

Namun selama perjalanan para wisatawan tidak akan di buat bosan, pasalnya keindahan hutan di sepanjang bibir sungai yang membantang luas membuat mata tak henti hentinya untuk selalu memandang hingga enggan berpaling, apalagi selama perjalanan wisatawan juga akan menjumpai berbagai macam flora dan fauna yang ada di sekitar sungai.

Usai menempuh perjalanan darat selama 4 jam serta menyusuri Sungai Kelay dan Sungai Lesan selama 45 menit, tibalah para wisatawan di pos pemantau Hutan lindung Sungai Lesan. Kedatangan wisatawan di hutan ini akan di sambut dengan gemericik air sungai serta kesejukan alam dari HLSL yang sangat terjaga.

Rasa lelah selama perjalanan panjang menuju HLSL akan pudar tatkala wisatawan mulai menyusuri hutan, dimana hutan lindung yang luasnya mencapai 11.238/ha ini memiliki ratusan jenis Flora dan Fauna yang cukup langka dan nyaris punah. Salah satu pegelola Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Operasi Wallacea Terpadu (OWT) Samuel , yang melakukan Konservasi di Hutan Lindung Sungai Lesan mengatakan, didalam kawasan HLSL ini selain menjadi rumah bagi ratusan jenis Flora dan Fauna namun juga HLSL ini menjadi lokasi konservasi habitat orang utan yang keberadaanya saat ini nyaris punah. Disini juga terdapat jenis burung Bangau Strom yang jumlahnya di dunia hanya tersisa 1000 ekor.

“ Luas HLSL ini 11.238/ha,selain menjadi kawasan hutan lindung disini juga menjadi objek wisata alam yang sangat bagus dan menantang,dimana para wisatawan yang datang ke lokasi sini akan menemukan sensasi bertemu dengan burung langka yang saat ini sudah tidak dapat lagi di jumpai dihutan biasa. Selain itu disni juga rumah bagi berbagai macam jenis pohon yanh dilindungi, ada Ulin, Meranti,Bengkirai dan masih banyak lagi, bahkan disini terdapat pohon Bengkirai yang usianya sudah lebih 100 tahun,” ujar pria berkulist sawo matang ini.

Keberadaan HLSL ini memang saat ini masih sangat awam bagi wisatawan lokal, namun ternyata HLSL ini sudah sangat terkenal di kalangan wisatawan asing, seperti halnya Nicky Van Meer, wisatawan asal Belanda ini mengaku sengaja datang ke Indonesia hanya untuk menikmati keindahan hutan tropis yang ada di Kalimantan terutama di wilayah Hutan lindung Sungai Lesan. Apalagi keberadan hutan Kalimantan ini merupakan paru-paru dunia.

“ Saya sudah datang keberbagai negara, tapi pulau Kalimantan merupakan pulau yang memiliki hutan yang sangat baik, untuk Hutan Lindung ini sangat cantik, disini banyak sekali pohon pohon yang memang tidak saya temukan di negara manapun selain di Indonesia. Burung burung yang ada disni juga warnanya sangat cantik, saya melakukan berjalan kaki kurang lebih 9 jam menyusuri hutan ini, selama itu saya menemukan berbagai macam hal baru yang belum saya temui selama ini. Saya berfikir mungkin tahun depan akan saya agendakan untuk kembali kesini lagi” ujarnya.

Bukan hanya nicky, ke indahan serta ke asrian HLSL mampu menarik perhatian Ruud Venropi, pria yang bersal dari Belanda dan sudah berusia hampir 60 tahun ini mengaku mengetahui keberadaan HLSL dari internet, setelah melihat tentang kondisi HLSL dan sejumlah flora dan fauna yang ada Ruud memutusan mengujungi Indonesia terkhusus HLSL yang ada di Kab.Berau.

“ Saya kesini bersama istri saya, saat baru pertama kali datang kesini yang saya rasakan adalah ketenangan dan kesegaran udara yang di hasilkan. Saya sering masuk hutan di berbagai belahan dunia tetapi hutan di luar Indonesia berbeda dengan hutan disini. Bukan hanya tetang hutan yang menjadi rumah bagi berbagai satwa langka namun juga saya melihat ada kekompakan dari masyarakat lokal yang sepakat menjaga keberadaan hutan sebagai sumber kehidupan dan juga rumah bagi satwa langka” jelasnya.

Saat ini keberadaan HLSL berada di bawah pengawasan dari Kesatuan Pengelolan Hutan Produksi (KPHP) Berau Barat di bawah binaan Dinas Kehutanan Provinsi Kaltim. Dalam sejarahnya, keberadaan HLSL sudah beberapa kali mengalami perubahan status dan pengelolaan, namun kini stastusnya sebagai hutan lindung tetap di pertahankan mengingat fungsi ekologisnya sebagai penyangga air dan keanekaragaman hayati. (Zuhri)

Comments are closed.