Kutim Sudah Tarik Obat Ranitidin, Dinkes: Tidak Perlu Resah

oleh -83 views
Kepala Dinas Kesehatan dr Bahrani (Foto: Wak Hedir)

SANGATTA, beritakaltim.co- Dinas Kesehatan Kutai Timur (Dinkes Kutim) telah mengeluarkan surat edaran penarikan dan penggunaan obat Ranitidin ke seluruh Puskesmas, Rumah Sakit, Klinik Kesehatan dan tempat praktik dokter.

Kadinkes Kutim, dr Bahrani usai menghadiri pelantikan unsur pimpinan DPRD Kutim di Ruang Sidang Utama, Kamis (10/10/2019), hal tersebut menindaklanjuti Surat Edaran Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI pada 4 Oktober 2019 lalu.

“Kami sudah menindaklanjuti SE BPOM terkait penarikan dan pelarangan penggunaan Ranitidin, para dokter juga telah mengetahui hal tersebut. Dinkes juga sudah beberapa waktu lalu sudah menghentikan pemesanan ke industri farmasi dan rekanan pengadaan obat. Jadi sudah lama tidak menggunakan obat tersebut,” jelas Bahrani.

Masyarakat diimbau agar tidak resah menanggapai pemberitaan yang ada, jika masyarakat memerlukan informasi lebih lanjut silakan menghubungi apoteker, dokter dan tenaga kesehatan lainnya.

“Tidak perlu kuatir atau cemas, Dinkes Kutim sudah menghentikan pemakaian Ranitidin,” tambah pria yang hobbi main catur ini.

Alasan BPOM RI menarik Ranitidin dari peredaran adalah adanya temuan dari US Food and Drugs Adminstration (US FDA ) dan European Medicine Agency (EMA) tercemar NDMA (N-Nitrosedimethylmine) turunan zat Nitrosamin yang masuk golongan psikotropika kelas 1 setara dengan morfin yang bisa menyebabkan manusia kecanduan, halusinasi dan merusak susunan syaraf manusia.

Sebelum ditarik Ranitidin adalah obat yang digunakan untuk pengobatan penyakit tukak (luka) lambung dan tukak usus, diproduksi sejak 1989 dalam bentuk sirup, tablet dan injeksi. Berdasarkan nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan konsumsi Ranitidin adalah 96 ng per hari. Ranitidin bersifat karsinogetik (menyebabkan kanker ) jika dikonsumsi terus menerus dalam waktu yang lama. (hms4)