BUMDes Sepenuh Hati di Loa Duri Ilir, dari Sampah Hingga Pot Bunga

oleh -216 Dilihat
Junaidi Banca, Direktur BUMDes Sepenuh Hati Desa Loa Duri Ilir.

BERITAKALTIM.CO- Pemerintah mendorong kreatifitas warga di desa-desa. Salah satunya lewat BUMDes alias Badan Usaha Milik Desa, sebagai salah satu unit pencetak laba sekaligus menyerap tenaga kerja. Begitu pula dengan Desa Loa Duri Ilir, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Di Desa Loa Duri Ilir, berdiri sebuah BUMDes dengan nama “Sepenuh Hati”. Kini unit usaha desa itu dipimpin direkturnya, Junaidi Banca. Belum banyak yang diusahakan. Tapi mereka terus bergerak dengan membaca peluang-peluang bisnis yang mampu dan masuk akal untuk dilakukan.

Salah satu andalan usaha mereka, sementara ini, adalah mengelola sampah. Dari mulai melakukan pengumpulan sampah-sampah rumah tangga dan membawanya ke tempat pembuangan akhir (TPA), sampai dengan mengelola sampah yang masih berguna menjadi punya nilai ekonomis.

Untuk penjemputan sampah rumah tangga setiap rumah, BUMDes Sepenuh Hati menarik iuran Rp10.000 per rumah / bulan. Dari pendapatan itu, digunakan sebagai biaya operasional unit sampah, baik untuk menggaji petugas penjemput sampah, ongkos pengangkutan membeli BBM (Bahan bakar Minyak) serta biaya lainnya yang muncul dalam kegiatan itu.

“Petugas yang memungut iuran disepakati dari tim PKK. Alhamdulilah, puji Tuhan, saat ini yang terlibat dalam unit usaha persampahan ada 65 orang,” kata Junaidi Banca dalam perbincangan dengan wartawan Beritakaltim.co, Sabtu (13/8/2022).

Selain memungut sampah, BUMDes juga memilah-milah sampah yang masih berguna seperti kardus dan plastik. BUMDes hanya pasif sebagai pembeli plastik dan kardus, sedangkan yang mengumpulkan adalah petugas-petugas sampah.

“Kami beli dari petugas sampah yang mengumpulkan. Lalu kami press, karena BUMDes sudah punya mesin pressnya. Setelah kami kumpulkan banyak, per 1 kontiner kami jual ke Surabaya. Sudah ada yang nampung di sana,” cerita Junaidi.

Usaha lainnya, saat ini BUMDes Sepenuh Hati juga membuat pot bunga dari limbah ban. Mereka mendatangi perusahaan-perusahaan untuk meminta ban yang sudah tak terpakai, namun ada juga yang dibeli.

Ban-ban limbah itu kemudian didesain dan dicat menjadi pot yang indah. Menurut Junaidi, peminat yang membeli juga cukup banyak. #

No More Posts Available.

No more pages to load.