“Serangan Fajar” Caleg Bowo Sidik Dikandaskan KPK, 400 Ribu Amplop Berisi Uang Disita

oleh -1.523 views
Politikus Partai Golkar Bowo Sidik Pangarso, terciduk.

JAKARTA, beritakaltim.co- Kian dekat Pemilu 17 April 2019, para calon legislatif mulai menyiapkan ‘peluru’ untuk habis-habisan demi terpilih kembali. Begitulah yang dilakukan politikus Partai Golkar Bowo Sidik Pangarso. Dia menyiapkan 84 kardus berisikan 400.000 amplop berisikan uang, namun dipergoki oleh petugas KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

Bowo Sidik tak berkutik lagi saat Tim KPK menciduknya dalam operasi tangkap tangan (OTT) di sebuah tempat kawasan Pejaten, Jakarta. Dari 400 ribu amplop itu, nilai uang di dalamnya sekitar Rp 8 miliar.

“Tim bergerak menuju ke sebuah kantor di Jakarta untuk mengamankan uang sekitar Rp 8 miliar dalam pecahan Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu yang telah dimasukkan dalam amplop-amplop pada 84 kardus,” kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (28/3/2019).

Basaria menjelaskan, Bowo merupakan anggota DPR yang berencana mencalonkan diri kembali sebagai caleg di Pemilu 2019.

Uang itu diduga dipersiapkan untuk dibagikan kepada warga atau kerap diistilahkan dengan “serangan fajar” terkait pencalonannya sebagai caleg.

“Untuk sementara dari hasil pemeriksaan tim kita beliau (Bowo) mengatakan ini memang dalam rangka kepentingan logistik pencalonan dia sendiri. Dia diduga telah mengumpulkan uang dari sejumlah penerimaan-penerimaan yang dipersiapkan untuk serangan fajar,” katanya.

Basaria membantah spekulasi uang sekitar Rp 8 miliar itu juga dipersiapkan sebagai logistik untuk calon presiden dan wakil presiden tertentu.

“Sama sekali tidak. Dari awal tadi sejak konpers (konferensi pers) tidak berbicara soal itu. Saya ulang kembali, hasil pemeriksaan memang untuk kepentingan dia akan mencalonkan diri kembali,” kata dia.

Di sisi lain, Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, KPK menduga ada dua sumber penerimaan uang Bowo.

Pertama, diduga berkaitan dengan commitment fee untuk membantu pihak PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) menjalin kerja sama penyewaan kapal dengan PT Pupuk Indonesia Logistik. Penyewaan itu terkait kepentingan distribusi.

Kedua, KPK menduga ada penerimaan dari sumber lain oleh Bowo, terkait jabatannya sebagai anggota DPR. Saat ini, KPK masih menelusuri lebih lanjut sumber penerimaan lain tersebut.

“Jadi suapnya spesifik terkait dengan kerja sama pengangkutan untuk distribusi pupuk. Sedangkan Pasal 12B (pasal gratifikasi) adalah dugaan penerimaan yang berhubungan dengan jabatan dan berlawanan dengan tugasnya sebagai penyelenggara negara,” kata Febri.

Belum ada keteragan dari perusahaan PT Humpuss Transportasi yang disebut-sebut namanya. Seperti diketahui perusahaan tersebut adalah milik Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, putra bungsu Presiden RI ke-2, Soeharto.

Salah satu putri Soeharto, Siti Hediati mengaku bahwa PT Humpuss Transportasi Kimia memang milik adiknya, Hutomo Mandala Putra. Namun dia tidak tahu-menahu tentang kasus korupsi yang menyeret politikus Partai Golkar Bowo Sidik Pangarso dan turut membawa nama PT Humpuss Transportasi Kimia dalam perkara korupsi yang sedang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu.

“Saya tidak pernah kenal siapa itu,” katanya saat ditemui di Ndalem Kalitan Solo, Jum’at 29 Maret 2019. Siti Hediati yang biasa dipanggil dengan Titiek Soeharto itu enggan berkomentar lebih banyak mengenai kasus itu.

Menurut Titiek ia tidak tahu soal perusahaan itu. “Saya bukan di Humpuss, itu kan milik Tomy,” kata dia. #le