BeritaKaltim.Co

Perang Urat Syaraf Pilpres, Ihwan Datu Adam: Masih Wajar

SAMARINDA, beritakaltim.co- Perang urat syarat dan psykologis menjelang pengumuman pemenang Pemilu dan Pileg 22 Mei 2019, makin menegangkan antar para pendukung capres 01 dan 02. Menurut politisi Partai Demokrat Ihwan Datu Adam, hal tersebut masih dalam batas kewajaran jika tidak disertai dengan tindakan-tindakan melanggar hukum.

“Saya kira ini masih dalam batas kewajaran. Masing-masing pendukung harus menahan diri. Jangan sampai tindakan dan ucapan ke publik malah melanggar hukum,” ucap anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Kaltim ini, Minggu (19/5/2019).

Mantan Bupati Penajam Paser Utara itu punya istilah dalam menyikapi situasi politik pilpres. Menurutnya politik Presiden itu politik para dewa. Masing-masing punya versi sendiri untuk mengklaim diri sebagai pemenang. Termasuk juga punya senjata yang siap ditembakkan kepada pihak lawan.

Kubu 01 seperti diketahui diserang dengan kecurangan yang TSM (terstruktur, sistimatis dan masif). Ada tuduhan sudah membayar pollster dari lembaga-lembaga survei yang melakukan quick count, ada pula yang menuding upaya keterlibatan perangkat pemerintahan mulai kepala desa.

Begitu juga kubu 02 yang telah mengklaim kemenangan 62 persen hanya beberapa jam setelah perhitungan suara di TPS (Tempat Pemungutan Suara).

“Perang urat syarat dan psykologis ini tidak bisa dihindari. Sebagai politikus saya menikmati saja sebagai wahana demokrasi,” ujar anggota Komisi VII DPR RI yang membidangi Kehutanan dan Lingkungan Hidup serta energi sumber daya mineral.

Bagaimana dengan sikap Partai Demokrat dengan situasi ini?

Seperti diketahui selama ini partai yang didirikan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berada di kubu 02. Namun belakangan ada isyarat semua kadernya ditarik dari gerbong BPN (Badan Pemenangan Nasional) 02. Padahal, belum ada pengumuman dari KPU mengenai siapa yang kalah dan menang dalam Pilpres 17 April 2019 lalu.

Menurut Ihwan Datu Adam, partainya sejak dulu adalah partai tengah. Secara etika partai Demokrat masih berada di kubu 02, namun tidak menutup kemungkinan dalam perjalanan berikutnya tidak lagi bersama-sama dengan 02.

“Politik itu dinamis. Partai Demokrat bergerak sesuai dengan visi dan misinya, yakni meletakkan kepentingan bangsa di atas segalanya. Apalagi Pak SBY adalah Presiden keenam yang sudah meletakkan pondasi bagi pembangunan negeri ini,” ulas Ihwan Datu Adam.

Sebagai partai nasionalis-religius, menurut Ihwan Datu Adam, Partai Demokrat melihat keragaman identitas bangsa sebagai kekuatan demokrasi. “Kita adalah partai nasionalis yang menjunjung tinggi Pancasila, NKRI, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika. Kita juga partai religius yang bekerja dengan nilai-nilai keTuhanan dalam pikiran, perkataan dan perbuatan kita,” tuturnya. #le

Comments are closed.