BeritaKaltim.Co

Kasus Surat Palsu untuk Tanah di Ringroad, Achmad Dituntut 6 Tahun

SAMARINDA, beritakaltim.co- Terdakwa pemalsuan identitas, Achmad AR AMJ Bin Musa (50), dituntut 6 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dwinanto Agung Wibowo di Pengadilan Negeri Samarinda, Senin (15/4/19) sore.

“Gimana terdakwa, saudara dituntut 6 tahun penjara, apakah akan mengajukan pembelaan,” tanya Majelis Hakim yang diketuai Yoes Hartyarso didampingi hakim anggota Joni Kondolele dan Edi Toto Purba.

Achmad AR menjadi terdakwa dalam kasus penggunaan surat palsu yang berujung terbitnya SPPT (Surat Pernyataan Penguasan Tanah) atas nama dirinynya. Belakangan diketahui tanah yang terletak di Ring Road III itu sudah bersertifikat milik Setiawan Halim. Celakanya tanah yang diklaim terdakwa Achmad AR sudah pula dijual kepada pengusaha perhotelan di Samarinda, Deki Rusianto, dengan uang panjar Rp750 juta dari nilai jual tanah Rp3,3 Miliar.

Semula terdakwa Achmad AR terlihat tenang mendengarkan pembacaan tuntutan yang dibacakan JPU. Namun setelah mendengar dirinya dituntut 6 tahun penjara, terdakwa Achmad AR nampak kaget dengan hukuman maksimal yang bakal dijatuhkan kepadanya.

Mendengar pertanyaan hakim, terdakwa tak langsung menjawab. Dia terdiam dan nampak bingung seakan tak menerima dengan tuntutan tersebut.

“Silakan koordinasi dengan penasehat hukum saudara,” saran Majelis hakim.

Dengan langkah yang berat terdakwa kemudian menghampiri pengacaranya dan menyatakan akan mengajukan pembelaan.

” Iya yang mulia, kami akan mengajukan pembelaan (Pledoi) secara tertulis,” sahut pengacara Achmad AR.

Jaksa menuntut terdakwa Achmad AR karena merasa yakin dan punya bukti-bukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana, dengan sengaja memakai surat palsu sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 263 ayat (2) KUHP, sebagaimana dalam dakwaan kedua.

Dalam perkara nomor PDM 55/SMD/12/2018, JPU Dwinanto menyatakan hal yang memberatkan bagi terdakwa, yakni terdakwa dalam fakta persidangan tidak mengakui terus terang perbuatannya dan memberikan keterangan berbelit-belit dipersidangan.

Terdakwa juga dinyatakan telah menerima uang pembagian sebesar Rp150 juta dari uang panjar (down payment) senilai Rp750 juta dari Andini seorang broker tanah di Samarinda. Uang itu berasal dari seorang pengusaha Samarinda, Deki Rusianto.

Sebagaimana diketahui dalam fakta yang terungkap dipersidangan kalau tanah tersebut walaupun belum memiliki sertifikat dan hanya berdokumen SPPT akan dibeli oleh Deki Rusianto senilai Rp 3,3 miliar. Bahkan sudah diberikan uang muka Rp750 juta dengan maksud mengurus surat-suratnya dan akan dibayar lunas setelah pengurusan sertifikat selesai.

Sidang akan dilanjutkan minggu depan dengan agenda pembacaan pledoi.# ib

Comments are closed.