AJI-Google Latih 3000 Warga Menangkal Hoaks

oleh -137 views
Peserta pelatihan menangkal hoaks di Samarinda. Acara digelar kerjasama AJI dengan Google.

SAMARINDA, beritakaltim.co– Kerjasama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) – Google memasuki tahun kedua. Seperti pencapaian target tahun lalu, target peserta dari kerjasama tahun 2019 ini melatih 3000 warga menangkal hoaks alias berita bohon.

Pelatihan di Samarinda berlangsung 23-25 Agustus 2019 lalu di sebuah hotel di Jalan Imam Bonjol. Diikuti 25 peserta dari kalangan jurnalis dan warga umum, peserta mendapat bimbingan Trainer Google News Initiative Muhammad Iqbal dan Revolusi Riza.

Pelatihan yang diberikan Aji-Google tidak lagi sekedar bagaimana hoaks dan penyebarannya. Tapi sudah memasuki hal-hal tekhnis untuk menggunakan tools yang disediakan google dan penyedia aflikasi lainnya. Misal bagaimana mendeteksi asal foto dan teks berita.

“Hoaks dapat kita temukan sejak kita bangun. Saat bangun, apa yang pertama dibuka? Handphone? Kita bisa menemukan banyak hoaks,” kata Trainer Google News Initiative, Muhammad Iqbal diawal memberikan materi kepada peserta.

Selain mudah ditemui, hoaks juga dapat menimbulkan keresahan dan kegaduhan. Untuk itu, peserta diharap mampu mendeteksi dan menangkal hoaks yang kerap beredar di media sosial, dan dapat memberikan dampak hingga di dunia nyata. Terutama para jurnalis, agar dapat menjadi garda terdepan memverifikasi hoaks.

“Semakin kuat verifikasi yang dilakukan jurnalis, semakin minim warga terpapar hoaks, bahkan karya jurnalistik bisa meredam segala potensi buruk dari hoaks,” ujar Sekertaris Jenderal Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Revolusi Riza.

Revo dan Iqbal memulai pemaparan dari cara mengetahui akun palsu. Peserta diberikan contoh-contoh akun palsu yang nyaris serupa dengan akun asli. Kebanyakan akun palsu menggunakan nama-nama orang yang terkenal atau memiliki pengaruh terhadap publik.

Mereka lalu menjelaskan tentang dua jenis hoaks. Yakni, misinformasi dan disinformasi. Misinformasi ialah informasi yang salah tapi dianggap benar karena ketidaktahuan. Sedangkan disinformasi adalah informasi diketahui hoaks, namun tetap sengaja disebarkan dengan tujuan tertentu.

“Hoaks mudah menyebar karena banyak orang sudah memiliki “kebenaran” dalam hatinya,” kata Revo.

Para trainer juga memaparkan tentang cara memverifikasi foto dan video. Agar tidak keliru ketika mencatat lokasi dan waktu peristiwa dari hasil tangkapan kamera yang beredar. Peserta juga diajarkan cara memverifikasi website atau domain yang sekiranya dapat dipercaya.

Tak hanya teori, peserta juga langsung diberikan soal dari materi yang telah dipaparkan untuk menguji apakah bisa mendeteksi dan menangkal hoaks.

Materi lain yang tak kalah penting ialah tentang keamanan digital. Peserta dijelaskan agar akun media sosial dan data media sosial yang dimiliki aman dari penyalahgunaan oleh pihak yang tidak diinginkan. #le