Akhirnya, Rita Widyasari Menangis

oleh

SAMARINDA, beritakaltim.co- Inilah detik-detik akhir persidangan Bupati Kutai Kartanegara (Non AKtif) Rita Widyasari. Perempuan berusia 44 tahun itu dituntut 15 tahun penjara, denda Rp 750 juta, dan subsider 6 bulan kurungan. Sementara sahabatnya, pemimpin Tim 11, Khairudin, dituntut 13 tahun penjara, denda Rp 750 juta, dan subsider 6 bulan kurungan.

Rita dan Khairudin diyakini menerima uang gratifikasi Rp 248 miliar terkait perizinan proyek pada dinas Pemkab Kukar. Selain itu, Rita menerima uang suap Rp 6 miliar terkait pemberian izin lokasi perkebunan sawit. Uang suap itu diterima dari Direktur Utama PT Sawit Golden Prima Hery Susanto Gun alias Abun.

Mendengar tuntutan jaksa, Rita Widyasari menunduk. Pembawaannya yang biasa ceria di dalam ruang sidang sirna selepas mendengar tuntutan jaksa KPK padanya.

Tuntutan 15 tahun penjara, baginya, terlalu tinggi. Ia tak mampu membayangkan lamanya berada di dalam penjara. Pedih. Terbayang suami dan anak-anaknya yang akan tumbuh besar tanpa didampingi ibunya.

Hatinya sedih dan berontak. Dan akhirnya, semua itu dituangkan dalam nota pembelaan (pleidoi) yang dibacakannya di depan majelis hakim yang menyidangkannya. Rita yang biasa tegar, tak kuasa lagi menahan air matanya. Diapun menangis tersedu-sedu.

“Kepada suami saya, saya terima kasih, yang telah bersabar dan membimbing anak saya. Semoga kelak anak saya dapat berjuang bersama yang akan datang,” kata Rita di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (2/7/2018).

Rita juga menyampaikan kekecewaannya terhadap orang-orang yang dia anggap sebagai saudara dan sahabat. Dia meminta maaf kepada masyarakat Kukar.

“Saya menyadari sepenuhnya bahwa saya sebagai seorang manusia biasa banyak kesalahan yang saya perbuat, baik keluarga saya, teman-teman saya, rekan tempat saya bekerja sebelumnya, serta masyarakat Kukar pada umumnya. Untuk itu, sebelumnya saya menyampaikan nota pembelaan ini, saya mohon maaf sebesar-besarnya atas kesalahan saya selama ini,” kata Rita.

“Tidak lupa saya juga sampaikan maaf kepada masyarakat Kutai Kartanegara tempat saya mengabdi dan diri saya agar kejadian yang dialami diri saya menjadi perhatian dan pelajaran bersama dan tidak pernah terjadi lagi seperti ini di masa akan datang di Kutai Kartanegara,” tutur dia.

Rita mengaku kecewa terhadap tuntutan jaksa sangat tinggi, yakni 15 tahun. Padahal, menurutnya, perbuatan itu tidak dilakukan.

“Ketika saya membaca tuntutan JPU, jujur, rasanya sedih dan saya mau pingsan. Tapi saya simpan dalam hati. Bagaimana mungkin saya menerima uang sebanyak Rp 200 miliar lebih. Saya mencoba ingat-ingat kembali, dan itu semua tidak benar. Saya menjerit atas nama keadilan. Saya menjerit sekuat yang saya mampu,” ujarnya.

“Saya memang dekat dengan Khairudin sebagai teman, sahabat, dan penasihat. Chat-chat saya dengan Khairudin yang ditunjukkan JPU tidak membuktikan saya memerintahkan Khairudin untuk mengambil fee-fee proyek. Itu hanya membuktikan kedekatan saya, dan foto-foto dalam dakwaan dan tuntutan adalah foto-foto kegiatan yang ada di FB saya. Itu juga tak membuktikan saya memerintahkan Khairudin, Junaedi, Andi Sabrin untuk mengambil fee proyek,” imbuhnya.

Rita Widyasari membantah memerintahkan orang dekatnya Khairudin mengatur perizinan proyek pada dinas Pemkab Kukar.

“Dari cerita perjuangan saya sebagai kepala daerah, saya memang pernah meminta teman-teman Golkar untuk menjaga dan membantu saya dalam roda pemerintahan. Tapi catat, Yang Mulia, bukan meminta uang fee atau setoran atau proyek-proyek di Kukar,” tegas Rita.

“Saya tidak memungkiri kedekatan saya dengan Khairudin, tapi bukan berarti tindakan Khairudin adalah perintah saya. Tindakan Khairudin bukan atas perintah saya. Khairudin lebih banyak punya andil atas timnya. Khairudin lebih banyak punya network dibandingkan saya. Jadi saya keberatan jika saya yang dikatakan memerintah Khairudin,” ujar Rita.

Dalam pleidoinya, Bupati Rita juga bercerita awal mulanya masuk ke dunia politik. Dia mengaku kecewa terhadap orang yang dipercayainya, termasuk orang yang mendorongnya masuk ke dunia politik.

“Dari hati yang paling dalam, kekecewaan terhadap orang-orang kepercayaan saya dan orang-orang terdekat saya, yang sudah saya anggap saudara, sebagai kakak, sahabat, adik, yang punya andil besar mendorong saya jadi kepala daerah,” kata Rita.

Dia menceritakan awal kariernya ke dunia politik atas permintaan ayahnya, yang juga mantan Bupati Kukar Syaukani Hasan Rais. Saat ayahnya ditahan, Rita mengatakan ayahnya berpesan kepadanya agar melanjutkan perjuangannya di kancah politik.

Khairudin, yang juga didakwa dalam kasus yang sama, juga mendorong Rita masuk ke dunia politik. Khairudin merupakan mantan anggota DPRD Kukar dari Fraksi Golkar.

“Beliau berpesan untuk melanjutkan perjuangan beliau untuk Kukar lebih baik. Masih terngiang ucapan ayah saya itu. ‘Rita, kamu harus anggota DPRD, dan Kahirudin akan mendukung. Mulai saat itu, Kahirudin mendukung saya maju di dapil 3. Meskipun kami menjadi caleg berdua, Khairudin sering turun di dapil saya untuk meyakinkan warga untuk memilih saya. Oleh karena itu, saya menaruh hormat kepada Khairudin,” ujar Rita.

Saat pilkada pada 2010, Rita sempat menolak maju mencalonkan diri, tetapi tetap dipaksa Golkar.

“Singkat cerita, saya dipaksa kiri-kanan untuk maju, terutama Khairudin. Akhirnya saya maju dan menang meski saya berhadapan dengan enam pasang calon lainnya dan menghadapi kampanye hitam yang terus-menerus ditujukan kepada saya. Saya sempat bergetar ketika memenangi pilkada tersebut. Saya ceritakan ini adalah karena ini kondisi awal saya memimpin sebuah daerah,” ujarnya. #le/detikcom