BeritaKaltim.Co

Samarinda Masih Aman, Begini Penjelasan Pemerintah

BERITAKALTIM.CO- Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda dr Ismed Kosasi meluruskan berbagai isu covid-19, mulai soal terjadinya lonjakan kasus warga terserang virus, hingga isu varian baru di Samarinda dan wilayah kabupaten Kota disekitarnya.

Menurutnya, isu itu tidak benar dan perlu diluruskan. Sampai saat ini Samarinda masih aman-aman saja, bahkan lebih aman dari masa pandemi pertama kali terjadi tahun 2020 lalu.

Meski aman-aman saja, tetapi dia tak menampik jika terjadi pelonjakan warga memeriksa dan berobat terkait serangan virus covid di Kota Samarinda. Menurutnya, hal itu karena kesadaran orang sekarang sudah mulai takut terhadap virus setelah melihat begitu mengerikannya kasus positif di 4 wilayah, yakni Bontang, Balikpapan, Berau dan Kukar.

“Bukan karena mereka itu semua terkena virus, tetapi boleh dikatakan ini terjadi kepanikan,” tutur dr Ismed.

Akibat kepanikan itu demam-demam biasa pun warga langsung melakukan isolasi mandiri di rumah masing masing. Menurut Ismed, hal ini justru bagus karena warga sudah melek covid.

“Tetapi berita-berita di sosmed menggoreng keadaan ini seolah olah Samarinda juga sedang massif dan mengkawatirkan dari covid,” tuturnya.

Akibat situasi panik itu, kata Dr. Ismed, menyebabkan hampir seluruh rumah sakit, baik negeri maupun swasta di Samarinda dibanjiri warga yang berobat dan memeriksakan keadaan dirinya. Akibatnya rumah sakit membludak dan ruang ruang perawatan full karena memang diperiksa dokter.

“Tetapi 80 persen pasien kita suruh pulang dan tidak perlu tinggal menginap memenuhi rumah sakit, karena mereka banyak yang hanya sakit biasa. Meski ada yang terindikasi covid, tetapi tidak musti harus diinfus atau dimasukkan di UGD, karena masih ringan dan baru indikasi,” papar dr Ismed dihadapan peserta rapat khusus itu.

Lantas mengapa isu ini heboh dan membuat Wali Kota Samarinda terlihat ikut “panik”?

Karena, menurut Ismed, hal ini memang dibesar besarkan beberapa informasi yang disampaikan media dan Sosmed yang melihat keadaan itu secara dangkal. Seharusnya media-media ini harus memahami keadaan sesungguhnya terlebih dahulu sebelum menyebarkan ke masyarakat sehingga membuat panik.

Akibat berita-berita liar itu, maka muncullah isu kekurangan tabung dan gas oksigen untuk kebutuhan pasien covid, adanya isu persoalan mayat jenazah covid yang terlantar karena kekurangan tenaga, dan isu media lainnya yang menyebutkan ruang perawatan korban covid yang tidak mencukupi.

Kadis Kesehatan ini mengurai, keadaan yang disampaikan media itu tak dipungkiri memang ada yang terjadi demikian, tetapi tidak begitu mengkuatirkan seperti dalam pemberitaan.

Soal tabung gas, yang diberitakan itu adalah tabung-tabung yang ditimbun pedagang karena memanfaatkan situasi dalam bisnis. Tetapi tabung maupun oksigen di seluruh rumah sakit itu aman dan tersedia, sekalipun lonjakan besar serangan covid terjadi sebab pihak rumah sakit secara keseluruhan di Samainda ini sudah melakukan MoU dengan banyak rekanan pemasok tabung dan gas di rumah-rumah sakit dengan jumlah yang besar.

Begitu juga halnya dengan soal ruang ruang perawatan. Memang ada beberapa RS di Samarinda yang penuh pasien, seperti RS IA Moes, RS AW Syahranie dan sejumlah RS swasta lain. Tetapi itu hanya berobat jalan dan pemeriksaan yang satu hari diperiksa langsung pulang dan memilih isolasi mandiri.

“Jikapun terjadi lonjakan serangan kita akan alih fungsikan seluruh RS negeri dan swasta untuk jadi rs covid. Selain itu banyak juga gedung-gedung pemerintah yang siap kita gunakan, sebab hotel menolak saat ini dijadikan penampungan vasien covid,” ulas Ismed lagi.

Kesembuhan covid, terang Ismed, mencapai 80 persen, masih ringan dan dia yakin minggu ketiga dan keempat yang akan datang serangan covid di Samarinda akan menurun hingga berahir.

Hal ini ditandai dengan kinerja para Camat di berbagai kecamatan se Kota Samarinda yang benar-benar berjibaku melakukan pengawasan dan disiplin 3 M dngan baik, yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

Isu lainnya mengenai pengurusan jenazah. Diakui oleh Ismed hal tersebut memang harus diperhatikan, sebab terjadi tarik menarik kepentingan antar bidang-bidang di dalam Satgas covid-19.

Diberitakan sebelumnya terjadi “pertengkaran” biaya pemakaman yang dinilai lumayan besar, yakni mencapai Rp.500 ribu per orang persatu jenazah. Padahal petugas pemakaman ada 16, sehingga kalau per orang mendapat Rp500 ribu per satu jenasah, dikeluarkan biaya Rp8 juta setiap kali memakamkan.

Pemkot sendiri telah menganggarkan sekitar Rp.5 miliar khusus untuk penguburan jenazah korban covid dan yang sudah terpakai sudah hampir mencapai Rp3 Miliar.

Padahal satu sisi, menurut Wali kota Samarinda Andi Harun dalam satu kesempatan, ada pejuang para medis dan lembaga yang terlibat dan berhadapan langsung dengan pasien dengan risiko tinggi justru alokasi anggarannya di bawah angka biaya pemakaman.

“Ini saya minta untuk direvisi, lagi jangan sampai kita bermaksud baik tetapi kita bermasalah di pemeriksaan BPK dan hukum. Saya tidak masalah satu orang Rp.3 juta juga saya setujui, namun jangan sampai membuat kita bermasalah lagi disaat covid sudah selesai dan terdapat temuan ketidaksesuaian anggaran dalam penanganan covid,” terang Andi Harun, menanggapi soal biaya pemakaman korban covid itu.

Terkait soal penanganan pasien covid-19, Direktur RS IA Moeis Samarinda, Dr Syarifa Rahimah juga membenarkan bahwa beberapa rumah sakit rujukan memang penuh dengan pasien covid. Tetapi, menurutnya, penanganan tahun ini jauh lebih baik dan sukses dari tahun awal-awal covid menyerang tahun 2020 lalu. Kini fasilitas dan ruang kian tertata dan selalu dilakukan pencadangan ruangan.

Instruksi Kementerian Kesahatan RI, menyarankan agar pasien yang hanya menggunakan oksigen dan covid ringan-ringan saja, maka sebaiknya tidak usah dibawa ke rumah sakit, cukup di rumah saja dan petugas medis dan kesehatan akan memantau 24 jam.

Yang dirawat di rumah sakit adalah pasien yang harus membutuhkan ventilator, maka pasien tersebut harus dimasukkan ruang eksklusive. RS IA Moes sendiri kini memiliki 4 ruang inventilator HICU dan 7 buah ruang ventilator ICU.

“Sejauh isu covid ini heboh, baru satu pasien yang masuk inventilator karena memang kronis, itupun kondisinya sudah mulai membaik, sisanya yang terserang ringan-ringan kita pulangkan ke rumah masing-masing untuk Insoman,” kata Dr. Syarifah.

Yang memperihatinkan adalah para pejuang dan pahlawan kemanusiaan, para medis dan tenaga perawat yang bertugas langsung di RS menangani seluruh pasien. Menurut dr Syarifah, pihaknya terus saling menyemangati mereka, meski diantaranya sudah banyak juga yang jatuh sakit bahkan terpapar covid tetapi mereka tetap semangat dan terus berjuang tanpa lelah.

Menurut Syarifah, dalam persoalan covid ini, para medis sudah tidak peduli dengan status bahwa perjuangan mereka karena mencari prestasi atau kenaikan karier dalam dunia medis. Bukan juga mau gagah-gagahan dicap sebagai pahlawan. Tetapi, menurut Dirut RS IA Moeis ini, para medis sekarang berprinsip bahwa persoalan covid adalah persoalan kemanusiaan yang harus diselesaikan masalahnya.

“Tidak ada yang tahu kapan covid akan selesai, sebab belum ada obat yang bisa menangkalnya, tatapi medis akan mendarma baktikan hidupnya untuk tujuan kemanusiaan agar tidak jatuh korban yang lebih banyak lagi kedepan,” terang dr. Syarifah lagi. #

Wartawan: M. Sakir

Comments are closed.