Mahasiswa Katolik Monitor Polisi Mengusut Oknum Satpol PP Samarinda

oleh -92 Dilihat
Raja Ivan Sihombing

SAMARINDA, beritakaltim.co- Bentrok antara oknum Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja) Samarinda dengan pemuda di Jalan H Wahid Hasyim, merembet-rembet ke organisasi di mana anak-anak muda bergabung. Salah satunya PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia).

“Kasus pengeroyokan aktivis PMKRI oleh oknum Satpol PP di Samarinda sudah dilaporkan kepada pengurus pusat PMKRI dan menjadi keprihatinan bersama,” ucap Raja Ivan Sihombing SH, Komisaris Daerah VIII PMKRI, kepada beritakaltim.co.

Bentrokan itu terjadi Jumat (9/8/2019) menjelang tengah malam. Sekitar pukul 23.20 ada 4 mobil mengangkut 100 petugas Satpol PP mendatangi tempat hiburan dan olahraga biliar Atta 88 di Jalah KH A Wahid Hasyim, Sempaja Selatan, Samarinda Utara. Para petugas merazia pengunjung biliar, usai itu razia bersambung ke sebuah warung kopi yang sedang ramai anak muda di dekat tempat biliar tersebut.

Menurut laporan anak-anak muda yang ternyata sejumlah aktivis mahasiswa tersebut, petugas datang dengan kasar dan teriak meminta anak-anak muda menunjukkan identitas KTP. “Kami sedang diskusi kecil sambil ngopi di situ. Tidak ada perbuatan kami yang melanggar hukum, tetapi kok oknum Satpol PP jadi beringas. Kami juga heran, apa salah kami,” tutur Yogi Prasetyo Putra, Kader PMKRI Samarinda yang ikut jadi korban kekasaran oknum petugas Satpol PP.

Karena dikasari oleh oknum petugas para pemuda aktivis organisasi mahasiswa itu tidak terima, hingga terjadi adu fisik. Apalagi kemudian oknum Satpol PP itu main pukul, menyeret dan membawa anak-anak muda itu ke Kantor Satpol PP.

Kasus bentrokan itu sudah dilaporkan kepada petugas di Mapolresta Samarinda, Sabtu (10/8/2019) siang. Dalam laporan itu tertera pelapornya adalah Silvester Hengki Sanan yang mengalami luka di wajah. Laporan Silvester bersama teman-temannya diterima Ipda Pol Ilham.

Para korban yang kini mengadu ke Polresta Samarinda, masing-masing adalah Yohanes Richardo N.W (Kader GMNI Samarinda), keseleo bagian lengan kiri. Silvester Hengki (Kader PMKRI Samarinda), pelipis pecah dan bagian muka sobek. Silva Sagor (Kader GMNI Samarinda), memar bagian tangan, paha, kepala dan muka.

Kemudian Yogi Prasetyo Putra (Kader PMKRI Samarinda), bagian belakang kepala luka-luka, memar bagian leher, pinggang belakang, dan luka dibagian kaki. Aleks Bajo (Alumni GMNI Kutim), Angelus Onesimus (Kader PMKRI Samarinda), Michael Masi Sarwaji (Kader PMKRI) dan Wahyu yang mengalami kontak fisik bagian tubuh.

Menurut Raja Ivan Sihombing, langkah pertama PMKRI setelah mendapat penjelasan dari anggotanya adalah dengan memonitor secaara intensif pengusutan oleh pihak Polresta Samarinda. Pengusutan yang diharapkan, selain mencari kebenaran adanya tindakan penganiayaan terhadap anak-anak muda aktivis, juga didorong agar ada tes apakah oknum Satpol PP memakai narkoba saat melakukan kegiatan razia.

“Sebab beredar dugaan kemungkinan oknum Satpol PP ini menggunakan narkoba, sehingga menjadi begitu beringas saat melakukan razia,” ujar Ivan.

Langkah berikutnya, PMKRI menjajaki apakah perlu diambil langkah hukum dengan melaporkan ke ombudsman. Langkah tersebut untuk memastikan bahwa tindakan oknum Satpol PP salah prosedur. Termasuk juga jika penegakan hukum tidak berjalan sesuai perundang-undangan.

Tuntutan ketiga, kata Ivan, pihaknya akan berdialog dengan Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang agar ada tindakan administrasi kepada pimpinan dan oknum Satpol PP yang melakukan tindakan penganiayaan terhadap para aktivis.

“Saya kira pimpinan Satpol PP Samarinda ikut bertanggungjawab atas perbuatan anak buahnya. Jadi wajib ada tindakan pak Wali kepada yang bersalah dan bertanggungjawab,” ucap Ivan. #le

No More Posts Available.

No more pages to load.