BeritaKaltim.Co

Jurus Parpol “Merayu” Jadi Pendamping Jokowi

JAKARTA, beritakaltim.co- Nama Joko Widodo melejit sebagai bakal Capres 2019. Ada 5 partai politik mendeklarasi untuk memimpin RI periode kedua. Tapi, siapa bakal mendampingi sebagai Cawapres?

Perang strategi mulai terasa. Nyaris semua parpol, tak hanya koalisi pendukung Jokowi, berusaha merebut hati bisa berdampingan dengan Joko Widodo.

Dari partai koalisi pendukung Jokowi, ada nama Wiranto yang diusulkan Partai Hanura. Kemudian yang masih ‘senyap-senyap’ adalah Suryo Paloh oleh Nasdem, Erlangga Hartarto oleh Golkar dan Romahurmuziy oleh PPP.
Dari luar koalisi partai, ada nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang mulai didorong Partai Demokrat. Tawarannya adalah siap bergabung dalam koalisi pengusung Jokowi jika AHY jadi pendampingnya.

PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) terlihat getol dan bersemangat mendorong ketua umumnya Muhaimin Iskandar sebagai Cawapres. Baliho dan poster-poster besar Cak Imin bertebaran ke seluruh pelosok.

Saking banyaknya sampai muncul cerita plesetan bahwa ada turis bule ke Candi Borobudur Magelang Jateng bertanya; who Muhaimin?
Dijawab kemudian Muhaimin is (kandar).

PKB selama ini berada dalam barisa partai pendukung pemerintah.

Wakil Sekjen PDIP Eriko Sutarduga dalam Diskusi Polemik bertema ‘Jokowi Pilpres dan Kita’ di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (3/3/2018), mengungkapkan, PKB di media sosial memposting akan mengajukan capresnya sendiri jika Ketum PKB Muhaimin Iskandar tidak mendapat posisi cawapres.

“Di sosmed pagi ini saya lihat ada PKB menyatakan kalau tidak berikan (posisi) cawapres, PKB akan maju usung capresnya sendiri. Jadi poros ketiga ini sangat mungkin dimotori oleh PAN, Demokrat, dan PKB,” Eriko menganalisa.

Dia menyebut, pertarungan pada Pilpres 2019 akan cukup sengit apabila hanya ada 2 pasangan calon. Dia berharap akan ada tiga calon pada Pilpres 2019 akan lebih baik.

“Diharapkan bahwa Pilpres 2019 nanti ada 3 pasangan calon. Agar belahan yang ada di masyarakat itu tidak terlalu luar biasa,” kata Eriko

Dengan adanya tiga calon, Pilpres 2019 disebutnya akan terjadi dua putaran. Pada putaran kedua itu, kata Eriko, perbedaan pendapat antar kelompok masyarakat akan dapat teredam.

“Ketika putaran pertama selesai, maka putaran kedua baru jadi 2 pasangan calon. Supaya belahannya tidak luar biasa. Kalau head to head itu luar biasa belahannya,” tuturnya.

Eriko pun menuturkan kemungkinan munculnya poros ketiga pada Pilpres 2019 sangat mungkin terjadi.

Seperti diketahui, PKS mendorong agar Demokrat-PKB-PAN membentuk poros baru di Pilpres 2019. Itu untuk menambah calon alternatif selain poros Gerindra-PKS yang akan mengusung Prabowo Subianto dan poros pemerintah dengan capres Joko Widodo (Jokowi). #le

Comments are closed.