Saham Pemprov Kaltim di Perusda Ketenagalistrikan Tersisa 17 Persen

oleh -219 views
Sapto Haryo Pramono

SAMARINDA, beritakaltim.co- Upaya Komisi II DPRD Provinsi Kaltim dalam mendalami peran Perusahaan Daerah (Perusda) untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terus dilakukan. Diantarnya dengan menelusuri kembali kerjasama antara Perusda Tenagakelistrikan dengan Jawa Pos Grup dalam membangun pembangkit listrik di Benua Etam.

Dalam Rapat Dengar Pendapat (PAD) antara Komisi II dengan Perusda Ketenagalistrikan di Kantor DPRD Kaltim di Gedung D lantai 3, Karang Paci, membahas mulai dari pendapatan Perusda hingga pola kerjasama Perusda Ketenagalistrikan dengan Jawa Pos.

Menurut anggota komisi II, Sapto Setyo Pramono mengatakan hingga saat ini Kaltim mempunyai saham 17 persen dalam kerjasama tersebut.

“Memang kita telah melakukan penyertaan modal kurang lebih Rp 126 Milyar, waktu itu kaltim mengalami krisis listrik. Bagaimana waktu itu dengan dana Rp 126 Miliyar bermaksud untuk membangun pembangkit listrik ternyata tidak bisa sehingga dia konsorsiumlah dengan perusahaan swasta grupnya jawa post sehingga dia bisa membangun, dia membangun itu hampir Rp 700 Milyar, itupun yang menjamin Jawa pos grup, dari 70 persen saham kita, karena kita tidak bisa menyertakan modal dalam proses pembangunan sehingga saham tersebut tinggal 17 persen,” urai Sapto saat ditemui diruangannya di lantai 3 gedung D.

Jawa pos grup masih membuka lebar pintu apabila pemerintah provinsi ingin membeli saham pada kerjasama tersebut.

“Jadi masih terbuka lebar bagi pemerintah provinsi yang memang ingin membeli saham yang ada. Jawa pos grup membuka peluang, karena di situ ada proses pengembangan,” beber Sapto.

Lebih jauh, Sapto mengatakan dari kerjasama tersebut Kaltim mendapatkan benefit sebesar Rp 144 Miliyar.

“Kita mengikuti proses pengembangan tersebut dari fase 1 sampai 3 saja , jadi 4 sampai 6 kita gak ikut. Sehingga kita dapat benefit itu kurang lebih dengan Rp 126 Milyar, setara dengan penyertaan modal dulu. Itu sekarang aset kita nilainya sekitar Rp 144 Milyar. Memang dalam menyumbang PAD masih minim,” tutur Sapto. #

Wartawan: Heriman