BeritaKaltim.Co

Duel Berdarah Anak Petinggi BNNP Kaltim

SAMARINDA, beritakaltim.co- Kasus pembacokan Raja Avriary Resky Haryono (17) anak seorang petinggi BNNP Kaltim yang masih berstatus pelajar salah satu SMA Negeri di Samarinda kembali disidangkan.

Pada sidang pemeriksaan saksi korban Raja yang dihadirkan JPU Yudi Satrio dan Cendi di Pengadilan Negeri Samarinda, Senin(19/3/18) sore, memberikan keterangan terkait kronologis perkelahian saksi korban dengan terdakwa Mariadi yang berujung pembacokan.

Dihadapan Majelis Hakim yang dipimpin Parmatoni didampingi hakim anggota Decky Velix Wagiju dan Feri Hariyanta, saksi korban menceritakan bagaimana terdakwa Mariadi melalui chatingan instagram mengajaknya ketemu di samping gedung Auditorium SMA 1 jalan HM Ardan Samarinda.

Pertemuan kedua anak muda ini pada Sabtu 25 Nopember 2017 lalu. Dimana saksi Raja merasa emosi dituding terdakwa sebagai orang yang merusak hubungan Mariadi dengan pacarnya.

“Saya bilang ke dia untuk lebih jelasnya kita ketemu aja, tapi bukan maksud berkelahi,” terang Raja.

Kendati demikian, Saksi Raja sudah menduga kalau pertemuannya dengan Mariadi bakal terjadi duel diantara mereka.

“Apakah waktu ketemu itu saudara saksi langsung duel dan membawa teman,” tanya JPU Yudi.

“Iya pak, Saya bawa teman lima orang dan Mariadi juga membawa temannya, tapi mereka hanya menyaksikan kami berduel,” sahut Raja.

Diceritakan Raja, dalam perkelahian itu dia lebih unggul karena poster tubuhnya lebih besar dari Mariadi. Namun begitu saksi tidak menduga kalau Mariadi ternyata membawa senjata tajam berupa clurit.

“Saksi sempat lihat terdakwa bawa Clurit ?,” tanya JPU Yudi lagi.

“Waktu itu dia pakai jaket pak, saya juga tidak mengira kalau dibalik jaket itu dia menyelipkan clurit dipinggangnya.

“Apakah cluritnya sudah dalam kondisi terbuka? ” Ngak pak, clurit masih pakai sarung,”jelas Raja.

Dalam duel tersebut Raja nyaris tewas akibat sabetan Clurit terdakwa Mariadi.

Saksi korban mengaku megalami luka robek ditangan, kaki dan paha. Luka tersebut hingga kini belum sembuh total. “Saya ada penyakit keloit sehingga luka robek yang mendapat 8 jahitan ini susah sembuhnya,” tandasnya.

Korban Raja mengatakan beberapa luka dibagian tubuhnya itu karena menangkis serangan sabetan clurit terdakwa yang diarahkan kebagian kepala dan perut.

“Serangan clurit terdakwa saya tangkis pakai tangan. Kalau tidak kepala saya yang kena. Begitu juga ketika dia mengarahkan ke perut, saya tangkis pakai kaki,” ujarnya.

Raja sempat terjatuh dan bangkit lagi. Dalam kondisi terluka dia terus melakukan perlawanan hingga berhasil mencekik leher Mariadi.

Kondisi korban yang terluka kemudian dilarikan oleh teman-temannya ke rumah sakit Awahad Syahranie untuk mendapatkan pertolongan.

Keterangan saksi korban Raja kemudian dibantah oleh terdakwa yang diberi kesempatan Majelis hakim menanggapinya.

“Tidak benar yang mulia, kalau saya mengarahkan clurit di kepala dan perutnya. Namun begitu saksi korban tetap pada keterangannya. #Ib

Comments are closed.