ISPO Jadi Standar Tembus Pasar Sawit Eropa

oleh -169 views
Bupati Kutai Timur, Ismunandar didampingi Wakil Bupati Kasmidi Bulang menandatangani Momerandum of Understanding (MoU) bersama perwakilan GIZ mengenai Kelapa Sawit Berkelanjutan (Foto: Vian Humas)
SANGATTA, beritakaltim.co- Untuk menembus pasar kelapa sawit eropa, uni eropa telah menerapkan standar sawit yang harus dipenuhi para petani dan korporasi Indonesia, antara lain Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil ( RSPO) yakni prinsip – prinsip pengelolaan kelapa sawit yang berkelanjutan.
Standar tersebut memuat indikator-indikator yang menjamin bahwa penanaman dan produk yang dihasilkan berkelanjutan dan ramah terhadap lingkungan. Penerapan standar ini dapat menjamin adanya sistem produksi berkelanjutan dan dapat memperbesar peluang produk-produk kelapa sawit asal Kutim dan Indonesia masih dapat diterima secara internasional khususnya eropa.
Menindaklanjuti hal tersebut Pemerintah Kabupaten Kutai Timur ( Pemkab Kutim) bekerja sama dengan Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit GmbH  (GIZ) sebuah lembaga nirlaba Jerman yang akan memberikan pendampingan kepada petani dan korporasi yang ada di Kutim agar mampu mengelola sawit sesuai dengan mutu pasar eropa.
“Kami sangat berterima kasih atas kunjungan GIZ dan tim ke Kutim melihat pengelolaan sawit secara langsung. Di Kecamatan Kongbeng, GIZ dan tim bisa melihat contoh pengelolaan industri sawit ramah lingkungan dan berkelanjutan yang terbaik di Kutim. Namun akhir – akhir ini saya mendengar informasi Cruide Palm Oil (CPO) asal Indonesia mendapat penolakan di beberapa negara eropa, “ ujar Bupati Ismunandar saat bertatap muka dengan GIZ dan tim di ruang kerjanya, Rabu (18/9/2019).

Ketua Tim GIZ Mr Saza menjelaskan bahwa sebagian masyarakat uni eropa menganggap bahwa industri sawit menyebabkan terganggunya iklim global akibat pembalakan dan pembukaan hutan secara luas. GIZ akan menjadi mitra pemerintah baik Kutim maupun Kaltim melakukan promosi dan penjelasan ke masyarakat eropa khususnya pengusaha dari Jerman bahwa pengelolaan sawit di Kaltim dan Kutim sudah memenuhi standar baku mutu yang disyaratkan.

“Setelah nota kesepakatan ini ditandatangani, GIZ secara intensif akan melakukan pendampingan terutama kepada petani mandiri (smallholder) agar seluruh proses pengelolaan dan produksi industri kelapa sawit harus sesuai dengan standar eropa. Tujuannya agar petani bisa memperoleh sertifikat ISPO dan bisa bersaing di pasar eropa,” ujar Saza.(hms4).