BeritaKaltim.Co

Bapenda Predikasikan PAD Naik 2 Persen

TANJUNG REDEB BERITAKALTIM.CO- Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Berau mempredikskan bahwa pendapatan daerah pada tahun 2019 mendatang bakal mengalami peningkatan hingga 2 persen. Dimana pada tahun 2018 ini pendapatan daerah senilai Rp 1,568 triliun bakal naik menjadi Rp 1,6 triliun.

Dalam perhitungannya, Bapenda memprediksi bahwa pendapatan asli daerah yang terdiri dari pajak, retribusi, hasil pengelolaan kekayaan yang dipisahkan dan lain-lain PAD yang sah, direncanakan senilai Rp 213 miliar. Dalam hal ini terjadi penurunan sebesar 12,15 persen dari target di tahun 2018 ini yaitu senilai Rp 242 miliar. Kondisi ini disebabkan karena terjadinya perpindahan akun rekening pada PAD ke lain-lain pendapatan yang sah yaitu hibah dana BOS dan menurunya penerimaan dari bunga deposto.

Kemudian pada dana perimbangan yang terdiri dari DBH pajak, DBH SDA, DAU tidak termasuk DAK direncanakan senilai Rp 1,187 triliun atau terjadi kenaikan 3,44 persen dari tahun anggaran 2018 senilai Rp 1,147 teriliun. Sementara lain-lain pendapatan daerah yang sah senulai Rp 199,74 miliar mengalami kenaikan 11,94 persen jika dibandingkan dengan tahun 2018 ini yaitu senilai Rp 178,44 miliar. Hal ini disebabkan terjadinya perpindahan akun rekening untuk dana BOS yang semula pada pendapatan asli daerah berpindah ke lain-lain pendapatan daerah yang sah sesuai degnan perubahan Permendagri 33 tahun 2017.

Kepala Bapenda Berau, Maulidiyah menjelaskan, perhitungan yang dilakukan pihaknya ini belum termasuk Dana Alokasi Khusus (DAK Fisik dan nin Fisik), dana penyesuaian dan otonomi khusus serta bantuan keuangan provinsi dan dana desa. “Karena ini semua sifatnya spesifik grand atau dana yang dialokasikan sudah disertai dengan peruntukan belanjanya,” jelasnya.

Maulidiyah mengatakan bahwa perhitungan yang dilakukan ini menggunakan beberapa asumsi pendapatan seperti evaluasi pendapatan pada tahun sebelumnya dan realisasi tahun berjalan. Dalam evaluasi 3 tahun terakhir dimana pendapatan secara keseluruhan untuk tahun 2015 terealisasi senilai Rp 96,8 persen dari pencapaian target, kemudian tahun 2016 terealiasi senilai Rp 99,01 persen dan 2017 terealisasi senilai 89,5 persen.

Kemudian asumsi kondisi ekonomi makro. Dimana pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2016 sebesar 5,3 persen dengan inflasi 4,7 persen dan turun menjadi 5,01 persen dengan inflasi 4 persen pada tahun 2017. Kemudian pada tahun 2018 pertumbuhan ekonomi nasional 5,01 persen dengan inflasi 3,5 persen. “Asumsi ini pada dasarnya bisa benar atau pun kurang tepat. Ini bakal menjadi gambaran bagi pemerintah daerah untuk memaksimalkan berbagai potensi sumber pendapatan yang ada,” pungkasnya. (adv/mar)

 

Comments are closed.