BeritaKaltim.Co

Azis Penjaga Apartemen Ikan Kakap Merah Delta Mahakam

BERITAKALTIM.CO- Hari Minggu pagi, 4 September 2022, langit cerah membiru. Sejumlah Wartawan dari Samarinda dan Tenggarong sudah tiba sejak jam 07.30 Wita di Dermaga Sungai Mariam, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Para peliput berita ini diundang oleh PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM). Tujuannya Desa Muara Pantuan, yang terletak di Titik Nol Sungai Mahakam alias ujung muara sungai yang panjangnya hampir 1.000 kilometer itu.

Desa itu menjadi homebase para pemancing yang berlaga di Delta Mahakam. Pada hari itu digelar acara dengan titel; Festival Memancing Mahakam 2022.

Perkampungan nelayan Muara Pantuan, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara. Foto: Charles Siahaan

Ada 14 peserta saja yang ikut perlombaan. Tapi, mereka bukan sekedar para pehobi mancing, tapi kalangan youtuber berbagai daerah. Perusahaan migas PHM punya tujuan mengundang para youtuber, termasuk para Wartawan. PHM ingin memperkenalkan sensasi memancing di Delta Mahakam. Bila perlu sampai viral.

“Kami ingin memperkenalkan lokasi spot memancing di muara sungai mahakam,” tutur Head of Communication Relations & CID Pertamina Hulu Mahakam, Frans Alexander Hukom, saat briefing dengan Wartawan.

PT Pertamina Hulu Mahakam adalah anak perusahaan PHI (Pertamina Hulu Indonesia) di bawah Pertamina (Persero). Perusahaan migas nasional ini menggantikan Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation yang berakhir kontraknya 31 Maret 2017 silam setelah 50 tahun beroperasi di kawasan yang dulu bernama Blok Mahakam.

Meski mengelola ladang minyak berusia tua (mature), tapi PT PHM sebagai operator Zona 8 Regional Kalimantan Subholding Upstream, masih menjadi andalan Indonesia. Pada triwulan kedua tahun 2022 ini produksinya sebesar 26,819 BOPD untuk minyak dan 551.2 MMSCFD untuk gas. Bahkan ini melebihi target program dan budget SKK Migas (Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas) Migas.

***

Dari haluan perahu, tangan Pak Azis memberi isyarat kepada juru mudi yang sedang membawa rombongan Wartawan dan juga para pejabat PT PHM ke lokasi pemancingan di kawasan Delta Mahakam. Perjalanan perahu bermesin ke lokasi memancing sekitar 1 jam.

Haji Azis adalah nelayan yang mempelopori wisata mancing di Delta Mahakam. Dia sosok penting dari proyek wisata desa yang sedang digarap bersama PHM dan pemerintahan desa.

“Kami pasang rumpon. Sudah kami buktikan, ikannya suka di sana. Jadi tinggal dipancing saja,” cerita Azis kepada para Wartawan.

Azis dan kawan-kawan membangun rumpon. Setidaknya ada 40 titik rumpon milik 4 kelompok nelayan yang siap dipanen karena telah menjadi rumah ikan.

Haji Azis, nelayan yang menjadi pelopor kawasan wisata Delta Mahakam. Foto: charles Siahaan

Rumpon di sana dibangun menggunakan besi. Para nelayan menyebutnya dengan bahasa yang tidak lazim; apartemen ikan. Maksudnya tentu sama saja, rumpon adalah tempatnya ikan-ikan kecil dan besar berkumpul, sehingga nelayan atau pemancing tinggal menangkapnya.

Dari dulu tekhnik rumpon alias apartemen ini menjadi andalan para nelayan mencari ikan. Hanya saja, Azis dan kawan-kawannya selama ini menggunakan batang pohon bakau (mangrove), sehingga harus menebangnya dulu dan berakibat rusaknya lingkungan.

Tak mudah mengangkut besi untuk membangun “apartemen ikan” dari daratan ke kawasan perairan laut. Perlu biaya, di sinilah peran PHM melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) memberikan bantuan.

“Hasil tangkapan ikan kami meningkat sejak ada rumpon apartemen ini,” jelas Azis.

Tekhnik membangun rumpon begini. Besi-besi dibenamkan di kawasan laut. Lalu pada besi-besi itu akan memicu tumbuhnya plankton. Di laut, plankton adalah sumber makanan bagi ikan kecil maupun besar.

Ikan-ikan besar kemudian berdatangan ke rumpon mencari makanannya. Pada saat itulah para nelayan bisa memanen dengan cara menangkapnya.

***

Dulu, para nelayan di Desa Muara Pantuan, Desa Sepatin dan sekitarnya menangkap ikan di dekat-dekat rig pengeboran minyak dan gas yang dioperatori PT Pertamina Hulu Mahakam. Ada puluhan rig di kawasan itu, dan ternyata banyak ikan berkumpul sehingga menarik perhatian para nelayan untuk menangkapnya.

Pihak perusahaan, berusaha keras melarang para nelayan mendekati lokasi pengeboran migas. Selain berbahaya dan statusnya sebagai objek vital nasional, keberadaan nelayan mengganggu arus pelayaran kapal-kapal yang keluar masuk kawasan Delta Mahakam menuju Sungai Mahakam.

Tak mudah untuk melarang nelayan menyingkir dari kawasan instalasi pengeboran minyak lepas pantai. Karena sudah menyangkut kebutuhan perut (ekonomi), tak jarang muncul gesekan sosial, sehingga memunculkan hubungan perusahaan-nelayan tidak kondusif.

“Kami sangat beruntung bertemu dengan Pak Azis,” kata Frans Alexander Hukom dari PHM.

Head of Communication Relations & CID Pertamina Hulu Mahakam, Frans Alexander Hukom.

Dari komunikasi intens dengan Pak Azis dan juga para nelayan lainnya, akhirnya muncul solusi membangun ‘apartemen’ ikan alias rumpon. Tidak itu saja, para nelayan kian terbuka minsetnya, bahwa kawasan pantai dan laut tempat mereka mencari nafkah adalah aset luar biasa.

Di kawasan yang disebut dengan nama Delta Mahakam, tak hanya ada kekayaan sumber daya alam minyak dan gas, tapi juga bisa menjadi kawasan wisata.

Pak Azis melihat potensi wisata yang besar sekali dengan mengandalkan alam yang mereka diami. Ada perkampungan nelayan yang bisa diolah menjadi perkampungan eksotik, ada hutan mangrove yang bisa ditata menjadi taman mangrove, selain juga kawasan memancing yang sekarang sedang dipopulerkan ke publik.

“Saat ini kami membutuhkan kapal yang lebih besar, untuk mengangkut pemancing ke kawasan apartemen ikan,” begitu Azis berharap saat bercerita kepada Wartawan.

***

PT Pertamina Hulu Mahakam dengan program CSR-nya memang sudah menjamah kebutuhan dari para nelayan di sana. Berbagai program diluncurkan, seperti melatih emak-emak mengolah makanan dengan basis hasil laut.

Tidak hanya sekedar belajar mengolah makanan, tapi ada juga soal packaging agar bungkusnya menarik dan makanan tahan lama. Juga belajar tentang branding dari cita rasa yang ditonjolkan, misalnya seperti kripik ikan pedas dan lain sebagainya.

Saat Festival Memancing Mahakam 2022 digelar, di Balai Pertemuan Umum Desa Muara Pantuan emak-emak binaan PHM menampilkan produk-produknya. Ada brand petis udang produksi ibu Rohana, ada Abon Udang produksi Hj Hayati.

Ada juga kerupuk ikan buatan ibu Rosnawiah dan Kerupuk Udang Mekar Suriani yang diproduksi Ibu Suriani. Sambal Asli Petis, Keripik Kepiting dan Petis Mercon karena rasanya yang khas pedas.

Produk-produk itu sudah dikemas dengan bagus dan siap dipasarkan. Di situ masih ada peran PHM melalui program CSR-nya untuk menautkan antara tempat produksi hingga pasar konsumen.

PHM juga mulai melengkapi perahu nelayan di sana dengan memasang alat tenaga surya untuk mengatasi kesulitan BBM (Bahan Bakar Minyak) yang menjadi masalah klasik para nelayan. Tidak mudah memulainya, dan sekarang baru ada 4 perahu dalam tahap uji coba.

Soal listrik tenaga matahari, PHM sejak tahun 2018 sudah meluncurkan program bantuan listrik Solar Home Sistem (SHS) di Muara Pegah dan Tani Baru. Kedua desa itu juga berada di kawasan Delta Mahakam, selain Muara Pantuan dan Desa Sepatin.

Produk makanan olahan binaan PT Pertamina Hulu Mahakam. Foto: Charles Siahaan

***

Membentang spanduk di kawasan memancing Delta Mahakam. Foto: Charles Siahaan

Hanya sekitar 2 jam berada di kawasan ‘apartemen ikan’ Delta Mahakam, para pemancing merasakan kail mereka berhasil menggoda ikan-ikan yang berkumpul di sana. Rusdi yang menjadi pemenang lomba, berhasil menangkap puluhan ekor ikan kakap merah.

“Di sini memang banyak kakap merahnya. Kebetulan saja ini belum musimnya. Kalau pas waktunya, pasti panennya lebih banyak lagi,” kata Azis.

Tentu saja selain kakap merah, ada juga jenis ikan laut lainnya, seperti kerapu, bawal.

Hanya Azis yang dan kawan-kawan nelayan yang mengetahui tempat spot memancing yang sudah dipasang rumpon. Mereka tidak mau kawasan yang sudah dibangun menjadi sasaran orang mencari ikan.

Lokasi yang dipilih, sudah menjauh dari rig-rig milik Pertamina yang sedang beroperasi mengebor minyak dan gas. Jauh juga dari alur pelayaran, sehingga tidak lagi mengganggu kapal-kapal yang berlayar, termasuk yang ingin memasuki Sungai Mahakam.

“Kita ingin menata kawasan memancing ini sebagai wisata desa. Para pemancing dikenakan tarif tertentu, termasuk juga fasilitas kapal, umpan dan lain-lainnya,” cerita Azis.

Kesadaran nelayan juga semakin positif. Mereka menyadari bahwa pohon bakau di Delta Mahakam adalah penting fungsinya menjaga pantai, mereka sekarang tak ragu-ragu lagi meluangkan waktu untuk melakukan aksi penanaman kembali.

Kini, Azis, para nelayan dan pemerintahan desa sudah membayangkan, kelak desa mereka menjadi sasaran kunjungan para wisatawan. Tidak hanya datang memancing, tapi menikmati suasana perkampungan nelayan, taman mangrove dan pemandangan lepas pantai dengan sinar dari rig-rig perusahaan.

Tertarik ingin merasakan Delta Mahakam, Pak Azis dan kawan-kawan sudah menyediakan kontak, yaitu Alang dengan nomor telepon seluler; 082155019005. #

 

Comments are closed.