Begini Jawaban Kedua Kubu Soal Undangan Capres Tes Baca Alquran

oleh

JAKARTA, beritakaltim.co- Polemik tentang siapa calon Presiden yang tidak bisa baca Alquran bahkan tidak bisa jadi Imam sholat, ditanggapi Dewan Ikatan Dai Aceh. Pengurus lembaga ini mengusulkan adanya tes baca Alquran bagi kedua pasangan capres.

Di provinsi berjuluk Serambi Mekah itu tentang tes baca Alquran memang bukan hal baru. Semua calon Gubernur, bupati bahkan para bakal calon legislative (Bacaleg) harus melewati tes baca Alquran dulu. Agenda tes itu bahkan masuk dalam kegiatan KIP (Komisi Independen Pemilihan) atau KPU-nya Aceh.

“(tes baca Alquran) untuk mengakhiri polemik keislaman capres dan cawapres, kami mengusulkan tes baca Alquran terhadap kedua pasangan calon,” kata Tengku Marsyuddin Ishak, Ketua Dewan Pimpinan Ikatan Dai Aceh di Banda Aceh, Sabtu (29/12/2018).

Organisasinya ingin berkontribusi pada Pilpres 2019. Sebagai organisasi yang fokus pada pengembangan dakwah dan syiar Islam, pihaknya merasa terpanggil untuk mengundang kedua pasangan calon untuk mengikuti uji mampu membaca Alquran.

Tes membaca Alquran itu sendiri direncanakan dilaksanakan di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada 15 Januari 2019.

Kalau menyimak tes baca Alquran untuk Bacaleg yang dilakukan medio Juli 2018 lalu, waktu yang diperlukan untuk tes tidak terlalu lama. Hanya sekitar 5 menit per calon. Sebab yang ingin diketahui adalah kemampuan membaca Alquran, bukan menghafal.

Lalu, apa komentar masing-masing kubu tentang kesiapan mengikuti tes baca Alquran pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno?

Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin menyerahkan kepada para capres-cawapres apakah ingin hadir atau tidak.

“Kita serahkan kepada Capres dan dan Cawapres, kalau memang kandidatnya mau supaya ikut diuji di Aceh silakan,” kata Wakil Ketua TKN, Johnny G Plate, seperti dikuti detikcom, Sabtu (29/12/2018) malam.

Dia mengatakan tes baca Alquran sebenarnya tak ada dalam undang-undang tentang Pemilu maupun Peraturan KPU (PKPU). Namun, jika capres-cawapres mau hadir di uji baca Alquran itu untuk meyakinkan rakyat Aceh, maka hal itu tak masalah.

“Tapi itu bukan aturan yang diamanatkan di undang-undang dan PKPU kan. Kita serahkan saja, ada yang mau ke sana ya silakan, lebih meyakinkan rakyat Aceh kan,” ucapnya.

Menurutnya, ada perbedaan antara pilpres yang skalanya nasional dengan pilkada di Aceh. Jika ada tes baca Alquran bagi para calon di pilkada yang berada di wilayah Aceh, maka hal itu wajar karena Aceh menerapkan hukum syariat.

“Ini calon presiden Republik Indonesia ya, maka kita tekankan betul. Kalau di Aceh tentu aturannya berbeda, di Aceh kan mereka sudah punya aturan untuk memilih pemimpin, pilkada, itu kan ada harus bisa baca Alquran karena di Aceh kan syariah, kanun. Tapi kalau di Indonesia secara keseluruhan kan acuannya undang-undangnya bukan khusus Aceh. Undang-undangnya, undang-undang negara Republik Indonesia kan acuannya,” jelasnya.

Begitu juga komentar dari Partai koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin, PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Partai itu menyambut positif undangan tes membaca Alquran bagi capres-cawapres dari Dewan Ikatan Dai Aceh. PPP mempersilakan andai para paslon mau memenuhi undangan tersebut.

“Itu memang usulan bagus. Itu aspirasi ya, silakan saja. Meskipun tak diatur dalam UU maupun PKPU, kalau mau diikuti oleh paslon silakan,” kata Wasekjen PPP Achmad Baidowi (Awiek).

Menurut Awiek, tes baca Alquran itu barangkali bisa lebih meyakinkan masyarakat Aceh dalam menentukan capres-cawapres di Pilpres 2019. Namun, ia mengaku tak memaksakan capres-cawapres usungannya, Joko Widodo-Ma’ruf Amin untuk mengikuti tes itu.

“Apalagi di pilkada khusus Aceh ada syarat bisa baca tulis Alquran. Kalau kemudian khusus Aceh minta perhatian khusus untuk meyakinkan masyarakat ya, silakan saja,” ujarnya.

“Namun harus kesepakatan kedua paslon apakah mau memenuhi aspirasi Dai Aceh atau tidak. Kalau tidak mau ya, sampaikan secara terbuka termasuk alasannya,” tutup Awiek.

Sementara kubu lainnya, melalui Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengaku menghormati undangan tes baca Alquran untuk para capres-cawapres dari Dewan Ikatan Dai Aceh.

Tapi, Prabowo disebut lebih senang mendengar tausiah dari ulama karena merasa sungkan dengan orang yang ilmu agamanya lebih tinggi.

“Kami sangat hormati undangan dari ulama-ulama Aceh. Kami akan coba bahas di tim. Tetapi, Mas Prabowo tentunya lebih senang datang untuk mendengarkan tausiyah dan lantunan Alquran dari para ulama untuk memperkuat keimanan dan keilmuan. Pastinya, Mas Bowo akan sangat sungkan kepada ulama-ulama yang keilmuannya jauh lebih tinggi,” kata Jubir BPN Prabowo-Sandi, Faldo Maldini.

Faldo menilai undangan itu sebagai wujud publik yang lelah dengan narasi ibadah, yang menurutnya, dimainkan kubu petahana. Dia mengaku tim Prabowo-Sandi menyatakan tak etis untuk mempertanyakan hal-hal pribadi seperti ibadah di ruang publik.

Selain itu, Faldo berharap narasi politik yang memecah belah segera diakhiri. Dia pun menyinggung calon petahana yang foto sambil memimpin salatnya diunggah hingga memberi kesan seolah dirinya saleh dan calon lain tidak.

“Sikap ulama-ulama Aceh yang terhormat, saya kira sudah tepat untuk akhiri perdebatan ini. Beliau-beliau pasti ditanyakan juga oleh masyarakat soal polemik ini. Substansinya untuk menghentikan perdebatan ini. Saya kira sebaiknya hentikan narasi politik yang memecah-belah, saya Pancasila, anda bukan, saya jujur, anda hoax, saya demokratis, anda orba, sekarang dengan modal foto petahana mimpin salat mau bilang saya saleh, anda tidak. Ini kan harus cepat diakhiri,” tuturnya.

Jawaban lainnya datang dari Partai Gerindra. Partai ini menolak undangan tes baca Alquran untuk para capres-cawapres dari Dewan Ikatan Dai Aceh. Menurut Gerindra, hal semacam itu tak substansial dalam menentukan kualitas seorang capres.

“Yang sangat dan lebih penting adalah pemahaman terhadap isinya (Alquran) dan bagaimana mengamalkannya secara demokratis dan konstitusional di NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,” kata Ketua DPP Gerindra Sodik Mujahid dalam keterangan tertulis, Minggu (30/12/2018).

Meski begitu, Sodik tak menampik pemahaman terhadap Alquran merupakan salah satu hal penting. Namun ia tak setuju andai pemahaman dan kemampuan membaca Alquran jadi satu-satunya tolok ukur kepemimpinan.

“Memahami Alquran dan kitab-kitab suci lain sangat penting sebagai syarat seorang capres. Kemampuan membaca Alquran bukan syarat, tapi sebagai advantage saja, sehingga tes baca-tulis tidak perlu dilakukan,” ujarnya.

Sodik pun menganalogikan hubungan antara kemampuan baca Alquran terhadap capres dan kemampuan bermain sepak bola terhadap Ketua Umum PSSI. Menurut dia, Ketua Umum PSSI tak mesti jago bermain sepak bola.

“Seperti waktu tes calon Ketua Umum PSSI. Apakah dilakukan tes cara menendang bola, cara setop bola, dan cara dribble bola? Tidak, kan? Tapi visi, misi, dan programnya dalam memajukan sepak bola,” kata Sodik, yang juga merupakan juru debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno itu. #le