BeritaKaltim.Co

10 Hari Terakhir Ini, Tidak Ada Kiriman Cabe ke Samarinda

BERITAKALTIM.CO- Menjelang Natal dan penghujung tahun 2020, ritme bahan pangan seperti cabe kecil mulai menunjukan fenomena baru. Hal ini disampaikan Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda Nina Endang Rahayu usai memimpin rapat Stabilitas Harga Jelang Hari Besar Keagamaan, Senin(07/12/2020) siang di Balaikota.

Nina mengungkapkan, fenomena tersebut terjadi dalam 10 hari terakhir ini, dimana tidak ada kiriman cabe dari Pulau Jawa maupun Sulawesi yang masuk ke Kota Samarinda.

“Hal ini berdasarkan hasil pantauan dari tim Dinas Ketahanan Pangan yang melakukan survei di 2 pasar tradisional di Samarinda yakni Pasar Segiri dan Pasar Pagi,” bebernya.

Menurutnya, hasil pengakuan pedagang di Pasar Segiri, untuk mendapat cabe atau lombok tiung tadi pedagang harus mengambilnya di Kota Balikpapan dan Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Fenomena ini sebenarnya jarang terjadi sebelumnya. Karena dampaknya kedepan sangat berpengaruh pada harga cabe di pasaran.

“Pengaruhnya harga cabe pasti akan naik karena ada biaya tambahan yang dikeluarkan pedagang dalam pendistribusian cabe tersebut hingga harus mengambil langsung di Kota Balikpapan,” ujar Nina.

Padahal menurut mantan Kepala Dinas Kesehatan Samarinda ini, pihaknya sudah menanyakan ke Asosiasi Petani Cabe di Jawa Timur, kalau saat ini panen cabe di pulau Jawa sedang dalam kondisi yang baik. Begitu pun dengan Sulawesi, petani disana juga mengakui tidak ada kendala pada panen cabe di daerah tersebut. Justru mereka menunggu permintaan dari Kaltim, khususnya Kota Samarinda.

“Ini yang sebenanya perlu kita jaga. Karena jika permintaan tinggi tetapi ketersediaanya terbatas, maka bakal terjadi lonjakan harga, sehingga Pemerintah wajib mewaspadai spekulan,” jelasnya.

Sementara itu, terkait kenaikan beberapa komoditas di pasar tradisional jelang natal dan tutup tahun, Nina kembali mengatakan karena adanya lonjakan permintaan tadi. Apalagi 2 bulan terakhir ini juga ekonomi di Kota Samarinda mulai bergairah, sehingga psikologi pasar membiasakan diri naik dalam momen ini menjadi ajang kesempatan.

“Terpenting peran Pemerintah untuk selalu hadir dalam mengontrol harga sandang pangan di pasar sangat penting disini. Karena saat Oktober kemarin kita juga sempat mengalami deflasi, sehingga melambatnya permintaan imbas dari lemahnya daya beli masyarakat selama pandemi. Jadi jika ekonomi di Samarinda perlahan-lahan membaik jelang penghujung tahun perlu kita syukuri,” tutupnya. #

Wartawan : Ahmadi

Comments are closed.