Libatkan Banyak Stakeholder, Bahas Air Minum dan Penyehatan Lingkungan 

oleh
Lokakarya Ekspos Rencana Aksi Daerah Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (RAD- AMPL) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) di Ruang Damar Gedung Serba Guna (GSG), Bukit Pelangi, Rabu, (13/2/2018). (Foto : Jani Humas)

SANGATTA, beritakaltim.co- Saran dan masukan dari berbagai pihak penting untuk kesuksesan pelaksanaan suatu program. Apalagi program dimaksud menyangkut kemaslahatan orang banyak, seperti air beraih. Sehubungan hal itulah beberapa pihak terkait dilibatkan dalam lokakarya guna membahas dimaksud.

Lokakarya yang bertajuk Ekspos Rencana Aksi Daerah Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (RAD- AMPL) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) itu dibuka Asisten Perekonomian dan Pembangunan Rupiansyah mewakili Bupati Kutim. Digelar sehari di Ruang Damar Gedung Serba Guna (GSG), Komplek  Perkantoran, Bukit Pelangi, Rabu, (13/2/2018).

Kegiatan bertujuan untuk memperoleh masukan penyempurnaan dari para stakeholder dan penyehatan lingkungan di Kutim. Sekaligus sebagai salah satu rangkaian kegiatan yang dilaksanakan dalam penyusunan dokumen RAD AMPL. Yaitu dokumen rencana pengembangan kapasitas daerah dalam penyedian air minum dan penyehatan lingkungan untuk priode lima tahun.

Rupiansyah mengatakan, RAD AMPL penting untuk disusun sebagai acuan pelaksana penyedian dan pengelolaan air minum. Sesuai visi misi Pemkab Kutim yakni Gerakan Pembangunan Desa Mandiri Terpadu (Gerbang Desa Madu). Dengan salah satu programnya adalah ketersedian air bersih.

“Menjadi salah satu fokus pembangunan daerah saat ini. Saat ini ketersedian air bersih kesehatan lingkungan dimotori oleh Dinas Perkim dan sudah berjalan untuk wilayah perkotaan,” ungkap Rupi, sapaan akrab Rupiansyah.

Maka dari itu, melalui kegiatan ini diharapkan stakeholder dapat saling memberi masukan mengenai pembiayaan. Untuk selanjutnya masuk pada rencana aksi. Sekarang ini, terutama diwilayah pantai menurut Rupi menjadi daerah yang tidak memiliki air baku. Oleh sebab itu dirinya meminta paling tidak hasil lokakarya dapat memetakan potensi air baku terlebih dahulu.  Sebab Kutim masih dikatakan kurang dalam pemenuhan air baku, untuk air minum.

“Pemanfaatan eks tambang dapat dijadikan kolam sebagai ketersediaan air baku. Sebagai contoh kolam air baku PT KPC Telaga Bening,” ucapnya.

Selanjutnya cakupan pelayanan air minum juga dirasa masih kecil, terutama di wilayah pedesaan. Masyarakat yang tinggal dipinggir sungai sebaiknya dapat memanfaatkan PDAM sebagai sumber air bersih.

Mantan Kepala Bappeda Kutim ini berharap paling tidak nanti dapat dipetakan kondisi kecamatan dan desa mana yang ditangani dalam pemenuhan air minum.

Lokakarya ini turut dihadiri Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kutim Aji Muhammad Fitra Firnanda dan Kepala Bagian Pembangunan Setkab Kutim Poniso Suryo Renggono, serta Kepala Bidang Prasarana Wilayah Bappeda Riptowidargo. Sejumlah stakeholder, Instansi terkait baik dari provinsi maupun daerah. (hms10)