BeritaKaltim.Co

Sidang Pleno SDA Nasional 2020, Gubernur Tagih Normalisasi Sungai Karang Mumus

BERITAKALTIM.CO- Gubernur Kaltim Isran Noor didampingi Asisten Bidang Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Abu Helmi, Kepala Biro Administrasi Pembangunan Fajar Joyohadikusumo dan Kepala Biro Infrastruktur Lisa Hasliana mengikuti Sidang Pleno Dewan Sumber Daya Air Nasional (SDNA) 2020 secara virtual di ruang Heart of Borneo (HoB), Selasa (3/11/2020).

Sidang pleno ini dibuka dan dipimpin langsung oleh Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartato yang juga selaku Ketua Dewan SDAN. Selain itu, turut hadir Menteri PUPR Basuki Hadi Muyono Selaku ketua harian dewan SDAN, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dan Jajaran Dewan SDAN lainnya.

Gubernur Kaltim, Isran Noor mengungkapkan sidang pleno ini rutin dilaksanakan setiap tahun yang diikuti jajaran menteri terkait selaku anggota termasuk beberapa daerah yang gubernurnya menjadi anggota termasuk Riau dan Kaltim.

“Intinya membahas bagaimana pengelolaan sumber daya air secara terpadu, menyeluruh dan berkelanjutan. Termasuk pembahasan dua Rancangan Peraturan Presiden(Raperpres) tentang pembinaan dan pemanfaatan sumber daya air,” urai Isran.

Pada saat mendapat kesempatan berbicara, Isran Noor menekankan tentang upaya untuk mencegah dan mengendalikan pendangkalan sungai, khususnya Sungai Karang Mumus(SKM) yang membelah Kota Samarinda, dimana kerap kali menjadi penyebab terjadinya banjir. Ia berpandangan bahwa sampai saat ini upaya Normalisasi SKM belum teralisasi.

“SKM harus dikeruk, harus didalami, normalisasi. Saya sudah bicarakan rencana itu dengan Menteri PUPR beberapa waktu lalu. Namun sampai saat ini belum ada realisasinya,” tegas Isran.

Menanggapi hal itu, Menteri PUPR Basuki Hadi Mulyono menjelaskan jajarannya sudah melakukan penanganan terhadap SKM. Namun Ia berpandangan ada faktor lain yang menjadi penyebab pendangkalan SKM yang mungkin erat kaitannya dengan aktivitas pertambangan.

“Pendangkalan SKM mungkin disebabkan kegiatan pertambangan. Selain pengerukan juga harus dibangun chek dam atau dam penahan di muara sungai untuk menahan, menampung dan mengendalikan sedimen agar jumlah sedimen yang mengalir menjadi lebih kecil.”jelas Basuki. #

Wartawan : Ahmadi

Comments are closed.