Kepala Desa Milenial di Tabang Ingin Bangun Pariwisata

oleh -433 views
Supardi Batz, Kepala Desa Kampung Baru, Kecamatan Tabang, Kutai Kartanegara.

SAMARINDA, beritakaltim.co- Kalangan milenial menjadi kepala desa? Bukan soal aneh lagi. Di Kutai Kartanegara, sejak dilakukan pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak beberapa waktu lalu, menginpirasi kalangan muda berpartisipasi mengikutinya. Salah satunya Supardi Batz yang terpilih sebagai Kepala Desa (Kades) Kampung Baru, Kecamatan Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Ditemui di salah satu cafe di daerah Vorvo Samarinda, Supardi Batz, mengungkapkan bahwa keberaniannya untuk maju ke Pilkades bukan didasari oleh rasa coba-coba, melainkan keinginannya untuk terlibat dalam proses pembangunan yang berawal dari desa. Ia bersyukur karena niat baiknya mendapat dukungan pula dari warga. Ada sekitar 80 Kepala Keluarga diklaim telah mengakomodirnya untuk memenangkan Pilkades itu.

Supardi kelahiran 4 Maret 1989 menceritakan, keinginannya menjadi pemimpin desa didorong dari potensi daerah yang dinilainya cukup menjanjikan. Pasalnya, daerah Kampung Baru yang menjadi tanah kelahirannya itu di samping merupakan kawasan yang berbasis pertanian dan perkebunan juga merupakan kawasan hijau dengan hutan lindung yang masih asri.

“Karena alam di desa kampung baru ini luar biasa masih asri, saya berkomitmen desa kita ini harus maju dengan investasi yang betul-betul menguntungkan buat masyarakat. Saya lebih cenderung ke pengembangan pariwisata alam,” urai anak kedua dan 6 bersaudara itu.

Dengan ADD (Anggaran Dana Desa) yang terbatas, Kades milenial ini tetap optimistis dengan mengedepankan program-program prioritas dan dibutuhkan desa.

Namun, terkait banyaknya kepala-kepala desa di negara ini yang terbukti menyelewengkan dana desa, Batz (sapaan akrabnya) tidak merasa takut. Bahkan dengan adanya langkah Kejaksaan Tinggi membentuk tim satgas pengawal dana desa, ia menambahkan bahwa hal itu sangat baik, karena memang seharusnya pun begitu.

“Kalau menurut saya, hanya orang-orang jahat saja yang takut, yang punya niatan jahat. Kalau bagi saya yang punya niatan membangun secara profesional dan terbuka, saya gak pernah takut,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa ke depan untuk mengawal program-program yang sudah dia buat, dia akan menerapkan konsep seperti pada saat dirinya aktif di organisasi kemahasiswaan.

“Kalau dulu, kita sebagai aktivis gerakan itu kan ada namanya tiga fase, pleno pertama itu membuat program, pleno kedua evaluasi program, dan pleno ketiga pergantian. Nah, sama halnya di desa ini nanti saya akan kawal usulan program dari proses Musrenbang sampai pertengahan tahun saya akan evaluasi kinerja saya,” tutupnya.#

Wartawan: Heriman