Jokowi-Ma’ruf Siap, Timses Prabowo-Sandi: Kami Bahas di Tim

oleh

JAKARTA, beritakaltim.co- Soal undangan tes baca Alquran yang diprakarsai Dewan Ikatan Dai Aceh, ditanggapi kedua kubu dengan beragam. Tim Sukses Jokowi-Ma’ruf menyatakan siap, sementara Timses Prabowo-Sandi masih menyatakan akan membahasnya dalam tim.

Pernyataan kesiapan untuk ikut dalam tes tersebut, datang dari Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-KH Ma’ruf Amin, Arya Sinulingga.

“Kita dari pihak TKN, menyatakan Pak Jokowi sangat siap menerima tawaran yang diberikan kawan-kawan Ikatan Dai Aceh,” kata Arya Sinulingga, Sabtu (29/12/2018).

Arya mengatakan pihaknya bisa memahami alur pikir sehingga Ikatan Dai Aceh mengeluarkan tawaran itu. Di propinsi itu, salah satu syarat untuk bisa menjadi pemimpinnya adalah bisa membaca Alquran dan mengaji.

“Kita yakin Pak Jokowi siap dan menyatakan kesiapannya untuk menerima ajakan dan undangan dari kawan-kawan Ikatan Dai Aceh. Intinya siap,” tegas Arya.

Kata Arya, kita harus menghargai karena ini adalah permintaan dari masyarakat Aceh. Mereka memang dikenal sangat menjunjung ajaran dan melandaskan semuanya dari agama Islam.

“Bahkan kalau kubu Prabowo meminta, misalnya, dibuat tertutup dan hanya didengarkan oleh para juri, itupun kita bersedia,” tandas Arya.

Tanggapan kesiapan juga langsung dilontarkan Calon Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin.

“Kalau saya kan memang biasa baca Alquran. Jadi kalau memang diundang untuk dites, ya siap sekali. Kita kan biasa baca Alquran,” kata Kiai Ma’ruf Amin menjawab pertanyaan wartawan, Minggu (20/12/2018).

Namun Kiai Ma’ruf Amin mengatakan tes baca Alquran tak diatur dalam aturan negara soal pilpres. Namun bila ada masyarakat yang punya ide dan keinginan soal kemampuan calon pemimpin membaca Alquran, dirinya siap menghadapi.

“Saya tidak ingin mengatakan perlu atau tidak perlu tetapi kalau ada ide seperti itu, kemudian kita diundang, kita siap. Bukan soal perlu atau tidak perlu. Itu kan keinginan masyarakat sendiri. Jadi kalau kita sih tidak ada uji baca Alquran tidak masalah. Tetapi kalau diminta untuk diuji ya siap,” bebernya.

Tentang apakah benar-benar akan hadir di acara yang digelar Ikatan Dai Aceh, Kiai Ma’ruf akan berunding dulu dengan Jokowi.

“Ya kalau memang itu bagian dari yang harus kita hadiri ya, tentu kita hadir. Saya akan rundingkan dengan Pak Jokowi. Tetapi kita siap saja kalau memang diminta untuk hadir,” jawabnya.

Soal tes baca Alquran itu jadi polemik menjelang tutup tahun 2018. Hal tersebut disebabkan adanya saling tuding masing-masing pendukung tentang Capres dan Cawapres mengenai kemampuan menjadi imam sholat dan baca Alquran.

“(tes baca Alquran) untuk mengakhiri polemik keislaman capres dan cawapres, kami mengusulkan tes baca Alquran terhadap kedua pasangan calon,” kata Tengku Marsyuddin Ishak, Ketua Dewan Pimpinan Ikatan Dai Aceh di Banda Aceh, Sabtu (29/12/2018).

Organisasinya ingin berkontribusi pada Pilpres 2019. Sebagai organisasi yang fokus pada pengembangan dakwah dan syiar Islam, pihaknya merasa terpanggil untuk mengundang kedua pasangan calon untuk mengikuti uji mampu membaca Alquran.

Tes membaca Alquran itu sendiri direncanakan dilaksanakan di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada 15 Januari 2019.

Di provinsi berjuluk Serambi Mekah itu tentang tes baca Alquran memang bukan hal baru. Semua calon Gubernur, bupati bahkan para bakal calon legislative (Bacaleg) harus melewati tes baca Alquran dulu. Agenda tes itu bahkan masuk dalam kegiatan KIP (Komisi Independen Pemilihan) atau KPU-nya Aceh.

Kalau menyimak tes baca Alquran untuk Bacaleg yang dilakukan medio Juli 2018 lalu, waktu yang diperlukan untuk tes tidak terlalu lama. Hanya sekitar 5 menit per calon. Sebab yang ingin diketahui adalah kemampuan membaca Alquran, bukan menghafal.

Adanya tantangan itu masing-masing kubu menjawabnya melalui media. Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengaku menghormati undangan itu, tapi Prabowo lebih senang mendengar tausiah dari ulama karena merasa sungkan dengan orang yang ilmu agamanya lebih tinggi.

“Kami sangat hormati undangan dari ulama-ulama Aceh. Kami akan coba bahas di tim. Tetapi, Mas Prabowo tentunya lebih senang datang untuk mendengarkan tausiyah dan lantunan Alquran dari para ulama untuk memperkuat keimanan dan keilmuan. Pastinya, Mas Bowo akan sangat sungkan kepada ulama-ulama yang keilmuannya jauh lebih tinggi,” kata Jubir BPN Prabowo-Sandi, Faldo Maldini.

Faldo menilai undangan itu sebagai wujud publik yang lelah dengan narasi ibadah, yang menurutnya, dimainkan kubu petahana. Dia mengaku tim Prabowo-Sandi menyatakan tak etis untuk mempertanyakan hal-hal pribadi seperti ibadah di ruang publik.

Selain itu, Faldo berharap narasi politik yang memecah belah segera diakhiri. Dia pun menyinggung calon petahana yang foto sambil memimpin salatnya diunggah hingga memberi kesan seolah dirinya saleh dan calon lain tidak.

“Sikap ulama-ulama Aceh yang terhormat, saya kira sudah tepat untuk akhiri perdebatan ini. Beliau-beliau pasti ditanyakan juga oleh masyarakat soal polemik ini. Substansinya untuk menghentikan perdebatan ini. Saya kira sebaiknya hentikan narasi politik yang memecah-belah, saya Pancasila, anda bukan, saya jujur, anda hoax, saya demokratis, anda orba, sekarang dengan modal foto petahana mimpin salat mau bilang saya saleh, anda tidak. Ini kan harus cepat diakhiri,” tuturnya.

Jawaban lainnya datang dari Partai Gerindra. Partai ini menolak undangan tes baca Alquran untuk para capres-cawapres dari Dewan Ikatan Dai Aceh. Menurut Gerindra, hal semacam itu tak substansial dalam menentukan kualitas seorang capres.

“Yang sangat dan lebih penting adalah pemahaman terhadap isinya (Alquran) dan bagaimana mengamalkannya secara demokratis dan konstitusional di NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,” kata Ketua DPP Gerindra Sodik Mujahid dalam keterangan tertulis, Minggu (30/12/2018).

Meski begitu, Sodik tak menampik pemahaman terhadap Alquran merupakan salah satu hal penting. Namun ia tak setuju andai pemahaman dan kemampuan membaca Alquran jadi satu-satunya tolok ukur kepemimpinan.

“Memahami Alquran dan kitab-kitab suci lain sangat penting sebagai syarat seorang capres. Kemampuan membaca Alquran bukan syarat, tapi sebagai advantage saja, sehingga tes baca-tulis tidak perlu dilakukan,” ujarnya.

Sodik pun menganalogikan hubungan antara kemampuan baca Alquran terhadap capres dan kemampuan bermain sepak bola terhadap Ketua Umum PSSI. Menurut dia, Ketua Umum PSSI tak mesti jago bermain sepak bola.

“Seperti waktu tes calon Ketua Umum PSSI. Apakah dilakukan tes cara menendang bola, cara setop bola, dan cara dribble bola? Tidak, kan? Tapi visi, misi, dan programnya dalam memajukan sepak bola,” kata Sodik, yang juga merupakan juru debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno itu. #le