BeritaKaltim.Co

Dewan Rekomendasikan Rencana Induk Distribusi Air Minum

BERITAKALTIM.CO- Hasil kunjungan kerja Komisi II DPRD Kota Balikpapan ke Yogyakarta maupun Palembang, mencetuskan rencana menggodok rancangan peraturan daerah (Raperda) mengenai Rencana Induk Distribusi Air Minum.

“Setelah kami lakukan banyak kunjungan, maka kami rekomendasikan untuk melakukan kajian baru terkait dengan perda rencana induk distribusi air minum,” ujar Anggota Komisi I DPRD, Syukri Wahib, Senin (19/10).

Syukri mengatakan, dari kunjungan kerja tersebut, ada beberapa masukkan yang dijadikan bahan untuk menggodok Raperda Induk Distribusi Air Minum. Diantaranya menyangkut target pelayanan air bersih ke masyarakat.

“Di dalam perda kita mengamanatkan bahwa target jaringan itu 90 persen, di Yogya target itu cuma 30 persen, itu beda. Padahal oleh Kemendagri target itu diperoleh dari PDAM masyarakat juga bisa,” ujarnya.

Saat ini realisasi pelayanan air besih PDAM baru sekitar 83 persen, harapannya bisa mencapai 100 persen. Sehingga dengan Perda Induk Distribusi Air Minum bukan hanya menjadi target PDAM soal pelayanan air bersih.

“Karena itu jangan lagi kita melihat target itu 100 persen bebannya ke PDAM. Nah itu bisa datangnya dari masyarakat. Sehingga dalam target panjang kita target 100 persen bisa dicover,” ujarnya.

Selain penyertaan modal, melalui Perusahaan Umum Daerah (Perumda) PDAM juga diperkenankan melakukan pengembangan unit-unit usaha lain. Seperti di Yogyakarta membuka kolam renang dan air minum kemasan.

“Penyertaan modal juga berbeda, yang ketiga jenis usaha itu juga beragam. Kenapa di PDAM (Balikpapan) juga tidak. Itu di perda kita bentuk satu unit di dalam struktur PDAM itu bisa mengembangkan usaha dan itu diperkenankan. Jadi itu semacam bisnis plan (perencanaan) yang besar 30 tahun ke depan itu apa? Jadi itu yang kita lihat perlu membuat kajian baru,” kata politisi PKS ini.

Sementara dari hasil kunjungan kerja ke Palembang, para wakil rakyat tersebut melihat kontribusi pendapatan asli daerah (PAD) PDAM di Kota Empek-empek itu justru jauh lebih tinggi mencapai Rp52 miliar pertahun.

“Kalau Palembang kan luar biasa, mereka kontribusi PAD-nya 52 miliar per tahun, sedangkan kita baru Rp12 miliar. Kenapa bisa? Karena satu daya dukung air waduknya bagus, yang kedua supoport penyertaan modal kita dari awal sudah lebih tinggi dari kita,” ujarnya. #

Wartawan: Thina

Comments are closed.