Tiga Calon Kandidat Pilwali Bicara Banjir Samarinda di Unmul

oleh -420 views
Diskusi publik di BEM Unmul.

SAMARINDA, beritakaltim.co- Universitas Mulawarman melalui BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) melakukan acara Diskusi Publik dengan menghadirkan bakal calon yang maju pada kontestasi Pilwali Kota Samarinda. Hadir Zairin Zain, Parawansa serta Rusmadi Wongso dan dipandu oleh moderator Said Husein.

Acara di lantai empat gedung Rektorat itu mengangkat judul “Membedah Gagasan Bakal Calon WaliKota”. Para bakal calon yang hadir diberi waktu untuk memaparkan gagasan, visi serta misi mereka, setelah itu diberikan kepada yang hadir untuk bertanya.

Bakal calon pertama yang menyampaikan gagasanya yakni Rusmadi Wongso yang menjadi calon Wakil Wali Kota berpasangan dengan calon Wali Kota Andi Harun. Dalam pemaparannya Rusmadi mengusung Samarinda sebagai kota pusat peradaban.

“Kami mengusung Samarinda sebagai kota pusat peradaban. Samarinda dengan potensi ekonomi yang cukup besar. Banjir merupakan persoalan serius yang tidak bisa diselesaikan sepotong potong. Kita lihat daerah hulu dengan kondisi gundul, di sana juga ada bendungan. Kapasitas bendungan Benanga, kalau ini tidak hijau, dan tidak dihijaukan maka rasanya sulit menyelesaikan banjir,” ucap Rusmadi yang pernah menjadi Kepala Bappeda dan Sekdaprov Kaltim itu.

Di perkotaan ada permasalahan utama, yaitu got atau parit. “Jika hujan maka dari karang mumus keluar ke permukiman, tetapi kalau jalan ke jembatan dua kehewanan, sungai itu separuhnya gak ada air,” paparnya.

Rusmadi pun menilai, selama ini sungai yang ada tidak berfungsi secara maksimal. “Maka saya menilai sungai tidak berfungsi dengan baik. Saya meyakini bahwa banjir bisa kita selesaikan secara bertahap. Permasalahan lain, Samarinda sebagai kota bisnis maka macet juga harus kita selesaikan. Kita siapkan, ada tim yang akan mengerjakan secara langsung bila terjadi kemacetan. Kalau banjir dan kemacetan, maka rumah untuk membangun ekonomi akan terbuka dengan luas”.

Untuk masalah pendidikan, ucap Rusmadi, kita akan memastikan bahwa tidak ada anak anak usia sekolah yang tidak sekolah, apalagi masyarakat miskin, mestinya pemerintah hadir dengan memberikan jaminan.

“Karena tujuan pembangunan adalah untuk memastikan masyarakat aman,” bebernya.

Sementara, salah satu bakal calon yang maju melalui jalur independen, Parawansa, menjelaskan, setiap kandidat mengemas narasi seindah mungkin untuk mengulas permasalahan Kota Samarinda.

Tetapi kemudian itu juga menjadi permasalahan yang terus berlanjut. Persoalan Kota “Samarinda adalah persoalan data, ketika saya diskusi dengan Dinas Pendidikan, kira kira berapa jumlah pelajar yang tidak mengikuti pendidikan, ternyata tidak ada yang tau. Lalu bagimana kita mampu menerapkan program dengan asumsi-asumsi.
Pada dinas kesehatan, kita tau gak berapa jumlah pasien dengan sebuah penyakit khusus? Selama ini, program itu dijalankan hanya untuk melegitimasi dalam hal menyelesaikan anggaran,” urai Parawansa.

Lebih jauh Parawansa mengulas terkait konektifitas setiap instansi yang ada di Kota Samarinda. “Ada, gak di kota Samarinda mengkoneksikan setiap instansi untuk memadukan data? Tidak ada. Padahal itu sangat mudah,” ujarnya.

Mengenai persoalan banjir, lanjut Parawansa, kita sama bahwa ada persoalan hulu dan hilirnya, tetapi permasalahan utama bukan itu. Masalahnya adalah political will. Ada kebijakan politik yang tidak konsekwen untuk kota Samarinda, yaitu tambang. Adakah kontribusi besar tambang dengan kerugian yang dimiliki masyarakat? Itu yang perlu kita ketahui, bahwa supaya kita berani mengambil sikap bagimana kebijakan itu dibuat.

“Walikota itu bukan tujuan, tetapi bonus dari perjuangan. Karena bagi kami, ketika kami mampu meyakinkan masyarakat, itu adalah bonus,” terangnya.

Sementara Bakal Calon yang berpasangan dengan Sarwono, Zairin Zein, mengatakan, banyak masalah yang terjadi di Kota Samarinda, namun kita harus tetap fokus untuk membangun.

“Tentu kita banyak masalah di Samarinda, tetapi kita harus bisa fokus untuk membangun. Kita harus bangkit bersama untuk membangun Kota Samarinda, kalau kita hanya melihat saja, maka Samarinda hanya seperti ini juga. Kita ingin bagaimana meningkatkan seluruh elemen yang ada agar bagaiamana kita kita bisa bangkitkan Samarinda untuk lima tahun kedepan,” beber Zairin.

Salah satu yang menjadi pondasi awal untuk membangun kota Samarinda, Zairin mengatakan, harus meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia. “Apa yang mau kita lakukan agar Samarinda bisa bangkit, maka kita ingin meningkatkan sisi SDM-nya terlebih dahulu.

“Kesehatan adalah hal yang harus kita siapkan lebih awal. Kalau kesehatan tidak bagus, maka anak-anak kita juga tidak akan cerdas,” urainya.

“Yang jelas kita ingin masyarakat sehat, untuk meningkatkan SDM, bila itu meningkat maka ini juga akan meningkatkan ekonomi kita. Kita punya industri perkapalan yang besar, yang itu ada di sungai Kapih. Di situ dibuat feri, dibuat kapal lain, tetapi itu tidak diinformasikan di sana”.

Menurut Zairin, saat ini masyarakat mengeluh soal listrik dan air yang katanya sudah berjalan hingga 90 persen, tetapi banyak yang mengeluh. “Listrik kita ini juga terlalu mahal, hingga jutaan, bagi masyarakat yang menyambung listrik, insya Allah itu menjadi perhatian kita,” tukas Zairin.

Untuk meminimalisi banjir, Zairin mempunyai program yakni mengeruk waduk Benanga. “Ada lagi masalah lain yang lebih besar, bila mana hujan turun itu sudah seperti menakutkan. Maka kita harus segera keruk waduk benanga. Insya Allah itu bisa mengurangi ketakutan masyarakat Samarinda. Kemudian kalau sungai karang mumus juga tidak dikeruk, itu juga sulit. Maka sungai harus kita lebarkan, insya Allah Samarinda akan terbebas dari banjir,” ujarnya.

Zairin juga menyoroti banyaknya izin liar atau bahkan tambang ilegal. “Kedepan, bila perlu, tidak boleh lagi ada izin untuk tambang, padahal di dalam regulasi harus satu kilo pemukiman baru boleh, tetapi nyatanya ada juga di pingir kampung. Ruang terbuka hijau di Samarinda dari luas yang ada harus 30 persen dan saat ini baru 9 persen dan itu belum memenuhi,” imbuhnya.

Lebih jauh Zairin mengatakan aparatur negara harus mampu melayani masyarakat dengan maksismal.

“Bagaimana kita ini sebagai aparatur harus mampu melayani masyarakat, tidak harus ada lagi korupsi atau hal hal yang tidak disenangi oleh masyarakat. Soal perijinan tidak boleh lagi berbelit-belit,” tutupnya.#

Wartawan: Heriman