BeritaKaltim.Co

Dapat Laporan Petani Ada Pupuk Oplosan di Kalbar, PKT Kirim Tim

SAMARINDA, beritakaltim.co- Masih ada pupuk oplosan yang diterima petani. Salah satunya dialami petani di Kalimantan Barat.

Demikian diungkapkan Rudy Prambudi dari Pelayanan dan Komunikasi Produk PT Pupuk Kaltim (PKT) pada acara Sosialisasi Product Knowledge dan Media Tour Tahap 1 Tahun 2019 di Hotel Aston Samarinda, Senin (25/2/2019).

Laporan yang diterima manajemen Pupuk Kaltim, petani di Kalbar merasa dirugikan karena pupuk NPK yang mereka terima diduga oplosan. Sebagian NPK itu dicampur dengan butiran mirip NPK, baik bentuk dan warnanya.

Dihadapan sekitar 30 Wartawan di Ibukota Provinsi Kaltim, Rudy menjelaskan tim dari Pupuk Kaltim sedang turun ke Kalbar untuk menemui petani yang menerima pupuk berlabel Pupuk Kaltim namun diduga sudah dioplos itu.

”Kami sedang verifikasi laporan ini ke Kalbar,” kata Rudy.

Sebelumnya, ada juga kejadian di Sulawesi Barat. Di mana diberitakan oleh media bahwa petani di sana kekurangan pupuk.

Menurut Rudy Prambudi, sebagai perusahaan yang bertanggungjawab terhadap penyediaan pupuk kejadian kekurangan pupuk terasa aneh, karena semua gudang Pupuk Kaltim di wilayah layanan sudah terpenuhi.

”Kios pupuk saja tidak boleh kosong, apalagi di distributor,” ujarnya.

Setelah dilakukan cek ke lokasi, petugas Pupuk Kaltim ternyata yang dialami petani adalah kekurangan pupuk jenis ZA dan SP36 yang bukan produk PT Pupuk Kaltim.

Sebelumnya Rudy menyampaikan juga tentang profile perusahaan BUMN yang beroperasi di Kota Bontang sejak 1977 dan menjadi anak perusahaan PT Pupuk Indonesia (persero). Selain memproduksi urea, amoniak dan NPK juga berinovasi memproduksi pupuk hayati, seperti Biotara, Biodex dan Ecofert.

Hadir dalam acara sosialisasi itu Nurdi Saptono, Kabag Hubungan Internal dan Promosi, Sugeng Suhedi, Kepala Perwakilan PT PKT Samarinda, Didik dari pemasaran PSO wilayah Kaltim.

Rudy menyinggung juga beberapa perilaku petani di Kaltim. Misalnya penggunaan pupuk kandang yang begitu besar dilakukan oleh petani.

”Saya baru tahu kalau ada petani menggunakan pupuk kandang puluhan sak untuk satu hektar. Padahal, kalau pakai produk ecofert tidak perlu sebanyak itu,” ujar Rudy Prambudi. #le

 

Comments are closed.