Dihadapan Petani se-Kalimantan, Isran Singgung Filosofi Upin dan Ipin

oleh -214 views
Isran Noor, Gubernur Kaltim, bicara pertanian.

SAMARINDA, beritakaltim.co – Memperluas wawasan dan pengetahuan bisa dari mana saja. Bahkan dari sesuatu yang kelihatannya remeh. Hal ini dicontohkan Gubernur Kaltim, Isran Noor. Saat menyampaikan sambutan di luar teks, dalam acara Gebyar Pertanian dan Akselerasi Ekspor Pisang Kaltim ke Malaysia, Sabtu (30/11/2019), Isran secara khsusus menyinggung film animasi Upin dan Ipin.

Awalnya, ia berbicara soal komoditas pertanian Indonesia yang kalah bersaing dengan sejumlah negara tetangga. “Di Malaysia itu ada durian seharga lima juta rupiah, jenis Musang King. Itu’kan dari cerita Upin dan Ipin yang berebut durian dengan musang,” ujar Isran, disambut derai tawa hadirin.

Dihadapan puluhan petani se-Kalimantan yang hadir di Aula Dispora Komplek Stadion Madya Sempaja Samarinda itu, ia melanjutkan, bahwa ada nilai filosofis dari cerita tersebut.

“Jadi, jangan cuma lihat Upin Ipinnya. Jangan nonton aja. Karena ada maknanya. Ini adalah kompetisi,” tukas Isran yang alumni Fakultas Pertanian Unmul ini.

Saat ini, kata dia, Malaysia telah mengekspor produk olahan paska panen berupa keripik pisang ke Eropa. “Eh, pisangnya dari Kaubun, Kaliorang Kutai Timur. Selisih harganya pun sangat jauh,” katanya.

Makanya, Isran mengajak agar para insan pertanian untuk berlari cepat, guna meningkatkan komoditas pertanian dan kesejahreraan petani. Sebab komoditas Indonesia di kawasan Asia tertinggal jauh dibanding Thailand, Malaysia, dan Vietnam.

“Bahkan di luar Asia, negara yang dulu dianggap tidak mungkin mengelola pertanian, seperti Qatar dan Israel yang lahannya berupa gurun, justru sekarang kualitas hortikulturanya terbaik di dunia. Mereka menggunakan teknologi penyiraman dari air bawah tanah padang pasir,” bebernya.

Ia menilai perlunya menggenjot semangat dalam pengelolaan pertanian. Termasuk melakukan berbagi upaya guna meningkatkan kualitas produk.

“Nggak usah berpikir pasar dulu, tapi tingkatkan kualitas. Misalnya pisang kepok, buahnya saat di pohon dibungkus plastik. Memang ada biaya tambahan, tapi warnanya bagus, tidak ada bintik. Dengan kualitas yang bagus, maka nilainya meningkat,” saran Isran. #

Wartawan: Mansyah