BeritaKaltim.Co

Nasib pelajar SMA di Pulau Maratua Memprihatinkan

TANJUNG REDEB, beritakaltim.co- Kisah menarik terjadi pada dunia pendidikan di pulau Maratua, salah satu pulau terluar di Indonesia, Tepatnya di kabupaten Berau, kalimantan Timur. Para pelajar di SMA 9 yang merupakan satu-satunya SMA di pulau tersebut terpaksa harus belajar dengan kondisi yang kurang layak, bahkan beberapa waktu lalu terpaksa siswa menjadi tukang untuk memperbaiki sekolah.

SMA 9 yang memiliki 14 guru tersebut hanya memiliki 3 ruang kelas dan dihuni oleh sekitar 100 siswa, sehingga satu ruang kelas ada yang diisi hingga 60 siswa. Tentu hal ini sangat tidak nyaman dan mengganggu konsentrasi para pelajar.

Menurut Wakil Bupati Berau, Agus Tantomo yang dihubungi mengatakan menjadi kendala untuk pembangunan karena saat ini wewenang SMA dan SMK telah dipegang oleh provinsi, sehingga untuk pembangunannya menemui kendala, kalaupun kita anggarkan tentunya melanggar aturan.

“UPT Pendidikan kan tidak ada, jadi aneh ini, kan yang punya kewenangan tidak tahu, karena jauh, sedangkan kami yang dekat ini lebih paham situasinya, namun tidak bisa apa-apa,” ujarnya, Senin (11/12) .

Agus menambahkan, memang menerima laporan terkait kondisi SMA di Maratua namun menemui kendala karena kabupaten tidak memiliki wewenang untuk melakukan perbaikan, kalaupun pemprov lamban menangani, maka kemungkinan kami akan menggunakan dana CSR untuk perbaikan sekolah tersebut.

“Kalau pemprov lamban, maka kami akan menggunakan dana CSR untuk melakukan perbaikan,” tegasnya.

Sementara itu salah seorang guru sekolah tersebut yang enggan dikutip namanya menceritakan bahwa ini merupakan hasil rehab para siswa karena beberapa waktu lalu sempat ambruk dan dibangun ulang menggunakan bahan seadanya.

Ia menceritakan pada Bulan September lalu sempat roboh akibat tiang penyangga tidak kuat, karena di hantam oleh angin kencang, dan atas swadaya guru dan masyarakat Maratua sekolah tersebut dibangun kembali.

“Seharusnya kapasitas kelas seharusnya 25 saja namun tahun ini kami menerima hingga 58 siswa, tentu saja over kapasitas, namun mau diapa, mereka mau belajar dimana, dan terpaksa kami membangun sekolah darurat tersebut,” katanya.

Untuk SMA 9 pun menurutnya sudah berulang kali melaporkan kejadian ini ke Dinas Pendidikan di Kabupaten Berau, maupun Provinsi dan juga melihatnya bukti berupa foto kondisi sekolah SMA 9 yang kurang layak. Bahkan kepala SMA 9 pernah mengajukan ke Bidang Sarpras Dinas Pendidikan Provinsi kalimantan Timur, namun tidak pernah ada respon.

“Kepala SMA 9 pernah meminta bantuan kepada Bidang Sarpras Dinas Pendidikan Kalimantan Timur, namun hingga saat ini belum ada respon terkait masalah ini,” tutupnya. (adv/mar)

Comments are closed.