BeritaKaltim.Co

Kampung Baru Identik dengan Balikpapan

BALIKPAPAN selalu identik dengan nama Kampung Baru, entah sejak kapan nama ini ada. Baik dari asal-usul nama Balikpapan hingga terbentuknya sebuah kampung kecil, yang kemudian menjelma menjadi kampung yang besar.

Disinilah letak pusat Kota Balikpapan Tempo Doeloe, bahkan sebagai pusat perekonomian di masa itu. Kampung Baru berada di sebelah barat Balikpapan, yang sekarang masuk administrasi Kecamatan Balikpapan Barat.

Asal muasal nama Kampung Baru atau siapa nenek moyang dan dari komunitas mana, sangat sulit ditemukan keakuratannya. Sehingga antara fakta, fiksi dan dongeng sangat berdekatan. Itu karena durasi waktu yang sangat lama dan terbatas sekali orang yang yang menaruh kepedulian penulisan sejarah.

Cerita yang berkembang mengenai asal-usul Balikpapan seperti pernah termuat dalam “Kesah Julak Asran” sebelumnya, adalah seputar cerita adanya pengiriman bantuan papan dari kampung Jenebora Balikpapan untuk membangun istana Kesultanan Kutai Ing Martadipura di Kutai Lama. Namun sebagian papan yang dihanyutkan lewat laut itu kembali atau balik ke Jenebora.

Ada juga cerita suku asli daerah di kawasan itu, yaitu komunitas Suku Balik, hingga kedatangan para pelaut Sulawesi yang berlabuh di Teluk Balikpapan untuk berdagang dan lainnya. Saat berlabuh, mereka membalik perahu mereka untuk dijemur dan diperbaiki.

Jika mengikuti perkembangan sejarah yang tertulis, Kampung Baru yang identik dengan cikal bakal Balikpapan dimulai dengan berdatangannya orang Sulawesi ke kawasan pantai Kalimantan. Orang-orang dari Sulawesi hijrah meninggalkan kampungnya karena adanya perang dan menghancurkan kerajaan Goa Tallo.

Peristiwa politik waktu itu dipercaya karena adu domba yang dilakukan Belanda. Raja Bone yakni Aru Palaka terpengaruh oleh adu domba Belanda untuk bersekutu dengan VOC. Menghancurkan Makassar. Kemudian Kerajaan Goa Tallo mengakui kekalahan setelah bertahun-tahun berperang.

Dengan pengakuan kekalahan itu, Kolonial membuat perjanjian Bungaya, tentang pembagian wilayah kekuasaan antara Kerajaan Goa Tallo dan VOC, Perjanjian ini ditandatangani oleh Sultan Hasanuddin pada 18 November 1667, setelah Sultan mengakui kekalahannya.

Dalam perjanjian ada 30 item yang harus dipatuhi, diantaranya siapapun yang melakukan kejahatan pada Belanda akan diadili oleh perwakilan Belanda. Seluruh orang Portugis dan Inggris tidak boleh menetap di Makassar, bahkan Pemerintah Makassar juga tidak boleh keluar daerah tanpa izin Kompeni.

Sehingga sejak 21 Januari 1668 Masehi dan bertepatan dengan 5 Syawal 1078 H, orang-orang dari Sulawesi sudah memasuki Pulau Kalimantan (Kaltim) termasuk di Teluk Balikpapan. Sebagian lagi ada yang sampai di kampung yang sekarang berada di Kabupaten Paser. Juga ada yang sampai Samarinda Seberang.

Mereka datang dengan menggunakan perahu pinisi dengan maksud berdagang. Jumlah awalnya hanya beberapa orang, namun karena mulai terkenal untuk tempat persinggahan, pendatang lainnya juga mendaratkan perahunya. Jumlah mereka berkembang pesat setelah menetap dan membentuk perkampungan.

Awalnya tentu kampung kecil, tapi terus mengalami perkembangan seiring perjalanan waktu. Yang dulu adalah kampung kecil menjadi sebuah Kampung Baru, yang artinya adalah kampung yang baru.

Bahkan pada tanggal 21 Januari juga ditetapkan sebagai hari Jadi Samarinda, yang sekarang menjadi ibu kota provinsi Kalimantan Timur.

Kampung Baru terus berkembang hingga wilayah Kebun Sayur sebagai kota tua, dan pusat perekonomian Balikpapan. Kebun Sayur tumbuh berkembang sebagai salah satu pusat perdagangan dan perekonomian Balikpapan pada masa itu, namun berakhir pada tahun 1979, lantaran peristiwa kebakaran besar. #

Naskah: Muhammad Asran

Foto-foto Balikpapan tempo doeloe koleksi Muhammad Asran


Leave A Reply

Your email address will not be published.