Asal-usul Kota Balikpapan

oleh -
Sumur minyak Mathilda B-1. Menurut sejarahnya sumur minyak ini menandai sejarah kota Balikpapan sebagai kota tambang. Foto: http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/

BERITAKALTIM.CO- Awalnya kota tambang, lalu berkembang menjadi kota industri. Lalu sejarah menyebutkan kota Balikpapan menjadi bagian Perang Dunia II.

Sampai saat ini, Balikpapan masih merupakan satu dari Kabupaten/Kota yang terpenting di Provinsi Kalimantan Timur, baik ditinjau dari sektor ekonomi maupun letak yang strategis serta banyaknya tinggalan arkeologi.

Hal ini dikarenakan Kota Balikpapan memiliki sejarah yang sangat penting dalam perkembangannya. Berawal sebagai kota tambang selanjutnya berkembang menjadi kota industri dan ikut menjadi bagian dalam sejarah Perang Dunia II. Masing-masing tahap perkembangan kota tersebut meninggalkan jejak sejarah yang masih ada sampai saat ini.

Pada tanggal 10 Januari 1897 merupakan tonggak sejarah Kota Balikpapan ditandai dengan menyemburnya minyak bumi pertama di Kota Balikpapan pada pengeboran di sumur Mathilda.

Tanggal 10 Januari kemudian dijadikan sebagai tanggal lahirnya Kota Balikpapan. Penguasaan dan minat terhadap pengelolaan pertambangan secara memadai oleh Belanda melalui perusahaan seperti BPM (Borneo Petroleum Maskapij) terhadap Balikpapan dan sekitarnya membuat daerah ini cepat berkembang.

Balikpapan menjadi pengendali operasional perusahaan-perusahaan Belanda dan sebagai pusat Administrasi perkantoran. Letak dan posisi strategis Kota Balikpapan menyebabkan kota ini menjadi wilayah konflik antar imperialis.
Pada Perang Dunia II kebutuhan logistik bahan bakar minyak membengkak bagi negara-negara yang terlibat perang. Belanda mengembangkan sarana pertahanan Kota Balikpapan secara intensif dengan dibangunnya tempat – tempat perlindungan pada lokasi strategis seperti di sekitar Teluk Balikpapan, Pantai Klandasan, maupun pada bukit – bukit sekitar jalan minyak.

Pada bulan Januari 1942 Jepang merebut Balikpapan dari penguasaan Belanda, tidak lama setelah Jepang berhasil menguasai Tarakan. Upaya Jepang mempertahankan Balikpapan ditandai dengan dibangunnya tempat – tempat pelindungan (bunker) dan penempatan meriam di sekitar Pantai Manggar untuk mengantisipasi serangan balasan dari sekutu.

Selanjutnya pada tahun 1945 wilayah Balikpapan berhasil dibebaskan oleh tentara Australia dengan bantuan sekutu dan diserahkan kembali ke Belanda.

Pembangunan sarana-sarana pertahanan di Balikpapan pada umumnya tidak lepas dari usaha untuk melindungi industri strategis tambang minyak bumi dan industri pengolahan, maupun untuk melindungi karyawan perusahaan dari ancaman perang.

Sisa perang di Balikpapan memiliki nilai yang tinggi dalam sejarah kota maupun sejarah Perang Dunia II yang melibatkan banyak negara di Indonesia. Bangunan, struktur maupun benda sisa Perang Dunia II semakin mendesak untuk dilestarikan seiring dengan perkembangan kota yang berpeluang merusak tinggalan yang ada.

Sejarah Kota Balikpapan tidak bisa dipisahkan dengan minyak yaitu lebih tepatnya dengan sumur minyak Mathilda, sumur pengeboran perdana pada tanggal 10 Februari 1897 di kaki Gunung Komendur di sisi timur Teluk Balikpapan.
Penamaan sumur minyak ini berasal dari nama anak JH Menten. Dari JH Menten dan Firma Samuel & Co sebagai pemenang hak konsesi pengeboran yang ditunjuk pemerintah Hindia Belanda yang telah mengontrak Balikpapan dari Kesultanan Kutai.

Di awal tahun 1900-an bertambahnya jumlah penemuan dan pengeboran minyak di Balikpapan telah membawa pendatang dalam jumlah besar ke Balikpapan.
Pendatang ini kebanyakan adalah orang Cina dan para pekerja pengeboran yang rata-rata berasal dari Jawa dan berbagai daerah lainnya seperti India.
Pekerja dari Cina dan India inilah yang menjadi cikal bakal penghuni desa di Tukung (Klandasan) dan Jumpi (Kampung Baru) yang merupakan asal usul sebagian besar warga Balikpapan.

Selain itu keberadaan minyak, yaitu minyak tanah atau “lantung”, juga mengundang semakin besarnya jumlah pedagang yang datang dari daerah Kerajaan Banjar di Banjarmasin dan Bone di Sulawesi Selatan untuk berdagang dan singgah di Balikpapan.

Seiring dengan berkembangnya waktu Balikpapan telah berkembang menjadi “Kota Minyak” dengan besarnya produksi minyak yang dihasilkan yang mencapai 86 juta barrel per tahun. Perkembangan industri minyak inilah yang telah membangun Balikpapan menjadi kota industri.

Asal usul nama Balikpapan

Kata “Balikpapan” dapat dimasukkan ke dalam asal kata bahasa Melayu. Menurut buku karya F. Valenijn pada tahun 1724, menyebut suatu daerah di hulu sebuah sungai yang berada di Teluk sekitar tiga mil dari pantai, desa itu bernama BILIPAPAN, dan nama tersebut dikaitkan dengan sebuah komunitas pedesaan di teluk yang sekarang dikenal dengan nama Teluk Balikpapan. Terdapat beberapa versi mengenai asal usul nama Balikpapan, antara lain:

Versi Pertama
(Sumber : Buku 90 Tahun Kota Balikpapan yang mengutip buku karya F. Valenijn tahun 1724)

Menurut legenda, asal nama Balikpapan adalah karena sebuah kejadian yang terjadi pada tahun 1739, sewaktu dibawah Pemerintahan Sultan Muhammad Idris dari Kerajaan Kutai, yang memerintahkan kepada pemukim-pemukim di sepanjang Teluk Balikpapan untuk menyumbang bahan bangunan guna pembangunan istana baru di Kutai Lama.

Sumbangan tersebut ditentukan berupa penyerahan sebanyak 1.000 lembar papan yang diikat menjadi sebuah rakit yang dibawa ke Kutai Lama melalui sepanjang pantai. Setibanya di Kutai Lama, ternyata ada 10 keping papan yang kurang (terlepas selama dalam perjalanan) dan hasil dari pencarian menemukan bahwa 10 keping papan tersebut terhanyut dan timbul di suatu tempat yang sekarang bernama “Jenebora”.

Dari peristiwa inilah nama Balikpapan itu diberikan (dalam istilah bahasa Kutai “Baliklah – papan itu” atau papan yang kembali yang tidak mau ikut disumbangkan).

Versi Kedua
(Sumber : Legenda rakyat yang dimuat dalam buku 90 Tahun Kota Balikpapan)

Menurut legenda dari orang-orang suku Pasir Balik atau lazim disebut Suku Pasir Kuleng, maka secara turun menurun telah dihikayatkan tentang asal mula nama “Negeri Balikpapan”.

Orang-orang suku Pasir Balik yang bermukim di sepanjang pantai teluk Balikpapan adalah berasal dari keturunan kakek dan nenek yang bernama ” Kayun Kuleng dan Papan Ayun “.

Oleh keturunannya kampung nelayan yang terletak di Teluk Balikpapan itu diberi nama “Kuleng – Papan” atau artinya “Balik – Papan” (Dalam bahasa Pasir, Kuleng artinya Balik dan Papan artinya Papan) dan diperkirakan nama negeri Balikpapan itu adalah sekitar tahun 1527. #

Penulis bpcbkaltim | sumber http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/