JAKARTA: Ada yang bertanya, di mana membeli mobil Esemka? Sebab setelah pabriknya diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) 6 September 2019 lalu, perkembangan produksi dan penjualan mobil oleh PT. Solo Manufaktur Kreasi itu kurang terdengar kabarnya.
Namun sebenarnya, cukup mudah bagi warga yang ingin tahu atau bahkan ingin membeli mobil tersebut. Setidaknya publikasi tentang manajemen perusahaan itu bisa diikuti dari akun Instagram produsen Esemka, @esemka_indonesia. Di sana terlihat jelas produk-produk Esemka seperti Bima, Digdaya, hingga Garuda 1.
Esemka juga sudah menggandeng PT Unisat Oto International (UOI) sebagai mitra penjualan di seluruh Indonesia. Ada 7 outlet 3S (sales, service, spare parts) untuk produk-produk Esemka, yaitu di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi. Namun, produk yang sudah dapat dipesan baru 2 jenis kendaraan niaga, yaitu Esemka Bima 1.2L dan Bima 1.3L.
Jenis mobil niaga pick up itu punya peluang pasar di seperti Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Namun manajemen perusahaan optimistis bisa menembus pasar ekspor ke negara tetangga seperti Myanmar, Timor Leste dan Malaysia. Optimis pada hasil penjualan karena harga unit mobil hanya dengan rentang Rp95 Juta sampai Rp110 juta.
Saat ini Esemka telah memproduksi 2 mobil jenis pick-up untuk kegiatan komersil, yakni Bima 1.2L dan 1.3L. Kedua produk ini dijual dengan rentang harga Rp 95 juta – Rp 110 juta off the road.
Pabrik PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) terletak di Desa Demangan, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Namun masyarakan Indonesia cukup lama menantikan kehadirannya, karena setelah diendorse oleh Joko Widodo ketika masih menjadi Wali Kota Solo, tak banyak lagi terdengar kabarnya.
Kesulitan yang dialami mobil Esemka adalah belum terpenuhinya persyaratan Sertifikat Uji Tipe (SUT). Sebab dalam mendapatkan SUT banyak tahapan yang harus dilalui mobil Esemka.
Pengujian kendaraan dilakukan berkali-kali oleh Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor (BPLJSKB) Kementerian Perhubungan. Pengujian tersebut di antaranya adalah uji dimensi, uji kontruksi, uji rem, uji speedometer, turning radius, uji berat, uji klakson, uji slide slip, uji lampu, uji emisi CO dan HC idle, serta pemenuhan persyaratan teknis.
Sebenarnya Indonesia sudah pernah mempunyai mobil Nasional yaitu mobil Timor pada era Presiden Soeharto. Sayangnya, ketika Pak Harto lengser, mobil Timor pun juga lengser.
Bedanya dengan mobil Esemka, karena mobil Esemka bukanlah mobil Nasional. Mobil itu hanya mobil karya anak bangsa yang diproduksi oleh perusahaan swasta. Banyak warga tidak memahami masalah status ini, karena mengira pemerintah yang memproduksinya.
Dari catatan redaksi, tercatat ada 8 mobil Esemka yang sudah siap produksi dan masuk pasar otomotif Tanah Air. Ke-8 mobil tersebut adalah mobil Esemka Bima 1.3 (4×2) MT, Bima 1.8D (4×2) M/T, Niaga 1.0 (4×2) M/T, Digdaya 2.0 (4×2) M/T, dan Borneo 2.7D (4×2) M/T, Bima 1.0 (4×2) MT dan Bima 1.3 L (4×2) MT, serta Garuda 2.0 (4×4) MT.
Sebelumnya, beredar juga kabar mobil Esemka yang telah diproduksi copy paste dengan mobil asal China Foday Landfort. Lantaran desain keduanya sangat mirip, hanya dibedakan dari emblem saja.
Ternyata tuduhan itu tidak benar. Karena spesifikasi kedua mobil berbeda. # res
Comments are closed.