BeritaKaltim.Co

Aneh-aneh Awang Faroek

Catatan Bang Uchok

Entahlah. Kenapa saya jadi kepengen membuat tulisan ini. Mencermati situasi di Provinsi Kalimantan Timur belakangan ini. Saya melihat ada hal yang terasa aneh dengan keputusan-keputusan yang diambil Awang Faorek Ishak. Tentu saja dalam kapasitasnya sebagai Gubernur Kalimantan Timur.

Keputusan kontroversi paling update adalah ketika dia ingin ada Masjid Al-Faruk di eks lapangan bola Kinibalu, Kampung Jawa. Kontraktor sudah diturunkan, konon dananya sudah tersedia Rp73 miliar.

Sahabat saya, Syaparuddin yang dulu jadi anggota DPRD Kaltim dari PPP, terkaget-kaget. “Mesjid sebagus apa lagi yang dibangun Pak Gubernur itu? ucap dia.

Kata kawanku yang sekarang berniat mencalonkan diri sebagai anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah) asal Kaltim itu, tak ada niatnya menghalangi Pak Gubernur membuat masjid baru. Bahkan, kalau boleh dia ikut mengusulkan; “Anggaran sebesar 71 miliar itu bisa membangun 10 masjid di seluruh Kaltim. Tapi jangan di lapangan Kinibalu,” ujar dia.

Kegelisahan Syaparuddin ini dialami banyak tokoh-tokoh lain di daerah ini. Pasalnya, masyarakat sekitar lapangan bola Kinibalu juga menolaknya. Mereka menolak karena di lingkungan mereka sudah tersedia banyak masjid, Selama ini, tidak ada keluhan warga kekurangan tempat ibadah, meski ketika sholat Ied pada hari raya.

Nah, kenapa Awang Faroek Ishak memaksa. Sementara masyarakat setempat menolaknya? Aneh kan?

Keanehan ‘kelakuan” Awang Faroek ini sebenarnya bukan yang pertama disimak oleh warga Kaltim. Sebelumnya, dia menebar konflik dengan Haji Rusli, pengusaha pemilik Hotel Mesta International. Konflik itu terjadi karena Pemprov Kaltim berusaha mengambilalih SMU 10 Melati yang semula dibangun oleh sebuah Yayasan yang dipimpin Haji Rusli.

Konflik berkembang membuat kegaduhan di media massa. Mempertontonkan cekcok, bersilat lidah, antara tokoh-tokoh di Kaltim. Terlepas siapa yang benar dan salah, sepertinya tidak ada lagi jalan keluar yang bisa ditempuh selain ‘berkelahi’.

Masalah lain yang bisa membuat kita garuk-garuk kepala, adalah ketika dia mengambilalih Rumah Sakit Islam (RSI) di Samarinda. Semula, rumah sakit ini dibangun tokoh-tokoh Kaltim zaman Gubernur H Suwandi. Kemudian pengelolaannya oleh sebuah yayasan dengan mendapat bantuan dari APBD Pemprov Kaltim.

Lagi-lagi warga Kaltim dipertontonkan bagaimana seorang Awang Faroek dengan jabatannya sebagai gubernur ‘memusnahkan’ yayasan pengelola RSI.

Barangkali, memang ada masalah di SMU 10 maupun di RSI versi Pemprov Kaltim. Tapi, seperti kata teman saya tadi, Syaparuddin; “Apakah untuk menangkap tikus harus membakar rumah?”

Tiga masalah itu, sekarang ibarat api dalam sekam. Hubungan psikologi Awang Faroek Ishak dengan tokoh-tokoh Kaltim yang sebenarnya adalah kawan dekatnya semasa muda jadi keruh.

“Entahlah, nanti kalau sudah gak jadi gubernur. Apakah masih ada kawan-kawan seperjuangan dulu yang menemani dia,” ucap Syarifuddin Gairach, tokoh Kaltim. Dia ditemani Syaifuddin Dj.

Sejak Awang Faroek Ishak terkena stroke dan sampai sekarang dibantu pergerakannya menggunakan kursi roda, banyak kalangan memang mengakui ada yang berbeda dengan Awang Faroek yang dulu. Termasuk sehari-hari di kantor gubernur.

Para staf sudah lama melihat fakta ini. Tindakan yang “aneh-aneh”. Hanya saja, bagaimana mereka mau membantah ‘perintah’ atasannya itu.

“Kita doakan saja beliau lebih sehat, agar keputusan yang dihasilkan dalam memimpin daerah ini menjadi lebih sehat juga,” ujar Syapar yang sekarang menjadi pengusaha Rumah Makan Sahabat Gus Dur di kawasan Sambutan Samarinda itu. Sekedar catatan, masa bhakti Awang Faroek Ishak sebagai Gubernur Kaltim berakhir Desember 2018. Dia tidak bisa maju kembali dikarenakan jabatan itu sudah yang keduakali.

Di mata kawan-kawan seperjuangan Awang Faroek Ishak di masa muda, sebenarnya berharap sahabatnya itu mengakhiri masa jabatan dengan manis. Tidak membangun konflik yang berujung permusuhan. Apalagi dengan teman-teman sendiri. #Samarinda, 9 Desember 2017

Comments are closed.