BeritaKaltim.Co

Kapolda Kaltim Prihatin Munculnya Virus Varian Baru, Warga Harus Doubel Masker

BERITAKALTIM.CO- Kapolda Kaltim, Irjenpol Drs. Herry Nahak M.Si mengaku prihatin melihat keadaan bangsa akibat covid-19 yang kini ditambah lagi dengan varian barunya dan jauh lebih dahsyat. Informasi dan rekomendasi ahli medis, varian baru ini serangannya kuat dan dapat menembus pernapasan jika hanya mengenakan satu masker. Lantaran itu disarankan tiap orang menggunakan dua masker.

“Terkait hal ini kita juga ingatkan masyarakat, saat ini sebaiknya mulai membiasakan untuk mengenakan masker yang doubel agar varian baru ini tidak menyambar kita,” kata Kapolda Kaltim.

Dia menambahkan, varian ini juga mengincar anak-anak umur balita hingga remaja. Sehingga hal ini bisa menimbulkan kecemasan dan kepanikan luar biasa. Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang benar agar bisa saling melakukan antisipasi dan pencegahan serta penanganan bagi yang sudah terpapar.

Kapolda menambahkan, Indonesia sebelum Idul Fitri lalu sudah mulai terkendali bahkan kehidupan masyarakat mulai berjalan normal. Pemakaian masker juga sudah mulai longgar. Namun, tiba-tiba paska lebaran Idul Fitri masyarakat Indonesia dikejutkan adanya serangan baru yang sangat cepat dan tinggi di Jawa dan Bali/

“Ini menjadi indikasi jika virus ini sama sekali jangan diremehkan dan jangan dimain-mainkan,” ujar Kapolda.

Untuk Kaltim sendiri, Kapolda bersama Panglima Kodam VI kini sedang road show keliling Kaltim hingga ke pelosok, memeriksa dan mengecek keadaan situasi masyarakat serta penanganan yang dilakukan menghadapi pandemi covid-19. Pasalnya, seluruh kabupaten dan kota di provinsi Kaltim semua sudah berada di zona merah.

Menurut Kapolda, adanya serangan dua varian virus di wilayah Kaltim harus ditangani serius. Yaitu dengan bahu membahu bersama pemerintah, seluruh stakeholder hingga masyarakat dengan melakukan tindakan dan sikap penanganan dari hulu ke hilir.

Secara rinci Kapolda Harry Nahak menggambarkan penanganan dari hulu yang dimaksudkan itu adalah pemerintah dan petugas Satgas covid jangan pernah kendor dan lelah melakukan edukasi dan sosialisasi secara terus menerus kepada amsyarakat terkait cara pencegahan serangan virus dengan mematuhi aturan pemerintah, minimal melaksanakan 3 M.

Selanjutnya, koordinasi dan saling mengingatkan antar RT dan masyarakat di pemukiman-pemukiman warga juga harus diajarkan. Tujuannya untuk mendeteksi jika ada warga yang terpapar virus bisa langsung diputus mata rantainya dan dapat fokus menangani dan mengobati sang pasien.

“Jadi warga harus saling tahu keadaan mereka masing masing, dan harus kompak saling melaporkan jika ada indikasi,” demikian imbauan Kapolda Kaltim.

Warga juga harus diedukasi dan dipantau serta diperhatikan. Jika salah satu dari keluarga terindikasi ada yang terinfeksi virus agar dibimbing untuk melakukan isolasi mandiri dengan keluarga mereka. Jika hal ini bisa berjalan, maka pemerintah di tingkat RT bisa memiliki ketahanan yang lebih baik.

Demikan halnya soal budaya vaksin, masyarakat juga harus diedukasi soal kesadaran untuk manfaat vaksin. Mereka harus dimunculkan sikap pedulinya terhadap kebaikan kesehaatan mereka, dengan harus dirangsang untuk melakukan vaksin dengan cara mendaftar dan mendatangi pusat-pusat vaksinasi yang telah ditentukan.

Kapolda Kaltim berterima kasih ke Pemkot Samarinda sebab daerah ini dinilai cukup bagus vaksinasinya terhadap masyarakat. Dari catatan Kapolda, Kota Samarinda dinilai paling cepat pelaksanaan vaksinnya yakni sudah mencapai 70 persen. Hal ini minta dipertahankan dan terus dilakukan vaksisnasi sampai tuntas.

Kapolda mengingatkan, pemerintah dan petugas Satgas covid harus memperhatikan penanganan pasien dan korban yang sudah terpapar covid. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah peralatan penunjang penangnanan korban, ketersediaan ruang rawat atau board dan ICU harus seimbang.

Pasalnya, menurut Harry Nahak, dari informasi medis diperoleh saran bahwa percuma banyak ruang perawatan disediakan jika ruang ICU tidak mengimbangi. Alasannya, sebab informasi medis yang diterima kebanyakan korban covid meninggal itu lantaran pasien sudah sekarat tetapi masih diletakkan di ruang perawatan menunggu antrian korban lain yang masih dirawat di ICU.

“Jadi kalau ruang ICU tidak imbang dengan ruang perawatan, maka sama saja pasien covid itu menunggu kematian, sebab keburu selesai menunggu ruang ICU kosong itu ditangani,” kata Kapolda.

Untuk Kota Samarinda, Kapolda berpesan kepada wali kota harus mempertahankan agar jumlah korban serangan tidak masuk zona 56 persen, sebab pada zona angka persentase itu akan menjadi indikator Samarinda masuk dalam level 4.

Jika sudah masuk level 4, terpaksa upaya PPKM darurat harus diberlakukan. Begitu juga dengan vaksinasi, persentase vaksin ke masyarakat harus mencapai angka 50 persen, jika di bawah itu maka potensi serangan untuk menuju zona 56 persen akan terjadi. #

Wartawan: M Sakir

Comments are closed.