BERITAKALTIM.CO- Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang menggelar video conference (vidcon) bersama kepala sekolah PAUD, TK, SD dan SMP se-Kota Samarinda, yang bertempat di Aula Rumah Jabatan(Rujab) Walikota, Jalan Ruhui Rahayu, Senin (21/12/2020).
Pada kesempatan ini, wali kota menuturkan akan memberikan beberapa rekomendasi pada sekolah yang tidak boleh melakukan pembelajaran tatap muka pada 11 Januari mendatang. Diantaranya bagi pelajar maupun guru yang memiliki penyakit bawaan atau komorbit, Pemkot tidak merekomendasikan untuk ikut dalam proses pembelajaran tatap muka nanti.
“Jadi khusus mereka yang punya penyakit bawaan seperti kelainan jantung, diabetes dan lain-lain saya tidak rekomendasikan untuk ikut belajar tatap muka dulu,” ungkap Jaang.
Begitu pun terkait persentase jumlah murid yang boleh belajar di sekolah, Jaang hanya merekomendasikan berdasarkan tingkat kerawanan penyebaran Covid-19 berdasarkan zonasi yang berada di masing-masing kecamatan.
Dikatakannya, Zona kuning diperbolehkan melakukan pembelajaran sebesar 50 persen saja, yaitu Kecamatan Loa Janan Ilir, Samarinda Seberang, Samarinda Kota, Samarinda Ilir, Sambutan dan Kecamatan Palaran.
Sementara untuk zona orange seperti Kecamatan Sungai Kunjang, Sungai Pinang dan Samarinda Utara murid yang turun ke sekolah untuk belajar hanya boleh sebesar 25 persen saja. Sementara untuk zona merah ia tidak merekomendasikan untuk melakukan pembelajaran tatap muka.
“Saya perhatikan Kecamatan Samarinda Ulu masih masuk zona merah, jadi saya sarankan untuk sekolah yang masuk zona ini jangan dulu menggelar sekolah tatap muka,” pintanya.
Bahkan, bagi siswa yang tinggal di zona merah tapi sekolahnya masuk dalam kawasan zona kuning, Jaang tidak merekomendasikan pelajar tersebut untuk ikut belajar secara tatap muka. Kendati demikian, Ia menambahkan sistem zonasi tersebut masih bisa berubah seiring berjalannya waktu hingga mendekati 11 Januari nanti.
“Siapa tahu masuk awal Januari zona yang merah tadi bisa berubah ke warna kuning karena tingkat kerawanan penyebaran Covid-19 menurun, jadi sekolah sempat tidak dapat rekomendasi bisa langsung menggelar belajar tatap muka. Begitu pun juga dengan siswa yang belum bisa belajar langsung di sekolah saya minta nggak perlu khawatir karena belajar secara daring atau online tetap diberlakukan,” urainya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Samarinda, Asli Nuryadin menambahkan jika hasil angket yang disebar setiap sekolah awal Desember kemarin yang diperuntukan bagi 1000 orang tua murid terkait respon terhadap pembelajaran tatap muka, hasilnya 86 persen menyatakan setuju dan 13 persen tidak setuju belajar tatap muka.
“Jadi apabila sistem belajar nanti berjalan kita juga berlakukan sistem open dan close. Maksudnya apabila kembali terjadi peningkatan kasus Covid-19 di Samarinda, maka kita langsung kembali mengeluarkan kebijakan untuk menutup aktifitas belajar tatap muka di sekolah.” jelasnya. #
Wartawan : Ahmadi
Comments are closed.