BeritaKaltim.Co

Aktivis Pasca 98 Bicara Anti Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme, Apa Respon Gerakan Anti Hoax Kaltim?

SAMARINDA, beritakaltim.co- Rekonsiliasi dan konferensi pers Gerakan Aktvisi Muda Kalimantan Timur pasca 98, Senin 18 Juni 2018, sekira pukul 13.30 Wita di Cafe Metro Universitas Mulawarman, Samarinda, ternyata juga dihadiri pengurus Gerakan Anti Hoax Jurnalis Kaltim. Mereka adalah Ketua Gerakan Anti Hoax Kaltim Charles Siahaan dan Sekretaris Gerakan Anti Hoax Kaltim S. Fai. Rahman Al Bahasyim.

Ditemui usai acara, Charles menyatakan, benih intoleransi, radikalisme, dan terorisme, memang harus segera diantisipasi. Di kampus, misalnya, Badan Nasional Perguruan Tinggi sempat merilis sederet nama kampus yang diduga terpapar paham radikalisme. Universitas Mulawarman, Samarinda, dalam rilis tersebut, diduga masuk di dalamnya.

“Ini yang perlu atensi khusus. Saya mendorong teman-teman (Gerakan Aktivis Muda Kaltim, Red.) untuk bekerjasama dengan rektor untuk mendeteksi oknum mahasiswa dan oknum dosen yang diduga kuat ikut berpatisipasi dalam mewartakan 3 hal itu, baik secara lisan maupun tulisan,” ucapnya.

Menurut Charles, misi Gerakan Aktivis Muda Kaltim sejalan dengan Gerakan Anti Hoax Jurnalis Kaltim. Pasalnya, sikap intoleransi, radikalisme, hingga paham terorisme, kini juga banyak ditemui di pelbagai platform.

“Hal ini juga hoax, menyebarkan informasi tidak benar. Kita perlu khawatir kalau ini disebarkan via sosial media, pasti ada netizen yang akan menjadi korban,” katanya.

“Ini baru di sosial media, belum lagi di aplikasi chit-chat seperti WhatsApp dan Telegram. Informasi dan paham radikalisme dan terorisme juga banyak menyebar di sana,” tambah Charles.

Charles menjelaskan, hasil survei pengguna internet di Indonesia pada 2017 menyebut ada 72,19 persen pengguna internet di Pulau Kalimantan. Secara nasional, mereka yang berumur 19 tahun sampai 34 menjadi pengguna terbesar dengan presentase 49,52 persen.

“Usia demikian tentu rentan dengan informasi tidak benar dari sumber yang tidak dipercaya dan akun anonim di sosial media,” ungkapnya.

Makanya, ujar Charles, gerakan ini perlu disokong elemen masyarakat lain yang sejalan untuk menangkal intoleransi, radikalisme, dan terorisme.

Sementara itu, mengutip hasil penelitian Badan Intelejen Negara pada 2017, disebutkan ada sebanyak 39 persen mahasiswa di Indonesia sudah terpapar paham radikal.

Hasil itu semakin menegaskan kampus tempat tumbuh dan berkembang paham radikal yang kemudian menumbuhkan bibit teroris baru.

Dari temuan itu, Gerakan Anti Hoax Jurnalis Kaltim melihat bahwa lingkungan kampus adalah target kelompok radikal untuk mengekspansi ide dan ideologi calon-calon teroris yang baru.

“Hasil survei BIN tahun 2017 menyebutkan 39 persen mahasiswa telah terpapar gerakan radikal. Ada 15 provinsi yang kini menjadi perhatian,” imbuhnya

“Fenomena ajaran radikal di kalangan mahasiswa memanfaatkan kepolosan secara psikologi pada mahasiswa yang masih dalam proses pencarian jatidiri,” katanya.

“Intoleransi bukanlah budaya bangsa Indonesia sehingga segala bentuk radikalisasi tidak sesuai dengan ideologi bangsa,” tegas Charles.

Sementara, Sofyan dari aktivis Gerakan Aktivis Muda Kalimantan Timur mengajak komponen masyarakat Benua Etam bergabung dalam gerakan yang sedang mereka bangun. Bahkan, tanggal 7 Juli 2018, sekitar 100 aktivis dari Kaltim berangkat ke Jakarta untuk mengikuti Rembuk Nasional Aktivis 98 di Lapangan Monas, Jakarta.

“Di Jakarta nanti kami akan deklarasikan bahwa Kaltim siap melawan Anti intoleransi, Radikalisme dan terorisme,” ujar Sofyan. #fa

Comments are closed.