BeritaKaltim.Co

Setelah Vonis Abun, Rita Widyasari tak Mampu Membantah Lagi

JAKARTA, beritakaltim.co- Terbukti menyuap Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, membuat Hery Susanto Gun alias Abun, Direktur Utama PT Sawit Golden Prima (SGP), divonis 3 tahun dan 6 bulan penjara, denda Rp 200 juta subsider 4 bulan kurungan.

Putusan itu meyakinkan publik memang ada praktik suap antara Abun dengan Rita. Tidak seperti yang diucapkan Rita bahwa uang Rp6 miliar yang dibuktikan KPK adalah jual beli emas batangan antara dirinya dengan Abun.

Hakim menyatakan uang suap tersebut terkait pemberian izin lokasi perkebunan sawit di Desa Kupang Baru, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kukar.

Abun sudah mengenal Rita sebelum dilantik menjadi Bupati Kukar karena merupakan teman baik ayah Rita, Syaukani HM. Setelah dilantik, Hanny Kristianto selaku anak buah Abun mendekati Rita untuk menyampaikan permohonan izin lokasi sawit yang diajukan di Desa Kupang Baru.

“Terdakwa memerintahkan Hanny untuk menghubungi Rita agar menandatangi izin lokasi sawit. Atas perintah itu, Hanny meminta Rita menandatangani. Rita pun memerintahkan, Kepala Bagian Administrasi Pertanahan pada Setdakab Kukar Ismed Ade Baramuli untuk menyiapkan draf surat keputusan izin lokasi perkebunan kelapa sawit itu. Ismed pun memberikan izin lokasi perkebunan seluas 16.000 hektare,” ujar hakim.

Usai ditandangani izin lokasi, hakim menyatakan Abun memerintahkan Hanny untuk mengirimkan uang untuk Rita. Adapun rincian uang yang ditransfer sebesar Rp 6 miliar secara bertahap.

“Terdakwa mentransfer uang Rp 1 miliar pada 1 Juli 2010 dan kedua Rp 5 miliar pada 5 Agustus 2010. Menimbang unsur memberi sesuatu terpenuhi,” tutur hakim.

Abun terbukti melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Walaupun Abun telah divonis bersalah, namun Rita masih harus menjalani persidangan yang lebih panjang. Sebab kasus yang menimpanya bukan hanya menyangkut suap menyuap dengan Abun, tetapi juga gratifikasi yang diduga mencapai Rp469 Miliar selama menjadi Bupati Kukar.

Dipersidangan terungkap bagaimana sepak terjang Bupati nonaktif Kukar Rita Widyasari dan staf Bupati Kukar Khairudin yang juga ditahan. Misalnya fee proyek yang mengalir dari kontraktor melalui anggora Tim 11, Junaidi.

Keterlibatan Junaidi yang juga anggota DPRD Kukar dalam berbagai kasus suap juga ikut terbongkar. Misalnya bagaimana anggota DPRD Kukar itu diminta membakar catatan setoran uang dari kepala dinas yang berasal pengurusan izin proyek di Kutai Kartanegara.

“Saudara bikin catatan nggak itu?” tanya jaksa pada KPK dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta, beberapa waktu lalu dalam persidangan.

“Dulu catat itu, tapi dulu kan kalau sudah selesai langsung disuruh bakar itu. Terdakwa satu (Rita) dan terdakwa dua (Khairudin) pesannya seperti itu,” kata Junaidi.

Junadi menyatakan ada commitment fee proyek 6 persen untuk Rita Widyasari dan tim 11 pemenangan Bupati. Nilai commitment fee tersebut berasal dari pengerjaan proyek Dinas PUPR Kukar.

“(Sebesar) 6,5 persen untuk bupati, sisanya untuk dinas PPK segala macam. Ya ada sekitar 0,5 persen untuk tim 11, termasuk saya,” tutur dia.

Menurut Junaidi, awalnya tim 11 pemenang Bupati menggelar rapat pembahasan setoran uang dari pengurusan proyek di Kukar, yang dipimpin almarhum Andi Sabrin. Dalam rapat, tim 11 pemenangan ini membuat keputusan proses pengumpulan ‘uang terima kasih’.

“Yang pasti, pada saat dulu ada di proses kebijakan, ada proses pengumpulan uang terima kasih, tapi itu dijalankan oleh almarhum Andi Sabrin,” jelas politikus Golkar ini. #le

Comments are closed.