BeritaKaltim.Co

Duka ‘Kanjuruhan’ Belum Terobati

BERITAKALTIM.CO- Tragedi 1 Oktober 2022 di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang Jawa Timur, masih membekas dalam sekali. Bahkan setelah dua bulan berlalu, pilu hati arek-arek Malang dan kawasan sekitarnya tak mudah terobati.

Ungkapan curahan luka hati warga Malang ditumpahkan dengan kata-kata diberbagai spanduk. Mereka memasangnya di dinding-dinding ruang publik, pagar taman kota dan berbagai tempat yang mudah terlihat mata siapa saja yang melewatinya.

“Gas Air Mata Dibalas Air Mata Ibu”, begitu salah satu kalimat spanduk dan corat-coretan yang terpampang di jalan-jalan Kota Malang hingga Kabupaten Malang. Termasuk juga di Kota Batu dan Stadion Kanjuruhan yang kini masih dipasang police line tidak boleh dimasuki masyarakat umum, karena kasusnya masih ditangani pihak kepolisian.

“Kalau selama ini kita membaca dan mendengar dari media massa peristiwa kanjuruhan, saat ini kami melihat langsung ke stadion kanjuruhan,” ucap Setiabudi, salah satu kontingan PWI Kaltim untuk Porwanas Malang 2022 saat mendatangi stadion Kanjuruhan.

Peristiwa kemanusiaan yang membuat duka masyarakat pecinta sepak bola dunia itu terjadi 1 Oktober 2022. Saat dua kesebelasan, sama-sama dari Provinsi Jawa Timur, Persebaya Surabaya bertanding dengan tuan rumah Arema Football Klub di Stadion Kanjuruhan.

Pertandingan malam hari itu berakhir dengan kemenangan Persebaya 3-2. Namun ketika pertandingan telah berakhir, tanpa diduga peristiwa itu datang. Penonton panik ketika terjadi insiden yang membuat petugas kepolisian menyemprotkan gas air mata untuk menghalau para penonton.

Akibatnya, sebanyak 132 penonton yang notabene adalah aremania meninggal dunia karena tergencet dan terinjak-injak lautan manusia yang rebutan ingin keluar dari stadion.

Pemerintah Indonesia berduka, FIFA berduka, dan seluruh pecinta sepakbola di seluruh dunia menyampaikan kepedihan hati yang sama. Mereka berdoa agar tragedi itu yang terakhir kali dan tidak akan terjadi lagi di stadion-stadion sepakbola sejagat raya.

“Intinya, masyarakat di kota dan kabupaten Malang Jawa Timur menginginkan agar kasus ini diusut tuntas secara transparan. Siapa pihak yang bersalah, harus ada penegakan hukum,” ujar Teguh Suwito, salah seorang penggemar sepakbola yang juga kontingen PWI Kaltim ke Porwanas.

Selama sepekan, 21 hingga 26 November , sekitar 2 ribu wartawan dari seluruh Indonesia berada di kota Malang. Mereka sedang mengikuti Pekan Olahraga Wartawan Nasional, sekaligus menjadi saksi masih mendalamnya luka hati warga kota itu akibat peristiwa menelan korban jiwa itu. Dari tulisan di spanduk-spanduk, terlihat mereka menginginkan pemerintah dan pihak kepolisian mengusut tuntas siapa yang harud diadili akibat peristiwa tersebut. #

Dari Kota Malang Jawa Timur/ Tim BKTV/ melaporkan

Comments are closed.