Jual Produk Impor Tanpa Izin Demi Sang Ibu yang Sakit Kanker

oleh

SAMARINDA, beritakaltim.co- Fatimah binti Rison Lim (36) seorang warga keturunan Tionghoa terpaksa harus berurusan dengan hukum lantaran tertangkap petugas Balai POM (Pengawasan Obat dan Makanan) menjual produk pangan impor asal Malaysia tanpa izin edar.

Fatimah ditangkap petugas gabungan Balai POM dan Polresta Samarinda dikediamannya jalan Marsda Saleh Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Samarinda Ilir, Minggu, (19/4/18) beberapa bulan lalu terkait adanya laporan dari masyarakat.

Kini kasusnya berproses di Pengadilan Negeri Samarinda dengan perkara nomor : PDM-600/SAMAR/10/2018. Fatimah didakwa Jaksa Penuntut Umum (JPU) Hariyadi Meidiantoro melakukan usaha pangan yang dengan sengaja tidak memiliki izin edar.

Setiap olahan yang dibuat di dalam negeri atau yang diimpor untuk dipergunakan dalam kemasan eceran, sebagaimana dimaksud dalam pasal 91 ayat (1) dalam hal pengawasan, keamanan, mutu dan gizi, setiap pangan olahan yang dibuat di dalam negeri atau yang diimpor untuk diperdagangkan dalam kemasan eceran, pelaku usaha pangan wajib memiliki izin edar.

Karena itu JPU yang diwakili Cendi Wulansari, terkait penjualan minuman produk luar Negeri berupa Milo dan sejenisnya, perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana melanggar pasal 142 Undang-undang RI Nomor 18 tahun 2012 tentang pangan.

Dihadapan Ketua Majelis Hakim yang dipimpin Abdul Rahman Karim didampingi hakim anggota Maskur dan Ahmad Rasyid Purba, pada sidang agenda pemeriksaan saksi, Senin (3/12/18) dari 5 orang saksi yang dihadirkan JPU, 2 diantaranya adalah saksi petugas Balai POM.

Dalam keterangannya didepan persidangan bahwa terdakwa ini ditangkap beserta barang bukti di rumahnya, menjual produk minuman dalam kemasan tanpa izin dari pihak berwenang sebagaimana yang telah didakwakan JPU.

Dalam perkara ini Majelis Hakim sempat mempertanyakan kepada saksi soal adanya penjualan makanan dan minuman produk luar Negeri yang terdapat diwarung-warung.
Saksi menyebut pihaknya sudah melakukan sosialisasi untuk tidak menjual produk luar tanpa izin.

Titus Tibayan Pakalla SH, selaku Kuasa hukum terdakwa kepada wartawan usai persidangan menyebutkan bahwa keterangan saksi dan terdakwa pada sidang sebelumnya berbeda, dimana dalam dakwaan JPU disebutkan bahwa terdakwa memperoleh barang tersebut langsung dari Malaysia.

Fakta yang terungkap dipersidangan terdakwa membeli minuman Milo ini melalui penjualan online dari seorang yang berada di Pare-pare.

“Milo ini diperoleh klien kami dari Pare-pare bukan langsung dari Malaysia,” sebut Titus.

Titus menambahkan fakta persidangan yang terungkap pada sidang sebelumnya kalau kliennya sebenarnya tidak mengetahui jika menjual produk tersebut dilarang dan bisa berdampak hukum sekalipun sosialisasi sudah dilakukan pihak Balai POM.

“Klien kami sama sekali tidak tahu soal itu,” tandasnya.

Kliennya melakukan penjualan minuman Milo lantaran membutuhkan biaya tambahan untuk keperluan operasi ibunya yang tengah menderita kanker payudara,”terang Titus lebih lanjut.#ib